Lagi-lagi untuk mengambil ijazah aja harus ngeluarkan uang. Bilangnya sih untuk “sumbangan”. Tapi apakah untuk sumbangan saja perlu adanya pemaksaan? Baru tadi pagi aku melihat berita di TV yang kabarnya ada sekolah yang melakukan pungutan liar guna membeli laptop.

Ah, ada-ada saja kasus di dunia pendidikan negara kita ini. Malah seorang anak ditolak masuk SD oleh Kepala Sekolah karena orangtuanya tidak dapat membayar uang pendaftaran dan buku yang hampir bernilai Rp 400rb.

Tidak usah jauh-jauh, sekolahku saja, yang katanya “sekolah sehat” bahkan sampai melakukan tawar-menawar dengan orangtua murid saat pengumuman hasil kelulusan kemarin itu. Malunya lagi, tawar menawar itu dilakukan keras-keras, pake Toa.

Kalau memang untuk sumbangan kenapa sih mesti tawar-menawar kaya gitu? Bukankah sumbangan yang terpenting adalah keikhlasannya?