Ketika jalur alternatif menjadi pilihan utama dan dicari banyak orang, maka semua tumpah ruah memadati jalur alternatif. Akibatnya, jalur alternatif menjadi lebih macet dari jalur utama. Karena semua orang berpikir sama untuk melalui jalur alternatif agar terhindar dari macet.

Sementara yang terjadi adalah perkiraan tidak selamanya tepat.

Ini sering kali terjadi dalam pilihan-pilihan hidup.

Menjadi Expert

Seorang founder salah satu media sosial di Indonesia pernah berdiskusi pada satu kesempatan. Ia mengungkap bagaimana untuk bisa naik ke tingkat expert. Ada empat poin utama yang ia sampaikan.

  1. Belajar Karena Cinta
    Ini hal mendasar. Akan lebih berkesan ketika kamu berbuat sesuatu karena keinginan diri kamu sendiri dibanding karena orang lain. Berlaku juga pada hal yang kamu pelajari.
  2. Belajar 1000 Jam Lebih
    Jangan pernah puas dengan ilmu yang kamu dapat saat ini. Cobalah hal-hal baru. Teknologi berkembang pesat. Bahasa bahasa baru bermunculan dan itu bisa menjadi sangat menarik jika cinta sudah kamu tanamkan di hati untuk mempelajarinya.
  3. Belajar Dari Senior
    Perhatikan dan pelajari bagaimana mereka belajar dan berusaha untuk mencapai titik expert.
  4. Cari Teman Diskusi
    Setidaknya ada yang memberi masukan atau menampung uneg-uneg ketika ide kamu ingin terealisasi.

 

Zona Nyaman

Pernah saya berpikir, kenapa tidak lebih lama saja saya berada pada posisi dan rutinitas yang sudah diterima oleh jiwa dan raga dengan predikat nyaman?

Tapi kemudian saya berpikir, saya perlu berkembang dan tidak mungkin saya stack pada satu posisi nyaman. Kondisi dimana kamu merasa puas dan nyaman itu justru dapat membunuhmu, terkadang. Karena dengan begitu kamu tidak lagi bergairah untuk mencoba tantangan baru atau sekedar ingin tahu ada apa diluar lingkar nyamanmu.

Sederhana, Jogja itu nyaman. Setidaknya begitu bagi saya saat ini. Bahkan saya bermimpi untuk memiliki rumah di salah satu sudutnya. Keadaan ini bisa menjadi penghalang saya untuk mencicipi kota lain bila saya tidak mencoba mengalahkan zona nyaman saya terhadap Jogja. Atau jika saya tidak mencoba membuka pikiran bahwa kota lain bisa jadi lebih nyaman.

Well, saya kira selagi masih ada tenaga dan pikiran yang potensial, keluar dari zona nyaman itu harus.

Buat Yang Bisa Dijual

Mulai berpikir untuk membuat apa yang bisa dijual.

Bukan lagi, menjual apa yang bisa dibuat.

Tiba-tiba kalimat itu muncul dari kepala ketika jalan-jalan di kawasan kos daerah sekitar Condongcatur sore ini. Banyak bangunan baru mulai berdiri dan kebanyakan adalah kos. Para pemilik kos itu barangkali sudah sadar benar potensi wilayah mereka yang dekat kampus.

Artinya, mengamati kebutuhan pasar adalah langkah awal saya untuk memulai target tahun ini.

Kilas Balik 2013

Selalu ada cerita berbeda disetiap tahunnya. Empat tahun lalu saya targetkan tahun ini harus sudah bebas materi kuliah dan lulus. Entah itu lulus bulan apa yang jelas tahun ini mesti lulus.

Target itu tercapai.

Oh ya, tahun ini juga saya mulai stay di sebuah perusahaan web hosting pada bagian development. Saya banyak belajar disini terutama pelajaran yang tidak diajarkan di kampus. Ketika kamu mulai asik dengan duniamu sendiri, belajar teori dari buku maupun internet, sebuah pelajaran praktik interaksi dengan banyak orang akan jadi hal yang lebih penting. Anggap saja saat ini saya belajar sambil dibayar.

Bagaimana dengan skripsi? Sempat menemui titik paling malas. Bahkan selama satu semester kartu bimbingan saya masih bersih dari tanda tangan dosen pembimbing. Stuck. Tidak ada ide sama sekali waktu itu.

