Banda Neira

Banda Neira sebuah nama band dan juga pulau Maluku, di bagian timur Indonesia. Ananda Badudu dan Rara Sekar saya temukan ketika browsing Soundcloud beberapa waktu lalu.

Dan lagu-lagu mereka asik juga.

Update: Mereka baru saja rilis album baru 29 Januari 2016 lalu.

 

Terima kasih

Dua kata sederhana namun kadang bisa menjadi berat untuk diucapkan. Hal kecil namun bermakna besar yang luput dari perhatian, misalnya:

  1. Terima kasih untuk penjaga warteg yang mengambilkan makan.
  2. Terima kasih untuk sopir angkot yang karenanya setiap hari kita bisa sampai di kantor untuk melakukan kerjaan.
  3. Terima kasih untuk satpam yang membukakan pintu di kantor.
  4. Terima kasih untuk kurir yang mengantarkan barang sampai ke tempat tujuan.
  5. Terima kasih untuk mbak-mbak laundry.
  6. Terima kasih untuk [insert_yours_here].

Ada seorang kawan di Jogja yang gemar sekali berterima kasih kepada siapapun yang dia anggap telah membantunya bahkan dalam kecil sekalipun. Saya pikir-pikir tak ada ruginya juga untuk sekedar ucapkan terima kasih kepada orang lain. Justru dengan begitu membuat kita lebih memiliki value, bukan?

Nasi Goreng Mbak Sop Karet

Jumat pagi, hari pertama di tahun 2016.

Udara Jogja yang romantis lengkap dengan dengus kereta yang segera berlalu usai mengantar saya hingga Stasiun Tugu. Kuraih ponsel yang dari tadi diam di dalam tas. Memilih-milih nama kemudian menekan tombol warna hijau bergambar gagang telepon.

“Assalamu alaikum, Bang”, sapaku.

“Wa alaikum salam. Lagi di mana, Rif?” Tanya seseorang di ujung sana.

“Aku di stasiun, Bang. Bisa jemput aku sebentar?”

“Oh iya. Tunggu bentar ya.”

Tak lama kemudian Syamsul tiba di parkiran stasiun. Ternyata ia tak sendiri. Bayu, Iqbal dan Fyaz baru saja akan pulang dari acara malam tahun baru semalam jika saja tak kuhubungi Syamsul. Beruntunglah saya dijemput kawan-kawan semasa kuliah ini.

Sehari sebelumnnya Fyaz menanyai apakah saya bisa ikut bergabung pada malam tahun baru. Tentu saja tidak. Malam itu saya masih berada di dalam kereta. Menariknya adalah mereka justru turut menjemput saya di stasiun keesokan harinya.

Dari stasiun kami menuju timur melewati Pasar Kembang. Berhenti sebentar di traffic light, kalau kamu tengok ke arah kanan kamu akan melihat sepanjang jalan Malioboro yang tersohor itu. Entah sudah berapa kali jalan itu di redesign. Belakangan yang saya tahu mereka menaruh pagar besi di antara pedestrian dan jalan utama. Padahal sebelumnya di tempat yang sama ada tanaman-tanaman yang memberikan aksen asri.

Masih perlu waktu kurang-lebih satu jam untuk sampai rumah. Saya putuskan mampir sebentar di asrama Syamsul untuk Subuh sembari Bayu mengartar Fyaz pulang ke rumahnya.

Matahari sudah meninggi namun kabut masih setia selimuti Mendut dengan mesranya. Kutapakkan kaki menyusuri jalan di sebelah utara Candi Mendut usai turun dari bus Cemara Tunggal. Ada yang menarik perhatian saya pada bus itu. Terakhir saya menaikinya barangkali saat masih SMP. Bus itu yang setia mengantar-jemput saya ke sekolah. Nyaris 8 tahun lalu dan kini masih beroperasi lengkap dengan aroma karat pada lempeng-lempeng logam yang membungkusnya.

Karena ini hari anak-anak sekolah masih libur, jadilah rumah ramai oleh saudara-saudara. Libur panjang sekolah dan libur panjang tahun baru menjadi momen yang pas untuk berkumpul.

Jelas saja yang kutanya begitu tiba di rumah adalah keadaan Ibu usai rawat inap selama tiga hari lalu di ‘rumah sehat’. Lega ketika mendengar keadaannya membaik, meski harus kontrol lagi beberapa kali ke depan. Tolong doakan ibu saya lekas sehat kembali, ya!

Ngidam Nasi Goreng

Sejujurnya ambisi ini sudah tertahan berminggu-minggu. Kalau jadi pulang ke rumah, mesti makan nasi goreng Mbak Sop!

