Satu Cerita pada Satu Subuh

Pagi-pagi benar mereka berangkat menuju tempat pertemuan. Usai sholat Subuh seorang bocah ingusan dan neneknya berjalan melintasi kabut yang membiaskan sorot lampu mobil yang menyalip mereka.

Gema dzikir dari masjid terdengar jelas mengantar keduanya sampai tujuan. Pintu pawon dikunci, lalu mereka melangkah keluar rumah meninggalkan Sang Kakek yang masih pulas mendengkur. Dengan sangat perkasa Sang Nenek menggendong tenggok yang berisi kerupuk, krepek, puyur dan legendar sedangkan si bocah ingusan itu berjalan disebelah kirinya. Suara jangkrik dan katak mengiringi perjalanan mereka.


cerita-satu-subuh

“Nek, kenapa katak dan jangkrik itu bersuara tiap malam? Tiap kita lewat sini?” Tanya bocah itu kepada neneknya.

“ Mereka sedang berdzikir” nenek itu menjawab.

“Mereka juga sholat seperti kita, Nek?” Tanya bocah itu dengan polosnya.

“Mereka sholat, tetapi tidak seperti kita”.

“Ooh, gitu ya” lanjut bocah itu sambil mengangguk-anggungkan kepalanya sesekali menengok ke belakang berharap menyaksikan katak dan jangkrik itu melakukan sholat.

Sampai di pertelon gendongannya ditaruh di bawah pohon beringin, menunggu angkutan yang akan membawa mereka ke tempat pertemuan itu. Sementara itu, lalu-lalang kendaraan memancing keduanya untuk bermain tebak-tebakan.

“Coba tebak, bus apa itu yang sedang berjalan ke sini?” Tanya Sang Nenek.

Dengan berusaha melihat sorot lampu dan suara bus itu lalu si bocah menjawab,

“Gading Indah, Nek”

Begitu seterusnya sampai angkutan yang ditunggu tiba dan membawa mereka sampai tujuan.

 

***

Begitu tiba di tempat pertemuan antara penjual dan pembeli,  sang nenek menaruh tenggok lalu menggelar kain sebagai alas untuk menaruh dagangannya. Hari itu masih gelap dan udara dingin pun seolah menjadi hangat karena semangat mereka untuk menjalani hidup ini. Sementara itu si bocah membantu mengeluarkan isi dalam tenggok .

Meski masih pagi benar namun suasana di tempat itu telah ramai oleh orang-orang yang mengais rejeki atau pun yang ingin mendapatkan sesuatu untuk sarapan anak-anak mereka. Tawar-menawar sudah dimulai. Ada yang memborong dagangan untuk dijual lagi ke warung-warung atau sekolah-sekolah. Ada yang mendorong gerobak bubur ayam, menyediakan untuk mereka yang belum sempat sarapan. Ini yang menyenangkan buat bocah itu, bubur ayam. Namun si bocah harus menahan keinginnya dulu sampai ada pembeli yang membeli dagangan sang nenek.

Orang-orang makin banyak yang datang ke tempat pertemuan itu. Satu pembeli pertama membeli puyursang nenek. Pembeli kedua, ketiga dan seterusnya berdatangan silih berganti seperti sudah ditulis dalam skenario. Legendar, puyur dan krepek yang dibawa sudah terjual separuh.

Matahari sudah bangun dari tidurnya, tempat pertemuan kini menjadi terang benderang. Si bocah merasa lapar begitu pun sang nenek. Keduanya beranjak dari tempat jualan untuk mencari sarapan setelah merapikan dagangannya. Memang setiap pagi mereka tidak sarapan di rumah. Bagaimana mungkin, pagi-pagi benar mereka sudah harus berada di tempat itu agar tidak kehilangan rejeki yang disebarkan oleh Sang Pencipta.

Meraka tiba pada tukang bubur ayam, tapi bukan yang tadi dilihat oleh si bocah. Sarapan selesai lalu meraka kembali ke tempat jualan. Pasar makin ramai. Di sebelah mereka ada pedagang sayur, bumbu dapur dan ikan asin. Semuanya saling melengkapi. Kekeluargaan.

Ketika matahari makin tinggi, bocah itu ngeyup di emperan toko sepeda. Lalu ketika pemilik toko membuka tokonya si bocah itu senang melihat banyak sekali sepeda bagus yang terpajang di sana. Ingin sekali ia bisa memiliki salah satu sepeda itu.

***

Orang-orang makin berjejal. Meluap dari dalam pasar seperti mangkok yang diisi penuh oleh bubur ayam. Tentu saja begitu, hari sudah semakin siang. Toko-toko sudah dibuka. Orang-orang sudah banyak keluar keringat. Waktunya berganti giliran.

Segera nenek membereskan dagangannya dibantu oleh cucu yang baru saja beranjak dari emperan toko sepeda, tempat ia berteduh. Kali ini dagangannya laku banyak, tinggal beberapa bungkus saja yang memang disisakan untuk penjual pakaian di dalam pasar. Penjual sayur, bumbu dapur dan ikan asin yang sejak pagi disitu pun harus berpindah tempat karena tempat dagang mereka disulap menjadi lahan parkir pasar ketika siang menjelang. Mereka belum memiliki tempat dagang permanen.

Sang nenek dan cucu mulai meninggalkan tempatnya. Selalu melepaskan senyum sampai jumpa buat teman-teman mereka yang baik hati itu. Berjalan melewati lorong pasar yang sempit. Berdesakan di dalam kerumunan orang-orang. Tak jarang tubuh kecil cucu pun  hampir jatuh tersenggol pantat-pantat genit para penjual dan pembeli yang mengoceh dengan gaya bahasa yang khas.

Sampai di ujung lorong yang banyak baju dan celana di kanan-kirinya. Ada juga beberapa pedagang tembakau di sebelah kanan agak kebelakang. Aroma keringat, baju baru dan tembakau bercampur aduk di sini. Menciptakan suasanya yang tak akan dijumpai pada rumah-rumah mewah perkotaan.

Pedagang pakaian langganan nenek pun langsung beranjak dari tempatnya begitu tahu nenek sudah datang.Legendar buatan nenek memang menjadi teman makan siang favoritnya. Si penjual tembakau juga kadang-kadang memborong dagangan nenek walaupun tidak setiap hari. Malahan juga kadang tidak membeli dagangan nenek sama sekali  ketika tak ada yang membeli tembakaunya.

Nenek dan pedagang lain di pasar ini memang berteman baik. Kita harus selalu menjalin selaturahmi dengan orang lain agar persaudaraan kita tak pernah putus, kata nenek kepada cucu.

Waktunya kembali ke rumah. Hari ini mereka diberi rizki yang banyak oleh Allah. Ketika sampai di depan penjual tempe, cucu minta kepada nenek untuk membelikannya buat kakek yang berada dirumah. Kakek sudah tidak bisa beraktivitas yang berat lagi sejak jatuh dari sepeda waktu akan memintakan izin anak bungsunya tidak masuk sekolah karena sakit beberapa tahun silam. Dua tahun lebih kakek tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Namun sekarang sudah bisa beraktivitas walaupun tidak berat-berat.

Menuju terminal, beranjak meninggalkan tempat pertemuan. Sampai jumpa kawan-kawan. Subuh yang damai. Subuh yang indah, kata cucu sambil melambaikan tangan.

1 Comment

Add yours →

  1. “..krepek, puyur dan legendar”
    Iki aku durung tau ruh Mas… Makanan daerah mana?

Leave a Reply