Sore ini langit Jogja tidak menitihkan hujan seperti seminggu belakangan ini. Ada sedikit penat dan aku tahu apa yang harus kulakukan; jalan keluar mencari udara yang sebenarnya sudah tidak segar lagi. Tentu saja, jalanan ‘kota pelajar’ kini telah dipenuhi asap knalpot genit kendaraan bermotor.

Kali ini aku tengah berdiri di puncak gedung bercat ungu dekat jalan raya. Ada 2 orang satpam yang sempat melarangku untuk naik. Tapi apalah arti larangan mereka, toh aku bisa terbang tanpa harus susah payah meniti tangga yang dibeberapa bagian sudah retak. Mungkin efek dari gempa yang mengguncang tahun 2006 lalu atau mungkin karena hal lainnya. Masa bodoh. Cukup segar dibandingkan dengan yang aku hirup dijalan baru saja. Namun tetap saja udara disini udah tercemar.

Dari sini aku bisa melihat seluruh kota ini. Sebenarnya tanpa harus naik di gedung ini pun jika aku mau, aku bisa melihat seluruh kota, bahkan yang dipikiranmu sekalipun. Juga yang dipikirkan oleh mahasiswa-mahasiswa di koridor dibawah sana. Ada yang bergerombol membicarakan mata kuliah tadi pagi. Ada yang berduaan lelaki-wanita membahas hal yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kuliah. Dan ada juga yang duduk sendiri membaca buku filsafat bersampul biru tua. Ini kampus ‘informatika’ tapi yang ia baca adalah buku filsafat, apa-apaan ini, pikirku. Sedang yang lainnya asik memainkan laptop dipangkuan masing-masing.

Aku berjalan di tepi gedung. Meniti dan menyeimbangkan berat badanku. Aku harap terpeleset jatuh menimpa sepasang lelaki-wanita itu. Tapi beberapa kali kucoba agar terpeleset tak mau jatuh. Tubuhku melayang di awang-awang seperti kapas, tapi tak terpengaruh oleh hembusan angin. Gravitasi yang kukalahkan. Gravitasi yang kumatikan.

Pernah satu hari di masa kanakku ingin menjadi Superman, terbang di awang-awang. Kini hal itu kualami. Aku tak perlu lagi takut jatuh dan menangis. Atas dan bawah kini bagiku sama saja karena bumi tak bisa lagi menarikku . Aku melayang. Tinggi. Semakin tinggi.

Di pucuk tower gedung itu kudapati seorang berbaju putih dan tengah tersenyum padaku. Kulihat mahasiswa-mahasiswa itu makin kecil, makin tak terlihat. Aku melayang terlalu tinggi rupanya. Oh, fanaku berakhirlah sudah.