Malam senin, tangan agak pegal karena siang tadi ikut bantu membuat sumur di belakang rumah. Ditemani segelas teh hangat, jari-jariku berjoget di atas keyboard.

Masih teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat nonton rapat Pansus Angket Kasus Century. Wakil rakyatnya ‘hebat’. Lihat saja adu mulut yang terjadi antara anggota Partai Demokrat Ruhut Sitompul dan anggota Partai PDIP Gayus Lumbuun. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan kualitasnya sebagai wakil rakyat. Bahkan Ruhut Sitompul dengan santainya di dalam rapat dan di depan media massa memaki Gayus Lumbuun dengan kata “bangsat”.

Apapun yang pada waktu itu diperdebatkan, saya rasa semua orang setuju bahwa kata-kata kotor sangatlah tidak sepantasnya dikeluarkan dalam rapat anggta dewan (terhomat).

Pantaslah presiden keempat almarhum Abdurahman Wahid beberapa tahun silam yang menyebut anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai taman kanak-kanak, bahkan beliau menyebutnya play group yang tingkatannya lebih rendah dari taman kanak-kanak.

Inilah imbas dari diangkatnya wakil rakyat yang hanya mementingkan kepopularitasan saja dan itu yang terjadi pada Pemilu tahun 2009 kemarin. Banyak dari selebriti yang menjadi calon anggota dewan. Hanya mementingkan suara tanpa mementingkan kualitas calon anggota dewan. Sepertinya perlu diadakan sekolah khusus wakil rakyat agar mereka benar-benar berkualitas.

Jogja
21:52