Tag: motivasi

Terima kasih

Dua kata sederhana namun kadang bisa menjadi berat untuk diucapkan. Hal kecil namun bermakna besar yang luput dari perhatian, misalnya:

  1. Terima kasih untuk penjaga warteg yang mengambilkan makan.
  2. Terima kasih untuk sopir angkot yang karenanya setiap hari kita bisa sampai di kantor untuk melakukan kerjaan.
  3. Terima kasih untuk satpam yang membukakan pintu di kantor.
  4. Terima kasih untuk kurir yang mengantarkan barang sampai ke tempat tujuan.
  5. Terima kasih untuk mbak-mbak laundry.
  6. Terima kasih untuk [insert_yours_here].

Ada seorang kawan di Jogja yang gemar sekali berterima kasih kepada siapapun yang dia anggap telah membantunya bahkan dalam kecil sekalipun. Saya pikir-pikir tak ada ruginya juga untuk sekedar ucapkan terima kasih kepada orang lain. Justru dengan begitu membuat kita lebih memiliki value, bukan?

Pindah ke Jakarta

Sejak resign dari CloselyCoded bulan Mei lalu, saya kembali mulai menerima project freelance dari beberapa kawan. Mulai dari project PSD to HTML, PSD to WordPress sampai project data input Badan Pusat Statistik (BPS).

Ada yang menarik dari project BPS. Ternyata saya baru sadar bahwa mengerjakan input data yang jumlahnya ribuan itu sangat menjemukan. Dulunya sempat kepikiran, enak ya kerjanya cuma masukin data doang. But percaya deh, setiap pekerjaan itu punya nilai kesulitannya masing-masing. Jadi kalau kamu pikir pekerjaan lain yang kamu kira lebih mudah dari kerjaan kamu, belum tentu juga kamu dapat kerjakan sebagus orang lain yang kerjakan.

Selama 5 bulan itu saya benar-benar full kerja dari rumah. Kecuali yang project dari BPS. Karena alasan keamanan, mereka mengharuskan proses input data dilakukan di kantor. Tidak masalah, kantornya hanya berjarak beberapa meter dari rumah.

Bekeja dari rumah memang banyak enaknya. Saya jadi punya waktu untuk mengantar ibu ke pasar. Mengajari adik sepupu saya mengerjakan PR. Mengikuti rapat Takmir Masjid. Membantu tetangga memasang tabung gas. Dan masih banyak lagi.

Waktu yang fleksibel adalah keuntungan besar jika kamu bekerja dari rumah.

Namun kamu mesti memikirkan dimana tempat pulangmu. Maksud saya, jika kamu bekerja seperti pada umumnya, di kantor atau dimana pun itu selain di rumah, kamu memiliki tempat pulang saat jam kerjamu usai, yaitu rumah. Bekerja secara remote memang asik, tapi pasti ada hal yang mesti dikorbankan.

Misalnya, berkomunikasi face-to-face bisa jadi hal yang amat mahal ketika kamu bekerja secara remote dari rumah. Memang semestinya kamu memiliki lebih banyak waktu untuk menemui orang lain yang kamu ingini, tapi yakin bisa seseru rekan sekantor? Kan ada Skype. Hey, Skype belum mengizinkan kita untuk berjabat tangan.

Well, selagi masih muda dan kuat menerima tantangan serta ada kesempatan.

November ini saya mulai stay di Jakarta untuk beberapa lama. Sebuah platform ecommerce marketplace terbesar di Indonesia memberi peluang kepada saya untuk turut membangun Indonesia lebih baik lewat internet. Semoga visi kita kedepan selalu sama.

Buat Yang Bisa Dijual

Mulai berpikir untuk membuat apa yang bisa dijual.

Bukan lagi, menjual apa yang bisa dibuat.

Tiba-tiba kalimat itu muncul dari kepala ketika jalan-jalan di kawasan kos daerah sekitar Condongcatur sore ini. Banyak bangunan baru mulai berdiri dan kebanyakan adalah kos. Para pemilik kos itu barangkali sudah sadar benar potensi wilayah mereka yang dekat kampus.

Artinya, mengamati kebutuhan pasar adalah langkah awal saya untuk memulai target tahun ini.

Pahami Lawan Bicaramu

Perbedaan maksud suatu pesan saat disampaikan dan diterima sering terjadi. Entah itu dari cara kamu penyampaikan atau dari penerimanya sendiri.

Kamu harus lebih bisa memahami lawan bicaramu. Pahami bagaimana ia merespon. Redam ego jika perlu. Itu akan membuatmu lebih dewasa.

Lima Tahun Lagi?

Sabtu kemarin ada semacam acara “pencerahan otak” dari kantor. Seorang pembicara menanyakan mau jadi apa Anda 5 tahun lagi?

