bukit

Pagi ini dia awali dengan senyuman. Dia langkahkan kaki dengan penuh kepastian menuju tempat yang sudah di janjikan. Kali ini rambutnya dibiarkan tergerai, bertopi. Kaos oblong warna putih, celana panjang dan sepatu putih bertuliskan “All Star”.

Dia datang 15 menit lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Ada sedikit keringat di sekitar dahi dan lehernya. Meskipun masih jam 8 tapi udara pagi ini memang agak panas.

“Hei, udah lama?” Katanya.

“Belum. Aku juga baru sampai”

Tasnya diletakkan lalu dia duduk disebelahku. Sebelah kiriku. Dia keluarkan sebuah buku gambar ukuran A4. Memang tak seperti biasanya, kali ini dia lebih banyak diam. Perlahan mulai goreskan pensilnya di atas kertas. Ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan padaku dari hasil goresan itu nantinya.

Sementara itu aku beranjak naik ke  pohon untuk memetik rambutan.

“Kenapa ga digambar di rumah aja sih?” Tanyaku.

“Ga dapat inspirasi di rumah.” Jawabnya.

Beberapa waktu berlalu dan gambarnya sudah bisa dilihat.

“Gimana?” Tanyanya.

“Ok, tadinya aku juga punya konsep seprti ini.” Jawabku.

“Yang bener?? Kamu sih sukanya ikut-ikutan.” Katanya sambil tertawa.

“Iya. Nih kalau ga percaya.” Jawabku sambil menunjukkannya.

Matahari sudah tinggi. Sisa-sisa embun pun sudah tak ada sama sekali. Dia geletakkan tubuhnya di atas rerumputan. Dia pandangi langit.

***

Usai menyantap habis semua rambutan yang aku petik tadi, kami bersihkan  tempat ‘tongkrongan’ yang sering aku datangi saat butuh ketenangan itu. Kubereskan barang-barangku lalu mengajaknya turun dari atas bukit. Matahari sudah menyengat namun udara masih lumayan dingin.

Kuberdirikan sepedaku yang sengaja tak aku sandarkan pada pohon lalu seperti biasanya dia langsung membonceng berdiri pada batang besi yang terpasang di kedua sisi as roda belakang. Mula-mula ku gowes pelan-pelan melewati rerumputan yang hijau membentang, lalu melewati jalan setapak yang berbatu. Memang jalan di sini dibuat berbatu-baru agar saat musim hujan datang tidak terlalu becek dan licin. Pegangan tangan di pundakku makin dia eratkan. Aku gowes sepedaku lebih hati-hati lagi karena  memang kondisi jalan tidak rata.

Sekitar 1 km sudah kami tempuh jalan berbatu itu kemudian kami dihadapi jalanan yang cukup menanjak. Ini pasti akan sangat berat sekali, pikirku. Tapi ini tetap harus aku lakukan.

“Turun dulu dong, nanjak nih.”

“Ah, baru segini aja. Masa ga kuat sih? Payah nih.”

“Kamu sih enak tinggal bonceng.”

“Udah, pasti kuat deh. ” Dia bilang sepertu tak ada beban sama sekali.

“Ayo ayo, pasti bisa. Ha ha ha” Tambahnya.

Aku ambil ancang-ancang, kugowes sepedaku lebih cepat. Dia makin erat pegang pundakku. Kuat. Ya aku kuat gowes sampai setengah tanjakan. Sudah separuh dan masih separuh lagi. Kugowes dengan sekuat tenaga. Dia terus bersorak memberi semangat. Sesekali tertawa, entah itu tertawa karena lucu atau senang melihatku kucapekan gowes sepeda. Dia makin keras tertawanya, terbahak. Aku pun ikut tertawa. Tenagaku yang tinggal sedikit malah aku habiskan untuk tertawa.

“Woi, jangan ikut ketawa ntar ga kuat sampai atas.” Katanya.

