Page 3 of 18

Bagaimana manusia bertahan hidup

Hal paling mendasar bagai manusia untuk bertahan hidup adalah dengan adanya energi di dalam tubuhnya.

Makan adalah cara manusia untuk mempertahankan supply energi tetap terkendali.

Dalam keadaan terdesak kemampuan manusia untuk bertahan hidup bisa menjadi berkali-lipat.

The Martian; sebuah film yang menggambarkan bagaimana manusia bertahan hidup. Sebagaimana juga tergambar dalam film-film lain semacamnya.

Pakaian

Barangkali kita sangat rikuh jika bertemu dengan orang lain dengan mengenakan pakaian yang bahkan kita sendiri kurang percaya diri dengannya. Apakah pantas atau tidak menurut orang yang kita jumpai.

Barangkali kita termasuk orang yang amat care terhadap pakaian bila akan bertemu dengan atasan atau klien. Juga kekasihmu.

Barangkali kita amat peduli dengan komentar orang lain tentang pakaian kita. Atau kita ternyata tidak peduli sama sekali.

Barangkali kita termasuk orang yang amat peduli dengan pakaian yang kita kenakan untuk ibadah; bertemu Tuhan. Ataupun tidak peduli sama sekali.

Jalur Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik

Menjelang maghrib kami tiba di basecamp Desa Butuh. Disambut oleh Ibu Kadus dengan senyum ramah yang menghangatkan ketika kabut petang menyelemuti lereng gunung Sumbing. Kami cek kembali perlengkapan dan bekal menuju puncak. Memastikan semua dalam kendali. Tak lama berselang Ibu Kadus datang dari dapur membawakan untuk kami minuman hangat.

Jam 19.30 usai Isya berjamaah kami mulai menapakkan kaki pada bidang miring berbatu itu. Selangkah demi selangkah merasakan tarikan gravitasi yang mulai memberat. 500 meter pertama adalah sambutan meriah untuk kami. Nafas mulai menderu dan tempo jantung kian cepat.

Istirahat sejenak, atur nafas karena jalan masih panjang. Kami harus pandai-pandai menyelaraskan irama tarikan nafas dan langkah kaki.

Kabar tak sedap mulai muncul di tanjakan awal. Seorang kawan kami, Iphi, mulai kelelahan dan menyatakan tak sanggup lagi. Lihatlah, kedua kakinya tremor seperti tengah menari Aserehe. Kami kembali berhenti dan berdiskusi sebentar. Jalan masih panjang. Sepertinya mustahil jika Iphi ikut melanjutkan. Lantas kami putuskan agar Izen menemani Iphi selagi kami terus melanjutkan pendakian. Sementara itu mereka berjalan pelan-pelan di belakang kami.

FYI, olahraga sebelum melakukan pendakian itu sangat penting. Penting.

Sekitar 1 jam berlalu pos pertama belum juga nampak. Entah sudah berapa kali kami istirahat. Kali ini kami istirahat agak lama sekitar 20 menit. Entah saking capeknya atau bagaimana saya merasakan gempa saat selonjoran di tanah. Hal senada juga diamini oleh kawan-kawan. Belakangan saya ketahui bahwa itu memang gempa yang malam itu terjadi di Gunungkidul.

Perlahan namun pasti kami lanjutkan mendaki. Pos pertama kami temui ketika lama perjalanan nyaris 2 jam. Setelah pos pertama terlewati, tanjakan yang makin yahud menghadang di depan mata. Oh man, barangkali kemiringannya nyaris 45 derajat. Dan itu panjang. Panjang.

Sepanjang tanjakan dari basecamp hingga pos 1 kamu akan disuguhi pemandangan perkebunan wortel, brokoli, tembakau dan sayur-mayur lainnya. Sedangkan pos 1 hingga pos 2 kamu akan memasuki hutan pinus.

Frekuensi istirahat makin rapat. Tenggakan air minum pun kian cepat. 1 jam kemudian kami tiba di pos 2. Lega rasanya setelah selama itu menggunakan gigi 1 pada transmisi kaki-kaki kami. Kini saatnya oper gigi transmisi lebih tinggi.

Jalur dari pos 2 hingga pos 3 adalah bonus. Track yang dilalui lebih banyak landai dan kamu bisa lebih menghemat air minummu. Ada sungai yang membelah jalur pendakian saat musim hujan. Sayangnya sungai itu kering ketika kami lewati kemarin. Sisa-sisa kebakaran awal September dapat kamu lihat sepanjang jalur bonus ini. Menurut Pak Kadus Butuh, kebakaran kali ini adalah kebakaran Sumbing terbesar yang pernah beliau ketahui.

