Tag: pengembangan diri

Perihal ikhlas

Barangkali usianya masih 5 tahun. Kaki-kakinya yang kecil bahkan belum ditegakan untuk melangkah memanjat pintu bus yang separuh  dari tinggi badannya itu. Ibunya membantunya masuk lalu duduk di kursi.

“Mama bawa apa?”

“Bawa sesuatu buat teman kamu”

“Siapa?”

“Kamu ga boleh tahu.”

“Kenapa ga boleh tahu?”

“Kalau mama kasih tahu, nanti kamu cari.”

“Siapa sih, ma?”

“Mama bilang ga boleh, kalau beramal ga boleh kasih tahu orang lain.”

“Kenapa?”

“Biar kita bisa ikhlas, jadi ga perlu orang lain yang tahu. Kamu kalau mau beramal juga begitu.”

 

Mendengar percakapan ibu dan anaknya itu dalam hati saya bilang iya juga ya, beberapa kali beramal hanya agar dilihat dan dipuji orang lain. 

Bahkan untuk sekedar sembahyang saja kadang kita lakukan untuk tujuan serupa. Oh, sembah hyang, sembah Sang Hyang, sholat? Apapun kamu menyebutnya.

Barangkali juga beberapa diantara kita ada yang berqurban bulan lalu? Iyakah sungguh berqurban?

Barangkali kita, kamu dan saya, ingin sekali dapat melakukan amal ikhlas seperti yang Ibrahim lakukan.

Hadapi saja

Pernah sekali waktu di tingkat SMP saya mengenakan celana OSIS untuk pramuka. Celana biru itu nekat saya kenakan karena celana cokelat pasangan baju berlabel pandu dunia tiba-tiba saja lenyap pada hari itu. Jadilah celana yang ada saya pakai.

Dengan kesadaran penuh bahwa keputusan kala itu bakal berimbas pada hukuman. Atau paling parahnya menjadi bahan tawa kawan-kawan. Bayangkan saja, baju pramuka cokelat dengan celana berwarna biru tua. Betapa sangat tidak mesranya sepasang seragam itu.

Dan pada akhirnya ketika sampai di sekolah sesuai dugaan. Saya menghadap Bu Jeki, seorang wanita tua yang berlaku sebagai pembina pramuka. Meski wanita tua, percayalah tak satupun siswa sekolah kami yang berani padanya. Beliau adalah guru Bahasa Inggris yang berkharisma. Lain kali akan saya ceritakan tentangnya jika tak lupa.

Tapi ada satu alasan mengapa saya lakukan hal itu. Terlepas dari ada atau tidaknya konsekuensi, datang dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi itu lebih baik. Walau kadang tak bisa dipastikan alasan itu bakal diterima.

Akar dan Cabang

Akan selalu menjadi hal menarik bagi saya untuk mengetahui posisi kita di antara hal-hal lainya.

Dan menjadi kegelian sendiri bagi saya ketika memikirkan bangsa-bangsa yang saling berperang dan membunuh. Katakan saja Indonesia dan Malaysia. Kau sendiri tahu bagaimana isu kedua negara yang kerap berselisih ini. Masalah batas negara dan budaya bisa menjadi penyulut api pertempuran.

Padahal, secara fisik dan budaya saja kita nyaris serupa. Di antara keduanya membentang selat yang kemudian kita sepakati sebagai batas negara. Hanya karena batas laut itu sehingga kita setuju bahwa kita bangsa yang berbeda? Kamu bahkan mungkin saja berpikir nenek-moyang keduanya berasal dari orang yang sama. Bagaimana mungkin bisa sebegitu kekeuhnya dengan ke-punya-an-ku itu.

Korea Utara dan Korea Selatan. Bahkan dari nama saja bisa kamu simpulkan mereka adalah sama-sama Korea. Saya tidak tahu secara persis permasalahan apa di antara mereka, yang terjadi adalah kedua negara itu juga sempat bersitegang.

