Orang-orang Hebat

Saat sendiri seperti sekarang ini, sering aku merenung darimana dan akan ke mana aku ini. Kehidupan ini penuh dengan teka-teki. Tiba-tiba saja aku ada dunia ini. Ya, yang pasti ini bukan tanpa alasan. Ada satu hal yang merupakan alasan yang sangat mendasar: bertaqwa kepada Allah.

Rabu 19 tahun lalu sesosok bayi kecil lahir ke dunia ini. Ialah aku. Saat itu aku belum mengerti apa-apa. Sampai satu saat aku beranjak dewasa dan belajar memahami semua, termasuk memahami tujuan hidup ini.

Besar di lingkungan yang religius menjadikanku sebagai laki-laki yang kuat dan tidak nakal meski terkadang sedih karena tidak ada yang dijadikan tempat mengadu saat aku dijahati teman sebayaku. Dan Kakek lah yang selalu membelaku ketika aku berkelahi dengan temanku, tak peduli aku benar atau salah. Ya, itu karena sayangnya Sang Kakek terhadap si cucu.

Pernah satu malam aku membuat masalah. Aku bolos ngaji dari tempat Mbah Sahid. Aku bersembunyi di samping kandang ayam Pak Darso. Saat itu gerimis masih mengguyur dari langit. Aku kedinginan. Aku belum mau pulang dan masih ingin tetap disana karena aku tahu jika aku pulang lebih awal dari biasanya Kakek akan bertanya. Aku takut bohong kepada Kakek.

Tapi saat itu aku kedinginan dan kuputuskan untuk pulang ke rumah. Sampai di rumah aku ditanya oleh kakek kenapa pulang lebih awal dari biasanya. Aku ketakutan. Aku menangis. Karena ketakutan, kuterpaksa mengarang cerita bahwa telah dijahati oleh Eko yang berumur lebih tua dariku. Mestinya tak kulakukan karena aku tau imbasnya akan tak baik.

Entah apa yang kupikirkan saat ini. Betapa jahatnya diriku yang belum sunat itu menfitnah kawanku sendiri. Aku minta maaf padamu, Eko. Jika kau baca tulisan ini kuharap kau telah memaafkan kesalahanku waktu itu. Aku sungguh menyesal telah berbohong.

Dan benarlah dugaanku. Sang kakek marah cucunya dijahati seperti itu. Kakek pergi ke rumah mbah Sahid dan menampar pipi Eko. Aku masih berumur kira-kira 6 tahun waktu itu. Aku merasa bersalah. Aku telah berbohong pada kakek dan telah menyakiti Eko. Aku menangis ketakutan di pangkuan Nenek. Ya, Nenek memang selalu memberiku kasih sayang yang tulus meskipun nenek tahu bahwa aku telah berbuat salah.

Kedua orang itu memang telah memberikan kasih sayang kepadaku. Aku tak ingin mengecewakan keduanya, juga Ibuku. Mereka adalah orang-orang terhebat yang pernah kumiliki.

Saat ini Kakek sudah tak punya cukup kekuatan, bahkan untuk berdiri harus berusaha dengan sekuat tenaga. Dan Nenek tetap dengan sabar nyrateni Kakek. Merekalah orang-orang terhebat. Mereka menjadikanku yang tak tahu apa-apa menjadi laki-laki yang kuat jalani hidup.

Besok aku pulang, aku ingin melihat wajah mereka; orang-orang hebat.

Jogja, 5 1 2010
11:58 PM

1 Comment

Add yours →

  1. Beruntung masih punya kakek nenek yang utuh sampai sekarang mas…. Moga tetep sehat melihat cucunya sukses, amin…

Leave a Reply