Perihal ikhlas

Barangkali usianya masih 5 tahun. Kaki-kakinya yang kecil bahkan belum ditegakan untuk melangkah memanjat pintu bus yang separuh  dari tinggi badannya itu. Ibunya membantunya masuk lalu duduk di kursi.

“Mama bawa apa?”

“Bawa sesuatu buat teman kamu”

“Siapa?”

“Kamu ga boleh tahu.”

“Kenapa ga boleh tahu?”

“Kalau mama kasih tahu, nanti kamu cari.”

“Siapa sih, ma?”

“Mama bilang ga boleh, kalau beramal ga boleh kasih tahu orang lain.”

“Kenapa?”

“Biar kita bisa ikhlas, jadi ga perlu orang lain yang tahu. Kamu kalau mau beramal juga begitu.”

 

Mendengar percakapan ibu dan anaknya itu dalam hati saya bilang iya juga ya, beberapa kali beramal hanya agar dilihat dan dipuji orang lain. 

Bahkan untuk sekedar sembahyang saja kadang kita lakukan untuk tujuan serupa. Oh, sembah hyang, sembah Sang Hyang, sholat? Apapun kamu menyebutnya.

Barangkali juga beberapa diantara kita ada yang berqurban bulan lalu? Iyakah sungguh berqurban?

Barangkali kita, kamu dan saya, ingin sekali dapat melakukan amal ikhlas seperti yang Ibrahim lakukan.

1 Comment

Add yours →

  1. Tidak pernah terpikirkan saya, akar ‘sembah Sang Hyang’. Asyik ini! 🙂

Leave a Reply