Kami tiba di pos 3 nyaris tengah malam. Rasa lelah mulai mengacaukan konsentrasi kami dalam memijakkan kaki. Lepas pos 3 jalur pendakian mulai menanjak tajam. Melewati sisa-sisa hutan kemudian membentang sabana lengkap dengan embusan angin dinginnya. Sebelah kanan adalah jurang. Perlu kehati-hatian yang ekstra untuk melewati jalur ini. Terlebih pada malam hari. Pada tahap inilah keletihan saya sangat berasa. Hampir saya memutuskan untuk mendirikan tenda di sini. Pencarian Pohon Tunggal yang tak kunjung menuai hasil membuat letih kian letih.

Rombongan terpisah. Yazid, dan 2 kawan yang masih SMK berjalan jauh di depan. Saya di tengah dan Ican serta kawannya tertinggal di belakang. Kemudian saya teringat Iphi. Bagaimana keadaannya? Apakah melanjutkan pendakian atau turun ke basecamp?

Pos 4 akhirnya berhasil saya pijak tepat jam 2 pagi. Sudah ada 1 tenda berdiri di sana. Kami tak lantas mendirikan tenda karena frame-nya ada di carrier Ican. Sedang ia masih tertinggal di belakang. Ia pun sampai pos 4 satu jam kemudian.

Usai sholat Subuh dan sarapan, sekitar jam 7 saya, Yazid, Naja dan seorang kawan lagi mulai mendaki ke puncak. 2 kawan lainnya tinggal di tenda. Dari pos 4 hingga puncak Sejati kami tempuh selama 2 jam. Oh man, akhirnya kami benar-benar sampai di puncak Gunung Sumbing 3371 mdpl. Soal view beh keren. Keren. Tuhan Maha Mendesain.

Kami turun dan sampai di pos 4 jam 11. Tidur sebentar lalu jam 12 persiapan turun gunung. Jam 1 mulai turun menapaki jalur yang tadi malam kami lewati. Sampai basecamp sekitar jam 5 sore.

Well, kapan kamu akan naik ke puncak Sumbing?

Radio

Masih menjadi trend-kah kirim salam lewat radio di zaman sekarang?

Entah nyata atau hanya sebuah skenario yang dibaca oleh penyiar, tapi masih saja ada segmen kirim-kirim salam dalam acara siaran radio. Bahkan agar SMS dibaca, seseorang mesti mendaftarkan nomor ponselnya terlebih dahulu.

Mendengarkan radio adalah alternatif dari Music Player yang playlist lagunya itu-itu saja. Meski Media Player bisa diset random, tapi ke-random-an yang dipilih oleh penyiar radio bisa menjadi kejutan yang asik saat tahu ternyata itu adalah lagu kesukaanmu.

Aiwa stereo radio cassette recorder

Aiwa stereo radio cassette recorder, radio kecil kedua yang saya miliki.

Sekitar 2003, saat saya mulai masuk SMP, adalah awal mula saya tertarik dengan radio. Bahkan saat itu menjadi sarana request lagu dan kirim salam.

Fian dan Osman adalah dua orang kawan yang saya dapati menggemari Iwan Fals sejak kami bertemu dalam satu kelas di bangku SMP. Kami nyaris hafal semua lagu-lagu Iwan Fals.

Adalah stasiun CBS FM yang waktu itu menjadi pusat perhatian kami setiap jam 8 malam. Penyiar cewek yang suaranya merdu itu bernama… ah saya lupa. Dialah pembaca SMS request lagu dan salam-salam kami di acara Fals Mania. Sejak saat itulah saya benar-benar menggemari Iwan Fals.

Sejujurnya ada sejumlah Compact Disc kumpulan lagu Iwan Fals yang bisa saya putar pada VCD player. Tapi entahlah rasanya lain dengan mendengarkannya dari radio yang disiarkan Mbak itu.

Bukan radio stereo-set yang saya miliki saat itu . Melainkan sebuah radio mini yang ditenagai 2 buah baterai AAA. Tak ada speaker ataupun antena tambahan. Sebuah Walkman kecil, begitu saya menyebutnya. Radio besar yang kami miliki waktu itu ada di kamar kakek. Sayangnya saya tak memiliki akses penuh terhadap radio yang sering menyiarkan wayang itu.