Pernah kebayang ngga, kamu berebut sebuah mainan dengan adikmu sendiri. Kamu dan adikmu saling ingin memiliki sesuatu yang kalian perebutkan hingga kalian tega saling menyakiti; memukul, menjitak, menendang.

Begitulah bangsa-bangsa yang saling bertempur itu. Atau setidaknya bangsa yang menjajah bangsa lain. Itu seperti kamu ingin memiliki apa yang adikmu miliki dengan paksa. Kemungkinan yang terjadi adalah adikmu mempertahankan yang ia miliki atau lebih parahnya ia akan melawan.

Dan bisa saja ada sejuta alasan untuk membenarkan tindakan penjajahan mereka terhadap bangsa lain. Wilayah, kekuasan, kejayaan dan kepercayaan terhadap suatu agama bisa jadi menjadi iming-iming yang menggiurkan.

Israel dan Palestina misalnya. Dua negara yang tak kunjung usai berperang.

Memang menjadi suatu kemakluman ketika kita bica soal manusia dan ‘nafsu’nya. Sebagaimana yang kita sadari bahwa ‘nafsu’ ada sepaket dengan lahirnya manusia itu sendiri. Setiap orang memiliki ‘nafsu’? Benar.

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bisa tidaknya kita sebagai manusia mengendalikan ‘nafsu’ itu.

Dari cerita lampau, yang terjadi antara Habil dan Qubil juga karena adanya ‘nafsu’. Salah seorang di antara keduanya memaksakan kehendak terhadap yang lainnya. Imbasnya adalah sebagaimana yang kita tahu, peristiwa pembunuhan manusia pertama di bumi.

Kalau kita tarik garis ke atas

Ismail dan Ishaq, dua orang yang merupakan putra Ibrahim, kelak dari keduanya terbentuk bangsa-bangsa yang besar. Dari keduanya pula kemudian Islam, Yahudi, Kristen dan nama-nama lain, timbul sekat-sekat di antaranya. Ada misunderstanding atau pembelokan pemahaman di sini, saya kira.

Memang, tentang masalah ini saya belum memiliki cukup argumen bila ada di antara kalian yang ingn menyanggah. Setidaknya kita semua tahu bahwa Ibrahim adalah akar dari nabi-nabi yang ada setelahnya.

Well, tidakkah kamu amati bahwa sesungguhnya ketika kamu berebut mainan dengan adikmu hingga adu jotos, ketika suatu bangsa menggempur bangsa lain, ketika sebuah kelompok penganut kepercayaan tertentu menghina yang lain, dari satu akar kita berpangkal.

Lebih jauh lagi, kita sama-sama keturunan Adam!

Bisa Segalanya?

Akan ada orang-orang yang beranggapan bahwa jika kamu telah lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana itu berarti dapat menyelesaikan setiap permasalahan. Entah kamu itu sarjana ekonomi atau teknik, satu saat kamu bisa saja menemui kasus ini. Dan ketika kamu mendapati kesulitan menyelesaikan masalah itu, mereka dengan mudahnya bilang, masa sudah sarjana menyelesaikan itu saja tidak bisa.

Saya jadi ingat apa yang disampaikan Pak Heri, dosen Aljabar dan Matrik, beberapa tahun lalu.

Bahwa ketika telah lulus dan menyandang sarjana itu bukan hanya pelajaran akademik saja yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika mulai hidup di tengah masyarakat porsi pelajaran etika itu akan selalu lebih besar dari pelajaran akademik dalam penerapannya. Karena kamu sarjana, orang-orang menganggap kamu bisa melakukan segalanya.

Lima Tahun Lagi?

Sabtu kemarin ada semacam acara “pencerahan otak” dari kantor. Seorang pembicara menanyakan mau jadi apa Anda 5 tahun lagi?

Lima tahun bisa jadi waktu yang sebentar atau bisa juga jadi waktu yang lama. Kalau kamu punya target dan terus bertekad menggapainya dan menikmati perjuanganmu, 5 tahun bisa jadi waktu yang singkat. Atau sebaliknya.

