Ujian Nasional, Bergunakah?

Hasil ujian nasional (UN) SMA yang diumumkan hari senin, 26 april 2010 kemarin mengejutkan banyak pihak. Bagaimana tidak, banyak siswa yang gagal menempuh UN tahun ini dan harus mengulang pada bulan Mei mendatang. Tidak hanya di satu daerah tertentu, namun merata hampir ke seluruh pelosok tanah air.

ujian nasional

Berita di TV dan koran sedang booming-nya kabar ini. Hal ini memang sangat memprihatinkan sekali. Dari okezone.com dikabarkan bahwa sebanyak 25.115 siswa peserta Ujian Nasional (UN) SMA/SMK se-Jateng dinyatakan tidak lulus. Mereka merupakan 8,16% dari total peserta UN yang mencapai 307.918 siswa.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jateng, angka ketidaklulusan UN SMA dan MA 2010 sebesar 8,51% ternyata mengalami penurunan dibandingkan dengan persentase ketidak kelulusan 2009 sebesar 4,45% dan tahun 2008 sebesar 7,36%. Demikian pula dengan angka ketidaklulusan UN SMK 2010 sebesar 7,68% ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan persentase kelulusan 2009 yang hanya sebesar 5,64%. Namun, meningkat daripada persentase kelulusan 2008 sebesar 8,07%.

penurunan tingkat kelulusan UN dari 93,74 persen di tahun 2009 menjadi 89,88 persen pada tahun ini sungguh mencengangkan. Pertama, karena kinerja pengawasan pemerintah lebih baik dari sebelumnya. Sehingga berpengaruh terhadap turunnya angka kelulusan yang pada tahun sebelumnya banyak diwarnai kecurangan. Saya sendiri menyaksikan berbagai kecurangan itu karena saya adalah salah satu peserta UN tahun 2009.

Kemungkinan kedua, penurunan angka kelulusan UN disebabkan oleh belum sesuainya materi UN dengan konteks pengajaran di sekolah. Berarti ada kesenjangan antara materi yang diujikan dengan materi yang diajarkan. Konteks pengajaran di sekolah ini terkait erat dengan masalah mutu di setiap sekolah yang kita tahu persis berbeda-beda keadaannya. NTB dengan DKI Jakarta tentu berbeda, begitupun Yogyakarta dengan Irian Barat.

Saya pikir ini adalah satu dilema. Satu sisi Indonesia butuh standar mutu pendidikan namun di sisi lain taraf kemampuan tiap-tiap daerah berbeda. materi UN yang sama mestinya diterapkan kepada sekolah dengan standar mutu yang sama pula. Faktanya, mutu sekolah tidak semuanya memenuhi standar, sementara materi UN sama semua.

Bagi saya bagaimanapun juga standar mutu pendidikan haruslah tetap ada. UN boleh tetap ada namun ada pekerjaan rumah bagi kita semua (pemerintah, sekolah, orangtua, murid dan lingkungan) untuk turut mendukung pendidikan bangsa kita.

Siswa untuk lebih meningkatkan belajarnya. Guru lebih baik dalam mengajar, mungkin metode yang digunakan selama ini belum cukup baik. Pemerintah juga lebih baik. Orangtua juga harus memberi dukungan yang lebih baik. Jangan sampai ada kejadian jawaban bocor sehingga terjadi jual-beli jawaban.

— April 28, 2010

Crafted from Borobudur with a cup of by Arif Riyanto