“Biarin deh, biar jatuh sekalian. Aku  capek-capek kamu malah ketawa ga karuan gitu.” Balasku agak kesal.

Jatuh. Sepedanya jatuh sedangkan dia dan aku tidak ikut jatuh karena masih bisa mengontrol keseimbangan. Kami masih tertawa terbahak. Sebenarnya aku tak tau apa yang sebenarnya dia tertawakan. Mungkin ada hal lucu atau mungkin juga karena dia senang melihatku ngos-ngosan.

Lumayan lama kami tertawa sampai terasa lemas sekali. Sejenak berhenti kemudian tertawa lagi. Tanjakan yang tinggal separuh tak kunjung kami selesaikan. Malah kami bergurau dan saling menertawakan. Dia memang cantik, tawanya lepas. Dia tak seperti gadis-gadis yang lain. Ya, dia memang beda.

***

Matahari tepat berada di atas kepala. Kali ini benar-benar terasa lelah sekali akibat saling menertawakan. Tak ada alasan yang dia berikan padaku ketika aku bertanya, ataupun ketika dia bertanya padaku. Ada hal yang tak harus  kami ungkapkan tapi itu sangat bisa kami pahami. Entah apa itu namanya, hal itu terasa sangat dekat. Bukan dengan ungkapan kalimat melalui mulut atau pun bahasa tangan, namun melaui sorot matanya aku dapat mengerti apa yang dia ungkapkan padaku.

Dia datang pagi ini dengan senyum seperti biasanya, namun ada sesuatu yang  lain. Tidak dapat aku ketahui, bahkan dari sorot matanya sekalipun. Mungkin perasaan gelisah, atau mungkin juga perasaan gembira. Sulit untuk menebaknya.

“Ah gila, ketawa mulu jadi haus banget.” Katanya.

“Makanya diam, ketawa mulu sih. Sampai pegel nih perut.”

“Lagian siapa suruh ikut-ikutan ketawa. Yah , abis lagi minumannya.” Sambil memegang botol air mineral yang diambil dari dalam tas.

“Lagian cuma bawa 1 botol sih, 1 galon dong.”

“Emangnya kamu mau bawa dispensernya? Tuh ada pohon kelapa, panjat dong.”

“Punya orang itu, ngawur aja. Jalan lagi yuk, masih nanjak nih.” Kataku.

Masih setengah tanjakan lagi baru kami bisa meluncur dengan sepeda. Gowesnya lebih berat karena tadi sempat berhenti. Jadi aku tuntun saja sepedaku. Sambil jalan dia masih saja ngoceh sambil sesekali tertawa. Ada satu pesona yang membuatku senang ketika aku melihatnya tertawa seperti itu.

Sudah sampai di puncak tanjakan. Segera aku naiki sepeda diikuti dia naik membonceng. Siap-siap meluncur dengan kecepatan tinggi.

“Udah siap belum?” Tanyaku.

“Udah, pelan-pelan aja nanti jatuh aku jitak kamu.” Jawabnya.

Dalam hatiku aku tertawa membayangkan dia ketakutan saat kami meluncur dengan kecepatan tinggi. Pasti dia menjerit-jerit ketakutan dan minta tolong.

“Iya iya, pelan-pelan.”

“Beneran lo, awas kalau ngebut.”

“Ini kan turunan, wajarlah kalau ngebut. Pegangan.”

Mulai meluncur pelan-pelan lalu perlahan kecepatan bertambah. Makin cepat dia pun ngoceh tidak karuan.

“Pelan-pelan. Jatuh nanti kalau ngebut.” Dia sambil merengek.

“Makanya peganagan.”

Sepeda meluncur makin cepat. Karena ketakutan dia malah goyang-goyangkan pundakku. Aku kesulitan mengontrol keseimbangan. Jatuh.  Kali ini jatuh semua. Menabrak pohon kelapa dan tercebur di kali.