Ziarah

Ramadhan tahun ini hampir selesai. Itu berarti saya mesti ziarah ke makam nenek dan kakek sebelum Idul Fitri. Membersihkannya dari rumput-rumput liar serta mendoakan mereka agar tenang disana. Sudah  lama saya tidak ke makam. Awal ramadhan ini saya masih ada kegiatan kuliah sampai seminggu sebelum lebaran. Dan pasti banyak sekali rumput liar yang tidak saya cabuti di makam mereka.

Tahun ini adalah Ramadhan pertama tanpa nenek. Nenek meninggal 4 hari setelah kami melakukan sholat Ied. Sebelumnya dirawat  di rumah sakit karena keadaannya semakin menurun. Lemah. Sedangkan kakek pergi beberapa hari sebelum Ramadhan tahun lalu.

 

Makam Mbah Putri

Makam Mbah Putri

 

Makam Mbah Kakung

Makam Mbah Kakung

 

Well, semua yang bernyawa pasti mati. Saya ingat betul kalimat itu. Tidak terkecuali kita, manusia. Soal umur manusia tidak pernah bisa mengira bakal bertahan sampai kapan. Tapi setidaknya berusahalah untuk berbuat sebaik mungkin. Itu yang selalu diajarkan nenek semasa hidupnya.

“Ojo nganti lali sholat.”

Tiap malam nenek sholat dilanjutkan mengaji. Kebiasaan itu sudah saya saksikan sejak saya umur 5 tahun. Ah, bukan, mungkin bahkan sebelumnya. Dan bacaan Yaa Siin kakek saya terlantun usai sholat maghrib.

Keduanya inspirasi bagi saya. Keduanya adalah orang-orang hebat. Dan sore ini saya hadiahkan Yaa Siin buat mereka berdua. Kubersihkan makamnya dan kutanam batang kemuning. Maafkan kesalahan cucumu ini, selamat Idul Fitri Nek, Kek.

1 Comment

Add yours →

  1. Kedua kakek-nenek Mas Arif pasti orang yang luar biasa. Saya yakin itu. 😐

    Saya turut mendoakan semoga mereka diberi ruang yang lapang di kuburnya. Aamiin!

Leave a Reply