Masih menjadi trend-kah kirim salam lewat radio di zaman sekarang?

Entah nyata atau hanya sebuah skenario yang dibaca oleh penyiar, tapi masih saja ada segmen kirim-kirim salam dalam acara siaran radio. Bahkan agar SMS dibaca, seseorang mesti mendaftarkan nomor ponselnya terlebih dahulu.

Mendengarkan radio adalah alternatif dari Music Player yang playlist lagunya itu-itu saja. Meski Media Player bisa diset random, tapi ke-random-an yang dipilih oleh penyiar radio bisa menjadi kejutan yang asik saat tahu ternyata itu adalah lagu kesukaanmu.

Aiwa stereo radio cassette recorder

Aiwa stereo radio cassette recorder, radio kecil kedua yang saya miliki.

Sekitar 2003, saat saya mulai masuk SMP, adalah awal mula saya tertarik dengan radio. Bahkan saat itu menjadi sarana request lagu dan kirim salam.

Fian dan Osman adalah dua orang kawan yang saya dapati menggemari Iwan Fals sejak kami bertemu dalam satu kelas di bangku SMP. Kami nyaris hafal semua lagu-lagu Iwan Fals.

Adalah stasiun CBS FM yang waktu itu menjadi pusat perhatian kami setiap jam 8 malam. Penyiar cewek yang suaranya merdu itu bernama… ah saya lupa. Dialah pembaca SMS request lagu dan salam-salam kami di acara Fals Mania. Sejak saat itulah saya benar-benar menggemari Iwan Fals.

Sejujurnya ada sejumlah Compact Disc kumpulan lagu Iwan Fals yang bisa saya putar pada VCD player. Tapi entahlah rasanya lain dengan mendengarkannya dari radio yang disiarkan Mbak itu.

Bukan radio stereo-set yang saya miliki saat itu . Melainkan sebuah radio mini yang ditenagai 2 buah baterai AAA. Tak ada speaker ataupun antena tambahan. Sebuah Walkman kecil, begitu saya menyebutnya. Radio besar yang kami miliki waktu itu ada di kamar kakek. Sayangnya saya tak memiliki akses penuh terhadap radio yang sering menyiarkan wayang itu.

Entah kenapa begitu ada sebuah radio atau tape player ukuran mini seperti itu selalu saya sebut merk pabrikan Sony itu. Padahal merk yang saya punyai itu bukan Sony.

Sama halnya dengan menyebutkan Honda untuk setiap sepeda motor dan Odol untuk semua pasta gigi. Ketiganya adalah merk yang terlanjur melekat dalam benak untuk mewakili barang sejenisnya bagi kebanyakan orang. Mungkin juga denganmu.

Dua tahun kemudian saya jumpai lagi penggemar Iwan Fals di kelas 2 SMP. Tama bahkan lebih sering live telephone dengan si penyiar untuk kirim salam dan meminta lagu. Saya bahkan tak bisa membendung tawa ketika mendengarnya ngobrol dengan si penyiar. Pak Kancil. Begitu nickname yang ia pakai. Entah apa kabarnya sekarang. Terakhir saya temui ramadan tahun lalu.

Hingga saat ini mendengarkan radio tetap tidak membosankan. Asalkan stasiun itu sesuai genre kamu tentunya. Pemilihan lagu yang acak dan konten infomatif dari penyiar adalah teman kerja yang asik bagi saya.

Bagaimana denganmu?