Entah kenapa begitu ada sebuah radio atau tape player ukuran mini seperti itu selalu saya sebut merk pabrikan Sony itu. Padahal merk yang saya punyai itu bukan Sony.

Sama halnya dengan menyebutkan Honda untuk setiap sepeda motor dan Odol untuk semua pasta gigi. Ketiganya adalah merk yang terlanjur melekat dalam benak untuk mewakili barang sejenisnya bagi kebanyakan orang. Mungkin juga denganmu.

Dua tahun kemudian saya jumpai lagi penggemar Iwan Fals di kelas 2 SMP. Tama bahkan lebih sering live telephone dengan si penyiar untuk kirim salam dan meminta lagu. Saya bahkan tak bisa membendung tawa ketika mendengarnya ngobrol dengan si penyiar. Pak Kancil. Begitu nickname yang ia pakai. Entah apa kabarnya sekarang. Terakhir saya temui ramadan tahun lalu.

Hingga saat ini mendengarkan radio tetap tidak membosankan. Asalkan stasiun itu sesuai genre kamu tentunya. Pemilihan lagu yang acak dan konten infomatif dari penyiar adalah teman kerja yang asik bagi saya.

Bagaimana denganmu?

Masa aktif

Baru dua hari lalu saya posting tentang aplikasi perpesanan yang saya gunakan. Hari ini ketika ingin menelepon seorang kawan, dari dalam speaker ponsel terdengar suara “Maaf masa aktif pulsa Anda telah habis”.

Oops, benar saja.

Tanggal 13 September lalu adalah batas masa aktif kartu GSM saya. Operator seluler yang saya gunakan hanya memberi batas tenggang selama sebulan. Artinya tanggal 13 bulan depan harus sudah mengisi pulsa jika tidak ingin nomor saya hangus.

Sementara masa aktif kartu saya habis, nominal pulsa selalu masih ada di atas angka yang kalau dipakai untuk telepon masih cukuplah.

Jika saja Indosat memberi masa aktif kartu pelanggannya selama setahun seperti Tri, pasti lebih menyenangkan!

Interstellar

Mungkin sudah ada tiga kali saya menonton film karya Christopher Nolan, Interstellar. Dan selalu saja ketika sedang atau setelah menonton film ini muncul sejumlah pemikiran yang merangkak dalam benak saya.

interstellar

Interstellar

Besarnya semesta

Saya adalah orang yang percaya bahwa semesta tidak tercipta dan ada begitu saja tanpa ada campur tangan yang menciptanya. Soal bagaimana proses terjadinya, orang-orang hanya bisa menebak-nebak. Tapi satu yang saya yakini adalah bahwa ada yang menciptakan ini semua dan pasti Dia memiliki daya kuasa.

Semakin manusia dapat berkelana antar galaksi berarti semakin manusia itu tahu bahwa dunia yang kita huni tidak sebatas bumi saja. Terbayang seberapa besar jagad raya kita? Maksudku, seberapa kecil kita yang berdiri di bumi jika seseorang mengamatimu dari luar angkasa sana?

Lubang hitam itu apa

Saya selalu tertarik untuk mengetahui benda apa ini sebenarnya dan kemana akan membawa seseorang jika ia telah memasukinya?

I have no idea about that. Bahkan bisa jadi para ilmuwan hingga saat ini belum dapat mengetahui benar apa yang ada di dalamnya.

Relativitas waktu

Dalam kitab suci yang saya yakini, disebutkan bahwa Tuhan menciptakan matahari dan bulan sebagai patokan untuk perhitungan waktu. Evolusi bulan terhadap bumi yang menghasilkan hitungan 1 bulan. Perputaran bumi mengelilingi matahari menjadi tanda tahun.

Lalu bagaimana jika seseorang tinggal di luar sistem tata surya ini?

Apakah bulan dan matahari tetap menjadi patokan waktu?

Atau adakah patokan waktu yang lebih besar dari matahari?

Maksudku, matahari pun berevolusi terhadap sesuatu itu. Sehingga saya bayangkan terjadi proses mengelilingi antara bulan terhadap bumi, bumi terhadap matahari, dan matahari terhadap sesuatu yang lebih besar darinya. Sehingga yang terjadi adalah relativitas waktu. Waktu di luar angkasa berjalan lebih lambat dibandingkan dengan waktu di permukaan bumi.