Lima tahun bisa jadi waktu yang sebentar atau bisa juga jadi waktu yang lama. Kalau kamu punya target dan terus bertekad menggapainya dan menikmati perjuanganmu, 5 tahun bisa jadi waktu yang singkat. Atau sebaliknya.

Kamu mesti lakukan mulai dari sekarang.

Ya, tentu saja sejumlah target yang mesti saya capai tahun ini sudah saya tulis di buku cacatan. Kamu harus punya daftar keinginan! Setidaknya lima tau enam tahun lagi kamu akan tersenyum ketika membacanya dan bilang,

Oh ya, ini yang aku mau beberapa tahun lalu dan kini sudah aku dapetin. Sekarang gilirinku membuat daftar keinginan yang baru“.

Jangan Terlalu Jauh

Ibarat mengayuh sepeda dan kamu menatap jauh pada tujuan di depan. Kamu terus mengayuh sementara matamu melihat jauh pada titik dimana akan kamu datangi. Apa yang kamu rasakan?

Bagaimana jika

Kamu mengayuh sepeda. Sementara matamu melihat dengan sudut ternyaman pada jarak 4-5 meter didepanmu. Roda tetap berputar, pedal tetap kamu kayuh. Apa yang kamu rasakan?

Kadang obsesi yang terlalu besar untuk mencapai tujuan justru menguras banyak energi. Bahkan terbuang sia-sia. Coba untuk menikmati setiap detail perjalanan yang sedang kita lewati. Pikirkan untuk menyelesaikan 1-2 langkah didepan kita. Jangan pikirkan terlalu jauh. Biarkan hari ini adalah anugerah, kemarin kenangan dan besok adalah harapan.

Meski tujuan harus tetap ada, namun berpikir untuk menyelesaikan masalah hari ini saja dulu lebih baik dari tidak berpikir untuk menyelesaikannya, bukan?

Temukan!

Temukan sesuatu yang unik dan menarik  seperti pada masa kanak-kanak. Temukan hal baru dan menantang untuk ditemukan.

Seperti selalu ada yang harus ditemukan.

Albaroqkah

Albaroqkah

Menggali terus menggali yang masih tersembunyi. Tak pernah berhenti hingga menemukan. Temukan! 🙂

Di Atas Rata-Rata

Saya teringat kalimat yang diucapkan oleh seorang dosen beberapa waktu lalu di kelas.

Kebanyakan orang adalah orang kebanyakan

Berulang kali kalimat itu saya renungkan. Ada benarnya. Dan itu menggugah diri saya untuk berada di atas rata-rata.

Memiliki keterampilan di atas rata-rata tentu akan menjadi nilai tambah. Saya yakin dengan begitu akan lebih mudah terlihat dibandingkan jika tetap berada dalam kerumunan orang kebanyakan.

Apa Selanjutnya

Stuck. Mundur ragu maju tak bisa tentukan langkah. Apa selanjutnya? Pernah berada dalam situasi seperti itu? Saya pernah.

“…Biarkan mengalir. Jangan hanya berhenti pada satu titik yang menjebak. Bergeraklah….”

Seperti ketika menulis naskah cerita lalu mendadak ide hilang ditengah jalan. Juga saat merancang desain program dan kehilangan ide menyelesaikannya.

Pernah terpikirkan juga apa yang harus dikerjakan usai lulus kuliah nanti. Untuk kasus itu saya tak mau stuck dan berhenti pada satu titik saja. Sebenarnya bukan hanya tentang usai kuliah saja namun untuk urusan lain pun saya tak mau terjebak. Harus bisa bergerak, bukan?

 

Lulus Sarjana, Lalu?

Mau apa setelah lulus kuliah nanti? Menganggur? Cari kerja atau membuat lapangan pekerjaan? Saya jadi ingat lagu Iwan Fals yang berjudul Sarjana Muda. Dalam lagu tersebut diceritakan seorang sarjana muda yang kesulitan mencari kerja. Meski telah bertahun-tahun menimba ilmu dan mendapatkan ijazah namun tetap tak dapat kerja.

Engkau sarjana muda resah mencari kerja mengandalkan ijazahmu. 4 tahun lamanya bergelut dengan buku ‘tuk jaminan masa depan

— Sarjana Muda, Iwan Fals

Tentu saja saya tidak mau seperti itu. Justru setelah lulus nanti saya ingin membuat lapangan pekerjaan. Ya, saya ingin membangun usaha yang bakal menjadi investasi.

Saya targetkan tidak lebih dari tahun 2013 harus sudah lulus. Dengan begitu saya memiliki lebih banyak waktu untuk mulai membangun sebuah usaha. Saya mulai berpikir usaha apa yang akan saya buat. Karena berlatar belakang IT tidak lantas usaha yang saya bangun harus berhubungan dengan IT semacam Software House. Bisa jadi saya membuat usaha kuliner atau sandang.

Yup, usaha tersebut akan menjadi investasi selama saya bekerja di Apple atau Microsoft. Tidak ada salahnya bercita-cita, bukan?