Ada dua warung nasi goreng favorit saya di sana. Pertama adalah warung milik Pak Muri. Warung itu dulunya berada persis di depan Gedung Pramuka sebelah barat Pondok Tingal, Borobudur. Kini warung dengan menu andalan nasi goreng itu pindah beberapa meter di sebelah timur Rani Jaya. Kalau kamu kebetulan sedang berada di Borobudur, tanya saja kepada orang-orang di sana di mana itu Rani Jaya.

Yang kedua adalah warung nasi goreng bertajuk Mbak Sop. Warung ini berada persis di sebelah Museum Widayat, sebelah barat Tugu Soekarno-Hatta.

Meski keduanya adalah favorit saya, namun cita rasa mereka tidaklah sama. Secara default nasi goreng Mbak Sop lebih manis dibanding nasi goreng Pak Muri. Dan porsinya pun sedikit lebih banyak. Yang jelas keduanya saya sukai. Kamu mesti mencicipinya saat berada Borobudur.

Taksaka Malam

Orang-orang bergegas keluar dari kantor ketika jam menunjuk 15:00. Hari ini sejumlah kantor di Jakarta memutuskan untuk memulangkan pegawai mereka lebih awal dari hari biasanya.

Sebuah pengumuman yang mengabarkan akan diberlakukan blokade jalan mulai jam 4 sore ini beredar dan sampai pada kuping-kuping kami. Malam perayaan tahun baru, malam yang sesak dan macet.

Seseorang datang kemudian berhenti tepat di depan lobi. Ia tiba sesuai estimasi yang tertera di aplikasi ojek online yang kini tengah naik daun, Go-Jek. Perusahaan penyedia layanan jasa rintisan Nadiem Makarim itu saya rasa amat bermanfaat dan menjadi solusi bagi kendaraan roda empat yang kian membuat ruas jalanan Jakarta terkesan sempit.

Saya berikan IDR 12K sesuai tarif kepadanya begitu tiba di Gambir.

Dua minggu lalu Ibu memberi kabar bahwa beliau mesti rawat inap di rumah sakit. Ada masalah pada ginjalnya sehingga harus mengikuti saran dokter untuk bermalam di dalam kamar yang entah sudah berapa banyak pasien mendiaminya.

Sejujurnya saya tidak suka dengan istilah “rumah sakit”, rumah untuk orang yang sakit. Tidak bisakah ia diganti saja dengan istilah “rumah sehat”, rumah untuk orang yang ingin sehat?

Selasa, 29 Desember lalu, Ibu mulai menginap di sana. Dua hari kemudian dokter memperbolehkannya untuk pulang. Sedangkan saya baru bisa pulang malam ini, malam tahun baru. Malam ini bisa saya saksisan letupan-letupan kembang api dari balik jendela kereta.

Kalau tidak salah ingat, kala itu saya baru berada di tingkat Taman Kanak-kanak ketika nenek membelikan kembang api pertamaku dan bilang “Kamu bakar ini saja (kembang api), jangan bakar petasan”.

Itu pun kembang api tidak saya pegang, tangkai yang terbuat dari kawat itu saya lengkungkan lalu saya gantung dengan apapun yang mampu menahannya agar tetap berada jauh dari tangan ketika terbakar nanti.

Kereta terus melaju sementara pikiran saya terus saja terseret kepada sosok Ibu. Bagaimana keadaannya?

Selama tiga hari lalu bahkan saya tidak ada di sampingnya ketika beliau membutuhkan. Hanya berkali-kali menanyakan progressnya selama ditangani oleh dokter via telepon. Dan perasaan lega sedikit muncul ketika mendengar jawabannya bermakna baik.

Yogyakarta masih beberapa jam lagi. Kaca jendela benar-benar gelap. Mungkin kereta tengah memasuki kawasan hutan.

*) Taksaka, menjelang dini hari di penghujung 2015

Akar dan Cabang

Akan selalu menjadi hal menarik bagi saya untuk mengetahui posisi kita di antara hal-hal lainya.

Dan menjadi kegelian sendiri bagi saya ketika memikirkan bangsa-bangsa yang saling berperang dan membunuh. Katakan saja Indonesia dan Malaysia. Kau sendiri tahu bagaimana isu kedua negara yang kerap berselisih ini. Masalah batas negara dan budaya bisa menjadi penyulut api pertempuran.