Kamu mesti lakukan mulai dari sekarang.

Ya, tentu saja sejumlah target yang mesti saya capai tahun ini sudah saya tulis di buku cacatan. Kamu harus punya daftar keinginan! Setidaknya lima tau enam tahun lagi kamu akan tersenyum ketika membacanya dan bilang,

Oh ya, ini yang aku mau beberapa tahun lalu dan kini sudah aku dapetin. Sekarang gilirinku membuat daftar keinginan yang baru“.

Karena Malas

Beberapa hari yang lalu terjadi obrolan antara saya dengan seorang teman. Dari obrolan bimbingan hingga kematangan materi untuk menyusun skripsi. Ada hal-hal yang saya garis bawahi dan obrolan saya dengannya. Ada pertanyaan dari saya dan dijawab cukup menggelitik.

Saya : Jadi, aplikasi ini akan kamu buat sendiri?

Teman : Ya enggak lah. Gila, sama saja setor nyawa kalau bikin sendiri.

Saya : Lah, bukannya selama kuliah kemarin udah dapat cukup materi untuk membuat aplikasi yang akan kamu buat?

Teman: Iya, tapi pas kuliah malas. Jadi, ga paham dengan yang  diajarkan.

Saya: $%#$%@$%

Mestinya saat ini sudah sampai pada step yang lebih tinggi. Tapi, ternyata masih berada di step yang sama hanya karena tidak mau belajar lebih keras dan melawan malas.

 

Jangan Terlalu Jauh

Ibarat mengayuh sepeda dan kamu menatap jauh pada tujuan di depan. Kamu terus mengayuh sementara matamu melihat jauh pada titik dimana akan kamu datangi. Apa yang kamu rasakan?

Bagaimana jika

Kamu mengayuh sepeda. Sementara matamu melihat dengan sudut ternyaman pada jarak 4-5 meter didepanmu. Roda tetap berputar, pedal tetap kamu kayuh. Apa yang kamu rasakan?

Kadang obsesi yang terlalu besar untuk mencapai tujuan justru menguras banyak energi. Bahkan terbuang sia-sia. Coba untuk menikmati setiap detail perjalanan yang sedang kita lewati. Pikirkan untuk menyelesaikan 1-2 langkah didepan kita. Jangan pikirkan terlalu jauh. Biarkan hari ini adalah anugerah, kemarin kenangan dan besok adalah harapan.

Meski tujuan harus tetap ada, namun berpikir untuk menyelesaikan masalah hari ini saja dulu lebih baik dari tidak berpikir untuk menyelesaikannya, bukan?

Temukan!

Temukan sesuatu yang unik dan menarik  seperti pada masa kanak-kanak. Temukan hal baru dan menantang untuk ditemukan.

Seperti selalu ada yang harus ditemukan.

Albaroqkah

Albaroqkah

Menggali terus menggali yang masih tersembunyi. Tak pernah berhenti hingga menemukan. Temukan! 🙂

Orang Gila

Bicara bebas tanpa batas. Tidak tahu dan patuh aturan. Berkelakar sesukanya. Orang gila.

Kadang terlintas dipikiran betapa enaknya jadi orang gila yang tidak memiliki masalah. Atau  mereka punya tapi tidak mempedulikan?

Kadang berpikir betapa bebasnya ketika terbahak didepan umum atau menari-nari di trotoar.

Kadang ingin sekali untuk tidak mematuhi aturan-aturan. Keluar dari jalur yang semestinya untuk melihat bagaimana sebenarnya jalur yang rutin dilewati.

Kadang iri untuk membuat gempar orang-orang dengan kelakukan yang tidak wajar. Memecahkan lampu jalanan atau memukul-mukul tiangnya tanpa ada orang yang menuntut karena mereka memaklumi tingkah orang gila.

Ya. Kadang-kadang style orang gila membuat saya ingin menggemparkan banyak orang dengan suatu karya. Tapi tidak semua.