Hingga akhirnya saya tergugah untuk segera menyelesaikannya. Mengingat orangtua dan dukungan orang-orang terdekat membuat saya bangkit dan melawan rasa malas. Meski tetap saja dukungan itu tidak membuat saya lantas menyelesaikan lembar-lembar kosong. Setidaknya, membuat saya bersemangat untuk belajar dan mencari referensi lebih banyak.

Kamu mesti yakin jika ada kemauan pasti ada jalan. Naskah selesai dan Ramadhan ini saya sidang. Yang paling asik lagi, sidang skripsi itu tidak seseram yang dikatakan orang-orang. Serius. Idealnya, itu skripsi kamu yang buat dan sudah tentu kamu tahu permasalahan dan solusi yang kamu tulis. Anggap saja penguji itu klien yang harus kamu yakinkan bahwa produk yang kamu buat itu bagus. Dan terimakasih untuk semua yang terlibat dalam penyusunan skripsi saya hingga mendapat nilai sangat maksimal.

Oktober tahun ini akhirnya saya wisuda. Dan… saya benar-benar merasakan euforia itu! Ah, begini ini ternyata rasanya.

Ada dua hal yang berkecamuk dalam diri hari itu. Pertama bahwa saya sangat bahagia telah lulus sesuai target. Kedua, bahwa saya kini bukan lagi mahasiswa dan tanggung jawab itu semakin besar. Kamu tahu, ketika bisa membiayai kuliah dan kebutuhan sendiri saat masih kuliah itu sedikit membuat bangga. Kemudian itu akan menjadi hal wajar ketika kamu sudah lulus kuliah. But, life must go on.

Soal finansial, sedikit demi sedikit lah. Ada beberapa target tahun ini yang berlum teralisasi. Saya ingin kolaborasi dengan teman untuk jualan di beberapa marketplace.

Asmara? Kata Iwan Fals, “Tak mudah, tak gampang dan tak secengeng yang kukira” #ihik

Ada lagi yang tahun ini tercapai. Sebuah rumah yang Ibu bangun berdiri dibangunan lama. Rumah ini akan jadi tempat Ibu habiskan masa tua bersama anak cucunya kelak.

Well, tahun 2013 selesai. Buka lembaran baru di 2014. Sampai jumpa.

Seimbangkan Pola Makan, Kerja dan Tidur

Mengingat bahwa kekuatan fisik kita tidak tak terbatas. Mengingat bahwa kesehatan adalah aset berharga kita.

Dua hari yang lalu saya membaca berita seorang copywriter meninggal beberapa saat setelah nge-tweet  “30 hours of working and still going strooong.”

Terlepas dari alasan-alasan kenapa itu terjadi, yang ada sekarang adalah atur waktu dengan baik. Seimbangkan pola makan, kerja dan tidur. Setidaknya itu yang saya lakukan mulai saat ini mengingat pola yang sebelumnya berantakan.

Seberapa Taat

Kalau kita cermati, aturan-aturan yang dibuat itu adalah hal-hal yang tidak kita sukai.

Orang-orang pada dasarnya tidak senang berpuasa juga sholat dan apapun itu yang diperintahkan Tuhan.

Buat apa Tuhan memperintahkan untuk melakukan yang hal kita sukai, jika dengan senang hati mau melakukannya. Karena Tuhan melihat esensinya: seberapa taat kita bersedia ikhlas menjalankan perintahnya.

Tentang Ke-Jogja-an Jogja

Akhir-akhir ini pembangunan gedung bertingkat di Jogja makin banyak. Gedung-gedung baru yang entah untuk apa bermunculan  memberi warna lansekap berbeda dari sebelumnya. Bisa jadi itu akan jadi pusat perbelanjaan, perkantoran, perhotelan atau semacamnya.

Keheterogenan sangat kental di kota ini mengingat ribuan pelajar dan pekerja dari berbagai penjuru ada disini. Mereka memberi pengaruh pada perkembangan kota ini dengan membawa budaya asal masing-masing. Budaya desa dan budaya kota.

Mereka yang membawa budaya desa dengan bergaya hidup sederhana, ramah menyapa akan memberi kekuatan lebih untuk menjaga ke-jogja-an Jogja.

Saya khawatir pada

Mereka yang datang dengan membawa budaya barat lebih dominan membuat pergeseran gaya hidup sederhana menjadi konsumtif. Jika gedung-gedung yang baru dan akan dibangun bertujuan untuk hal itu, saya khawatir Jogja menjadi kota metropolitan yang kehilangan ke-jogja-annya.