Akhirnya ramadan tahun ini bisa benar-benar merasakan romantisnya sahur di rumah dengan ibu. Entah sudah berapa tahun kami tidak berkesempatan seperti tahun ini.

Ketika masih kuliah hingga ramadan tahun lalu saya tinggal di Jogja. Beberapa kali pulang ke rumah tapi tidak sering. Sehingga kesempatan sahur dan buka puasa bersama orangtua pun sangat minim.

Sahur sebagai mahasiswa kost jelas sangat berbeda dengan sahur di rumah. Mesti bangun dan antre di warung makan lebih awal jika tidak ingin keburu imsak. Di sekitar tempat tinggal saya waktu itu ada beberapa warung burjo, yang kebanyakan penjualnya orang Sunda, dan juga warung Padang. Tapi percayalah, menjelang sahur warung-warung itu nyaris tidak menyisakan kursi untuk duduk. Penuh. Sesak.

Saya dan kawan sekost, Gojin, lebih sering memilih untuk bungkus makan sahur. Bisa bikin teh hangat di kost biar lebih murah, kataku.