Sejak saya duduk di bangku Taman Kanak-kanak, Candi Mendut itu saya anggap sebagai taman milik sendiri. Akar-akar beringin di selatan Candi yang menjuntai ke bawah itu sering saya gantungi. Bayangkanlah saya bergelayut dengan menirukan gaya Tarzan yang saya saksikan di TV lengkap dengan aaauuuooo-nya.

Ketika saya duduk di bangku SD, nyaris tiap jam pelajaran Olah Raga, area lapang di sekitar Candi Mendut kami jadikan lapangan sepak bola atau kasti.

Hal serupa juga kami lakukan ketika jam sekolah usai atau hari libur. Bermain sepak bola di “lapangan candi” itu adalah hal biasa yang kami lakukan tanpa permisi kepada petugas penjaga.

Satu hari saya ajak saudara  masuk ke area Candi Mendut. Berasa taman milik sendiri saya pun bebas melakukanya. Saat itu saya sudah lama tidak bermain di sana. Sekitar kelas 1 atau 2 SMA. Seorang penjaga memanggil dan meminta kami masuk ke pos ketika kami akan memanjat tangga Candi. Aih, ada apa, pikirku.

Dapatlah kami ceramah dari Pak Satpam sementara para pedagang sekitar, yang kebanyakan adalah saudara saya, menyaksikannya. Intinya Pak Satpam masih mengizinkan kami bermain di sana. Tapi, setidaknya mintalah izin terlebih dahulu. Malu? Pasti.

Belakangan kejadian itu memberi saya pelajaran. Sesuatu yang sudah sejak lama saya anggap itu adalah milik saya, bisa jadi itu bukan sepenuhnya milik saya. Hal ini juga berlaku untuk anggapan-anggapan lainnya dalam hidup ini. Itu bukan sepenuhnya milikmu. Bisa jadi.