Dan pada akhirnya kita bertanya-tanya dimanakah posisi kita di antara bintang-bintang?

Elo is Featured on WordPress.org

Secara resmi Elo rilis di WordPress.org bulan Mei tahun ini. Kalau saya tidak salah ingat hari ini adalah ketiga kalinya Elo masuk daftar featured on WordPress.

Elo is featured on WordPress

Elo is featured on WordPress

Dan by the way, sampai hari ini Elo telah diunduh sebanyak 7 ribuan kali.

Statistik download Elo pada September 2015

Statistik download Elo pada September 2015

Jadi kepikir untuk bikin WordPress theme gratis lagi. Tunggu theme kedua saya di WordPress.org.

Aplikasi Perpesanan

Saya termasuk orang yang jarang menggunakan SMS. Terlebih ketika Whatsapp dan BBM menjadi trend di kalangan kawan-kawan saya.

screenshot social application iOS

screenshot social application iOS

Untuk hal-hal mendesak biasanya saya akan berbicara langsung melalui telpon. Sementara jika yang akan saya hubungi telah ada di kontak Skype, Whatsapp, BBM dan Messenger, biasanya saya akan menggunakan salah satu dari aplikasi itu.

Ngomong-ngomong, keempat aplikasi yang ada di screenshot itu adalah aplikasi yang paling sering saya gunakan.

Dari dulu sebenarnya saya bukan orang yang menyukai gadget BlackBerry. Tapi sejak kemunculan BBM for Android dan iOS beberapa waktu lalu, aplikasi ini justru yang paling sering saya gunakan untuk komunikasi dengan kawan-kawan.

Tidak Sepenuhnya Kita Miliki

Sejak saya duduk di bangku Taman Kanak-kanak, Candi Mendut itu saya anggap sebagai taman milik sendiri. Akar-akar beringin di selatan Candi yang menjuntai ke bawah itu sering saya gantungi. Bayangkanlah saya bergelayut dengan menirukan gaya Tarzan yang saya saksikan di TV lengkap dengan aaauuuooo-nya.

Ketika saya duduk di bangku SD, nyaris tiap jam pelajaran Olah Raga, area lapang di sekitar Candi Mendut kami jadikan lapangan sepak bola atau kasti.

Hal serupa juga kami lakukan ketika jam sekolah usai atau hari libur. Bermain sepak bola di “lapangan candi” itu adalah hal biasa yang kami lakukan tanpa permisi kepada petugas penjaga.

Satu hari saya ajak saudara  masuk ke area Candi Mendut. Berasa taman milik sendiri saya pun bebas melakukanya. Saat itu saya sudah lama tidak bermain di sana. Sekitar kelas 1 atau 2 SMA. Seorang penjaga memanggil dan meminta kami masuk ke pos ketika kami akan memanjat tangga Candi. Aih, ada apa, pikirku.

Dapatlah kami ceramah dari Pak Satpam sementara para pedagang sekitar, yang kebanyakan adalah saudara saya, menyaksikannya. Intinya Pak Satpam masih mengizinkan kami bermain di sana. Tapi, setidaknya mintalah izin terlebih dahulu. Malu? Pasti.

Belakangan kejadian itu memberi saya pelajaran. Sesuatu yang sudah sejak lama saya anggap itu adalah milik saya, bisa jadi itu bukan sepenuhnya milik saya. Hal ini juga berlaku untuk anggapan-anggapan lainnya dalam hidup ini. Itu bukan sepenuhnya milikmu. Bisa jadi.

Bisa Segalanya?

Akan ada orang-orang yang beranggapan bahwa jika kamu telah lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana itu berarti dapat menyelesaikan setiap permasalahan. Entah kamu itu sarjana ekonomi atau teknik, satu saat kamu bisa saja menemui kasus ini. Dan ketika kamu mendapati kesulitan menyelesaikan masalah itu, mereka dengan mudahnya bilang, masa sudah sarjana menyelesaikan itu saja tidak bisa.

Saya jadi ingat apa yang disampaikan Pak Heri, dosen Aljabar dan Matrik, beberapa tahun lalu.

Bahwa ketika telah lulus dan menyandang sarjana itu bukan hanya pelajaran akademik saja yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika mulai hidup di tengah masyarakat porsi pelajaran etika itu akan selalu lebih besar dari pelajaran akademik dalam penerapannya. Karena kamu sarjana, orang-orang menganggap kamu bisa melakukan segalanya.