Beberapa hari yang lalu berita di TV tengah gencar-gencarnya mengabarkan keadaan gunung Merapi yang  dalam status awas. Sampai artikel ini ditulis pun status Merapi masih belum diturunkan dari ‘awas’.  Erupsi terbesar yang terjadi pada Kamis, 4 November 2010, dini hari mengakibatkan sebagian wilayah Magelang dan beberapa wilayah Yogyakarta tertutup abu.

merapi

merapi

Dalam radius 20 km dari puncak Merapi, wilayah Magelang mendapatkan porsi lebih banyak terkena hujan abu dan pasir. Erupsi yang terjadi kamis malam itu memporak-porandakan Megelang. Rumah saya yang berada sekitar 25 km dari puncak Merapi tak luput dari muntahan material itu.

Tragedi Merapi ini tak sedikit memakan korban jiwa. Bahkan, seorang juru kunci ditemukan meninggal dengan posisi bersujud.

Orang-orang mengungsi ke tempat yang lebih aman. Di sekitar rumah saya terdapat beberapa posko pengungsi. Banyak teman-teman mahasiswa yang ikut membantu dengan menjadi relawan.

Tragedi kali ini bukanlah sebuah azab. Saya yakin ini adalah ‘sentilan’ dari Tuhan agar kita lebih berbenah. Kalau ada yang mengatakan  meletusnya Merapi  kali ini dikarenakan akan menghancurkan keraton Yogyakarta , menurut saya tidak. Bukankah jauh sebelum manusia ada, kerajaan ada, peradaban ada, Merapi telah meletus-letus?