Minggu sore yang dingin ditemani secangkir teh hangat. Butir-butir air masih terus saja berjatuhan dari langit sejak siang tadi. Suasana yang asik untuk bersantai.

Syafak.

Saya teringat tentangnya setelah melihat profil dirinya di beranda Facebook. Sudah lama saya tidak menemuinya sejak hari kelulusan lebih dari satu dekade lalu. Oh tunggu, tidak selama itu ding, kami pernah bertemu di rumah Nani malam lebaran beberapa tahun lalu sebelum Tami, Nani dan Ambar memutuskan untuk menikah.  Teman semasa kecil yang memiliki dahi nonong dan tiga tahi lalat yang membentuk sudut siku-siku di pipinya. Jadi, izikan kali ini saya menceritakannya.

Saya pernah sangat berambisi untuk mengalahkannya. Mengalahkan agar tidak ia yang selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Bahkan sejak pertama kali ia mendapatkannya dalam hati saya bertanya, kenapa harus dia? Memang, saat itu ia termasuk siswa yang pintar di kelas kami.

Itu bermula belasan tahun silam ketika kami masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau setingkat Sekolah Dasar (SD). Nyaris tiap pembagian rapor akhir Catur Wulan ia mendapat peringkat pertama dari 21 siswa. Jelas saja itu membuatku iri.

Saya selalu berpikir bahwa kepintarannya itu karena doa-doa yang ia panjatkan. Saragan, kampung tempat tinggalnya, terkenal dengan pondok pesantren. Disana ada banyak orang-orang yang doanya dengan mudah dikabulkan, pikirku waktu itu. Saya coba menyambungkan korelasi antara kampung pesantren dengan peringkat pertama di kelas. Belakangan kupikir-pikir pemikiranku waktu itu membuatku tertawa geli.

Lantas saya tidak ambil diam. Saya belajar lebih giat setelah peringkat pertama berhasil ia ambil. Beberapa kali saya berhasil take over di ujian akhir Catur Wulan. Beberapa kali juga ia berhasil mengambil posisi awalnya kembali. Ia unggul di mata pelajaran berbasis agama. Ia selalu lebih baik dalam menghafal bacaan Al-Quran dan hukum fiqih. Ah, tentu saja ia menang untuk urusan ini.

Saya memang selalu merasa sedang bersaing dengannya. Namun persaingan itu hanya sebatas merebut-dan-memertahankan peringkat di kelas. Ketika jam sekolah usai, kami kembali ke dunia bermain dan bahkan sering menjadi satu tim untuk bersaing dengan tim lain dalam beberapa permainan. Seperti halnya perminan, tak jarang hidup pun menuntut untuk bersaing.

Hanya karena saya merasa harus mengalahkannya, bukan berarti peringkat pertama hanya diisi olehnya. Beberapa nama sempat mengisi posisi pertama diikuti saya lalu dirinya. Atau sebaliknya.

Menjelang ujian kelulusan jam belajar kami lebih intensif. Kami masuk kelas 30 menit lebih awal dari jam normal. Pak Mansyur, guru matematika, memberi pelajaran tambahan setiap hari. Saat jam sekolah selesai, pelajaran tambahan diadakan dirumah  beliau. Jadi, kami akan mengayuh sepeda tidak kurang dari 10 KM untuk dapat mencapai target lulus dengan nilai baik.

Ambisi untuk megalalahkannya semakin menggebu. Hingga sampai saat Ujian Kelulusan berhasil kami lalui dan voila ia berada dibawah peringkatku. Meski bukan berarti saya yang pertama namun setidaknya cukup puas dengan kemenangan di akhir masa Sekolah Dasar. Nisa dan Ana berhasil menduduki peringkat pertama dan kedua. Dua nama yang tak hadir dalam persaingan kami sebelumnya tiba-tiba muncul diakhir pertandingan. Yup, hidup ini memang penuh kejutan.