Tag: positive thinking

Hadapi saja

Pernah sekali waktu di tingkat SMP saya mengenakan celana OSIS untuk pramuka. Celana biru itu nekat saya kenakan karena celana cokelat pasangan baju berlabel pandu dunia tiba-tiba saja lenyap pada hari itu. Jadilah celana yang ada saya pakai.

Dengan kesadaran penuh bahwa keputusan kala itu bakal berimbas pada hukuman. Atau paling parahnya menjadi bahan tawa kawan-kawan. Bayangkan saja, baju pramuka cokelat dengan celana berwarna biru tua. Betapa sangat tidak mesranya sepasang seragam itu.

Dan pada akhirnya ketika sampai di sekolah sesuai dugaan. Saya menghadap Bu Jeki, seorang wanita tua yang berlaku sebagai pembina pramuka. Meski wanita tua, percayalah tak satupun siswa sekolah kami yang berani padanya. Beliau adalah guru Bahasa Inggris yang berkharisma. Lain kali akan saya ceritakan tentangnya jika tak lupa.

Tapi ada satu alasan mengapa saya lakukan hal itu. Terlepas dari ada atau tidaknya konsekuensi, datang dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi itu lebih baik. Walau kadang tak bisa dipastikan alasan itu bakal diterima.

Akar dan Cabang

Akan selalu menjadi hal menarik bagi saya untuk mengetahui posisi kita di antara hal-hal lainya.

Dan menjadi kegelian sendiri bagi saya ketika memikirkan bangsa-bangsa yang saling berperang dan membunuh. Katakan saja Indonesia dan Malaysia. Kau sendiri tahu bagaimana isu kedua negara yang kerap berselisih ini. Masalah batas negara dan budaya bisa menjadi penyulut api pertempuran.

Padahal, secara fisik dan budaya saja kita nyaris serupa. Di antara keduanya membentang selat yang kemudian kita sepakati sebagai batas negara. Hanya karena batas laut itu sehingga kita setuju bahwa kita bangsa yang berbeda? Kamu bahkan mungkin saja berpikir nenek-moyang keduanya berasal dari orang yang sama. Bagaimana mungkin bisa sebegitu kekeuhnya dengan ke-punya-an-ku itu.

Korea Utara dan Korea Selatan. Bahkan dari nama saja bisa kamu simpulkan mereka adalah sama-sama Korea. Saya tidak tahu secara persis permasalahan apa di antara mereka, yang terjadi adalah kedua negara itu juga sempat bersitegang.

Pernah kebayang ngga, kamu berebut sebuah mainan dengan adikmu sendiri. Kamu dan adikmu saling ingin memiliki sesuatu yang kalian perebutkan hingga kalian tega saling menyakiti; memukul, menjitak, menendang.

Begitulah bangsa-bangsa yang saling bertempur itu. Atau setidaknya bangsa yang menjajah bangsa lain. Itu seperti kamu ingin memiliki apa yang adikmu miliki dengan paksa. Kemungkinan yang terjadi adalah adikmu mempertahankan yang ia miliki atau lebih parahnya ia akan melawan.

Dan bisa saja ada sejuta alasan untuk membenarkan tindakan penjajahan mereka terhadap bangsa lain. Wilayah, kekuasan, kejayaan dan kepercayaan terhadap suatu agama bisa jadi menjadi iming-iming yang menggiurkan.

Israel dan Palestina misalnya. Dua negara yang tak kunjung usai berperang.

Memang menjadi suatu kemakluman ketika kita bica soal manusia dan ‘nafsu’nya. Sebagaimana yang kita sadari bahwa ‘nafsu’ ada sepaket dengan lahirnya manusia itu sendiri. Setiap orang memiliki ‘nafsu’? Benar.

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bisa tidaknya kita sebagai manusia mengendalikan ‘nafsu’ itu.

Dari cerita lampau, yang terjadi antara Habil dan Qubil juga karena adanya ‘nafsu’. Salah seorang di antara keduanya memaksakan kehendak terhadap yang lainnya. Imbasnya adalah sebagaimana yang kita tahu, peristiwa pembunuhan manusia pertama di bumi.

Kalau kita tarik garis ke atas

Ismail dan Ishaq, dua orang yang merupakan putra Ibrahim, kelak dari keduanya terbentuk bangsa-bangsa yang besar. Dari keduanya pula kemudian Islam, Yahudi, Kristen dan nama-nama lain, timbul sekat-sekat di antaranya. Ada misunderstanding atau pembelokan pemahaman di sini, saya kira.

Memang, tentang masalah ini saya belum memiliki cukup argumen bila ada di antara kalian yang ingn menyanggah. Setidaknya kita semua tahu bahwa Ibrahim adalah akar dari nabi-nabi yang ada setelahnya.

Well, tidakkah kamu amati bahwa sesungguhnya ketika kamu berebut mainan dengan adikmu hingga adu jotos, ketika suatu bangsa menggempur bangsa lain, ketika sebuah kelompok penganut kepercayaan tertentu menghina yang lain, dari satu akar kita berpangkal.