Padahal, secara fisik dan budaya saja kita nyaris serupa. Di antara keduanya membentang selat yang kemudian kita sepakati sebagai batas negara. Hanya karena batas laut itu sehingga kita setuju bahwa kita bangsa yang berbeda? Kamu bahkan mungkin saja berpikir nenek-moyang keduanya berasal dari orang yang sama. Bagaimana mungkin bisa sebegitu kekeuhnya dengan ke-punya-an-ku itu.

Korea Utara dan Korea Selatan. Bahkan dari nama saja bisa kamu simpulkan mereka adalah sama-sama Korea. Saya tidak tahu secara persis permasalahan apa di antara mereka, yang terjadi adalah kedua negara itu juga sempat bersitegang.

Pernah kebayang ngga, kamu berebut sebuah mainan dengan adikmu sendiri. Kamu dan adikmu saling ingin memiliki sesuatu yang kalian perebutkan hingga kalian tega saling menyakiti; memukul, menjitak, menendang.

Begitulah bangsa-bangsa yang saling bertempur itu. Atau setidaknya bangsa yang menjajah bangsa lain. Itu seperti kamu ingin memiliki apa yang adikmu miliki dengan paksa. Kemungkinan yang terjadi adalah adikmu mempertahankan yang ia miliki atau lebih parahnya ia akan melawan.

Dan bisa saja ada sejuta alasan untuk membenarkan tindakan penjajahan mereka terhadap bangsa lain. Wilayah, kekuasan, kejayaan dan kepercayaan terhadap suatu agama bisa jadi menjadi iming-iming yang menggiurkan.

Israel dan Palestina misalnya. Dua negara yang tak kunjung usai berperang.

Memang menjadi suatu kemakluman ketika kita bica soal manusia dan ‘nafsu’nya. Sebagaimana yang kita sadari bahwa ‘nafsu’ ada sepaket dengan lahirnya manusia itu sendiri. Setiap orang memiliki ‘nafsu’? Benar.

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bisa tidaknya kita sebagai manusia mengendalikan ‘nafsu’ itu.

Dari cerita lampau, yang terjadi antara Habil dan Qubil juga karena adanya ‘nafsu’. Salah seorang di antara keduanya memaksakan kehendak terhadap yang lainnya. Imbasnya adalah sebagaimana yang kita tahu, peristiwa pembunuhan manusia pertama di bumi.

Kalau kita tarik garis ke atas

Ismail dan Ishaq, dua orang yang merupakan putra Ibrahim, kelak dari keduanya terbentuk bangsa-bangsa yang besar. Dari keduanya pula kemudian Islam, Yahudi, Kristen dan nama-nama lain, timbul sekat-sekat di antaranya. Ada misunderstanding atau pembelokan pemahaman di sini, saya kira.

Memang, tentang masalah ini saya belum memiliki cukup argumen bila ada di antara kalian yang ingn menyanggah. Setidaknya kita semua tahu bahwa Ibrahim adalah akar dari nabi-nabi yang ada setelahnya.

Well, tidakkah kamu amati bahwa sesungguhnya ketika kamu berebut mainan dengan adikmu hingga adu jotos, ketika suatu bangsa menggempur bangsa lain, ketika sebuah kelompok penganut kepercayaan tertentu menghina yang lain, dari satu akar kita berpangkal.

Lebih jauh lagi, kita sama-sama keturunan Adam!

Kuat tapi lemah

Saya masih kepikiran kejadian di depan Binus Syahdan kemarin petang. Bagaimana manusia dengan mudahnya tersulut emosi hanya karena hal yang sepele. Sejujurnya saya amat kesal dengan pengendara sepeda motor itu. Begitu sok jagoan.

Let me tell the story.

Sebuah taxi tak sengaja membuat sebuah sepeda motor tumbang di sampingnya. Saat itu macet agak parah. Taxi itu nyaris tak dapat bergerak bila sejumlah sepeda motor di sekitar tak menyingkir. Sialnya sepeda motor itu menyenggol bumper belakang taxi yang berimbas pada amarah. Bahkan saya yakin si sopir taxi benar-benar tak ada niat menjatuhkan. Kalau kamu ada di sana waktu itu, mungkin juga akan sangat sebal dengan macetnya. Tapi ia kelewat batas.

Amarah manusiawi pun keluar. Ia hantam kaca jendela mobil berkali-kali memaksa sopir segera keluar. Ia tarik bajunya dan mengepalkan tangan bersiap melayangkan tinju ke muka sopir. Lihatlah, betapa sopir itu amat ketakutan. Seseorang dengan usia pertengahan 40 barangkali. Sedikit beruban dan wajahnya teduh.

Saya jadi kepikir kalimat lama, orang yang kuat bukanlah orang yang mampu menjatuhkan lawan dengan pukulan. Orang yang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya.