Tafakur

Sebenarnya kemana saja kamu selama ini? Aku tunggu kamu didepan rumah tapi kamu tak pernah datang. Aku bahkan berkeliling siapa tau kamu datang lewat pintu belakang. Namun tak juga aku jumpai batang hidungmu. Rumah kita sekarang makin sepi. Orang-orang jadi lebih suka tidur di rumah tetangga semenjak kamu pergi. Mereka juga tidak mau lagi membersihkan rumah kita.

O ya, anak-anak ayam yang masih kecil saat kita bersama memberinya makan sekarang sudah punya anak yang lucu-lucu. Dibelakang rumah kini dibuatkan khusus kandang ayam agar tidak masuk rumah seperti waktu itu. Kamu pasti akan tertwa geli jika melihat kelakuan anak-anak ayam itu.

Apa kamu juga masih ingat tentang celengan ayam merah? Aku merasa tidak enak sekali padamu karena memaksakan kehendak untuk membelinya. Waktu itu kamu pecahkan celengan tanah liatku sehingga recehan didalamnya berhampuran keluar. Padahal aku yang memintamu untuk memecahnya, tapi aku juga yang menangisi celenganku pecah. Lalu aku memintamu untuk membelikan yang baru. Aku masih ingat waktu itu adzan dhuhur tengah berkumandang. Aih, aku geli jika ingat kejadian itu.

Sekarang kamu tidak pernah lagi menyiapkan sarapan buatku. Saat akan berangkat kuliah pun kamu tak pernah lagi menyalamiku sambil berpesan untuk berhati-hati dijalan. Ketika aku pulang kamu juga tak lagi terlihat tersenyum padaku. Kau tahu, aku merindukan itu.

Minggu depan aku akan menempuh ujian akhir semester 4. Itu berarti satu tahun lagi aku lulus sarjana. Padahal aku ingin sekali kamu bisa hadir di acara wisuda kelulusanku nanti. Aku ingin menunjukkan hasil didikanmu kepadaku selama ini. Kamu memang tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang tinggi. Namun kamu setara bahkan kebaikanmu melebihi sarjana. Kamu selalu mengajariku untuk berbuat baik kepada semua orang. Kamu mengingatkanku untuk tidak pernah melalaikan shalat. Dan kamu akan selalu tertawa saat kamu melafalkan “Allah” lalu aku mengoreksiknya. “Alloh” belakangnya pakai “O” bukan “A”. Tuhan tetap saja Tuhan, apapun itu namanya tetap hanya tertuju pada satu objek.

Sebentar lagi Ramadhan. Sebelum berangkat, kamu pernah mengungkapkan kepadaku betapa senangnya kamu bisa bertemu kembali dengan bulan suci ini. Disana kamu pasti sedang bersuka cita menyambut Ramadhan tahun ini. Tahun lalu kamu bolos puasa kan? Kamu lemah sekali waktu itu. Seandainya saja aku tetap dirumah menjagamu saat itu, mungkin sore ini aku tak perlu membersihkan makammu.

6 Comments

Add yours →

  1. Minggu depan ujian semester 4, 1 tahun lagi lulus.
    Apa nggak salah mas? 😀
    Kan setahun lagi baru semester 6 😀
    Apa ambil D3? Hihihihi… 😀

  2. Maknanya dalem nih kayanya

  3. Ini tentang Mbahnya ya Mas?

  4. kalo saja Simbah kamu hadirkan dalam fiksi-mu…

Leave a Reply