Jumat pagi, hari pertama di tahun 2016.

Udara Jogja yang romantis lengkap dengan dengus kereta yang segera berlalu usai mengantar saya hingga Stasiun Tugu. Kuraih ponsel yang dari tadi diam di dalam tas. Memilih-milih nama kemudian menekan tombol warna hijau bergambar gagang telepon.

“Assalamu alaikum, Bang”, sapaku.

“Wa alaikum salam. Lagi di mana, Rif?” Tanya seseorang di ujung sana.

“Aku di stasiun, Bang. Bisa jemput aku sebentar?”

“Oh iya. Tunggu bentar ya.”

Tak lama kemudian Syamsul tiba di parkiran stasiun. Ternyata ia tak sendiri. Bayu, Iqbal dan Fyaz baru saja akan pulang dari acara malam tahun baru semalam jika saja tak kuhubungi Syamsul. Beruntunglah saya dijemput kawan-kawan semasa kuliah ini.

Sehari sebelumnnya Fyaz menanyai apakah saya bisa ikut bergabung pada malam tahun baru. Tentu saja tidak. Malam itu saya masih berada di dalam kereta. Menariknya adalah mereka justru turut menjemput saya di stasiun keesokan harinya.

Dari stasiun kami menuju timur melewati Pasar Kembang. Berhenti sebentar di traffic light, kalau kamu tengok ke arah kanan kamu akan melihat sepanjang jalan Malioboro yang tersohor itu. Entah sudah berapa kali jalan itu di redesign. Belakangan yang saya tahu mereka menaruh pagar besi di antara pedestrian dan jalan utama. Padahal sebelumnya di tempat yang sama ada tanaman-tanaman yang memberikan aksen asri.

Masih perlu waktu kurang-lebih satu jam untuk sampai rumah. Saya putuskan mampir sebentar di asrama Syamsul untuk Subuh sembari Bayu mengartar Fyaz pulang ke rumahnya.

Matahari sudah meninggi namun kabut masih setia selimuti Mendut dengan mesranya. Kutapakkan kaki menyusuri jalan di sebelah utara Candi Mendut usai turun dari bus Cemara Tunggal. Ada yang menarik perhatian saya pada bus itu. Terakhir saya menaikinya barangkali saat masih SMP. Bus itu yang setia mengantar-jemput saya ke sekolah. Nyaris 8 tahun lalu dan kini masih beroperasi lengkap dengan aroma karat pada lempeng-lempeng logam yang membungkusnya.

Karena ini hari anak-anak sekolah masih libur, jadilah rumah ramai oleh saudara-saudara. Libur panjang sekolah dan libur panjang tahun baru menjadi momen yang pas untuk berkumpul.

Jelas saja yang kutanya begitu tiba di rumah adalah keadaan Ibu usai rawat inap selama tiga hari lalu di ‘rumah sehat’. Lega ketika mendengar keadaannya membaik, meski harus kontrol lagi beberapa kali ke depan. Tolong doakan ibu saya lekas sehat kembali, ya!

Ngidam Nasi Goreng

Sejujurnya ambisi ini sudah tertahan berminggu-minggu. Kalau jadi pulang ke rumah, mesti makan nasi goreng Mbak Sop!

Ada dua warung nasi goreng favorit saya di sana. Pertama adalah warung milik Pak Muri. Warung itu dulunya berada persis di depan Gedung Pramuka sebelah barat Pondok Tingal, Borobudur. Kini warung dengan menu andalan nasi goreng itu pindah beberapa meter di sebelah timur Rani Jaya. Kalau kamu kebetulan sedang berada di Borobudur, tanya saja kepada orang-orang di sana di mana itu Rani Jaya.

Yang kedua adalah warung nasi goreng bertajuk Mbak Sop. Warung ini berada persis di sebelah Museum Widayat, sebelah barat Tugu Soekarno-Hatta.

Meski keduanya adalah favorit saya, namun cita rasa mereka tidaklah sama. Secara default nasi goreng Mbak Sop lebih manis dibanding nasi goreng Pak Muri. Dan porsinya pun sedikit lebih banyak. Yang jelas keduanya saya sukai. Kamu mesti mencicipinya saat berada Borobudur.