Lebih jauh lagi, kita sama-sama keturunan Adam!

Bisa Segalanya?

Akan ada orang-orang yang beranggapan bahwa jika kamu telah lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana itu berarti dapat menyelesaikan setiap permasalahan. Entah kamu itu sarjana ekonomi atau teknik, satu saat kamu bisa saja menemui kasus ini. Dan ketika kamu mendapati kesulitan menyelesaikan masalah itu, mereka dengan mudahnya bilang, masa sudah sarjana menyelesaikan itu saja tidak bisa.

Saya jadi ingat apa yang disampaikan Pak Heri, dosen Aljabar dan Matrik, beberapa tahun lalu.

Bahwa ketika telah lulus dan menyandang sarjana itu bukan hanya pelajaran akademik saja yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika mulai hidup di tengah masyarakat porsi pelajaran etika itu akan selalu lebih besar dari pelajaran akademik dalam penerapannya. Karena kamu sarjana, orang-orang menganggap kamu bisa melakukan segalanya.

Jangan Terlalu Jauh

Ibarat mengayuh sepeda dan kamu menatap jauh pada tujuan di depan. Kamu terus mengayuh sementara matamu melihat jauh pada titik dimana akan kamu datangi. Apa yang kamu rasakan?

Bagaimana jika

Kamu mengayuh sepeda. Sementara matamu melihat dengan sudut ternyaman pada jarak 4-5 meter didepanmu. Roda tetap berputar, pedal tetap kamu kayuh. Apa yang kamu rasakan?

Kadang obsesi yang terlalu besar untuk mencapai tujuan justru menguras banyak energi. Bahkan terbuang sia-sia. Coba untuk menikmati setiap detail perjalanan yang sedang kita lewati. Pikirkan untuk menyelesaikan 1-2 langkah didepan kita. Jangan pikirkan terlalu jauh. Biarkan hari ini adalah anugerah, kemarin kenangan dan besok adalah harapan.

Meski tujuan harus tetap ada, namun berpikir untuk menyelesaikan masalah hari ini saja dulu lebih baik dari tidak berpikir untuk menyelesaikannya, bukan?

Apa Selanjutnya

Stuck. Mundur ragu maju tak bisa tentukan langkah. Apa selanjutnya? Pernah berada dalam situasi seperti itu? Saya pernah.

“…Biarkan mengalir. Jangan hanya berhenti pada satu titik yang menjebak. Bergeraklah….”

Seperti ketika menulis naskah cerita lalu mendadak ide hilang ditengah jalan. Juga saat merancang desain program dan kehilangan ide menyelesaikannya.

Pernah terpikirkan juga apa yang harus dikerjakan usai lulus kuliah nanti. Untuk kasus itu saya tak mau stuck dan berhenti pada satu titik saja. Sebenarnya bukan hanya tentang usai kuliah saja namun untuk urusan lain pun saya tak mau terjebak. Harus bisa bergerak, bukan?

 

Tentang Pilihan

Pernah mengalami seperti terjebak atau masuk ke wilayah yang tidak diinginkan? Seperti ketika memilih jurusan pendidikan dan akhirnya pilihan jatuh pada salah satu yang membuatmu dilema.

Sebelum saya benar-benar memutuskan untuk belajar Teknik Informatika, Biologi dan Bahasa Inggris sempat singgah dalam pikiran. Butuh waktu cukup lama untuk meyakinkan diri mengesampingkan dua ilmu tersebut. Ketiganya sama-sama saya senangi bahkan Biologi dan Bahasa Inggris memiliki porsi lebih besar dalam hati saya dibanding Teknik Informatika.

“…Kau bilang hidup jangan disesali. Aku bilang hidup jangan dikecewakan…”

Saya biarkan mengalir meski akhirnya Teknik Informatika menjadi jurusan pilihan. Dan kini, mau tidak mau saya mesti konsisten dengan pilihan tersebut. Semua orang memang harus begitu, konsisten dengan pilihannya. Dan resiko dari setiap pilihan itu pasti ada.

Read more →

Hidup Ini Penuh Kejutan

Pernah merasakan hidup hanya begini begitu saja? Tak ada hal yang menarik atau semua jadi hambar lantaran monoton? Tidak ada kejutan? Yup, saya pernah. Sesuatu yang baru dan menarik tak selalu ada.

“…Ya, bahwa hidup memang penuh kejutan seperti sinetron, katamu…”

 

Secara tiba-tiba kamu mendapatkan cokelat dari seorang teman atau sepeda baru dihari ulang tahunmu? Atau bahkan seseorang baru yang belum kamu kenal sebelumnya muncul di kehidupanmu?

Sebenarnya semua itu bergantung bagaimana cara kita melihatnya. Sesuatu yang baru dan menarik akan ada mana kala kita melihat yang kita hadapi adalah sesuatu yang manarik. Cobalah untuk melihat secara perspektif dari sejumlah masalah. Apa yang kamu temukan? Hei, ada banyak hal menarik disana yang muncul tanpa kita duga!

Keep positive thinking! 🙂