Tag: kereta

Taksaka Malam

Orang-orang bergegas keluar dari kantor ketika jam menunjuk 15:00. Hari ini sejumlah kantor di Jakarta memutuskan untuk memulangkan pegawai mereka lebih awal dari hari biasanya.

Sebuah pengumuman yang mengabarkan akan diberlakukan blokade jalan mulai jam 4 sore ini beredar dan sampai pada kuping-kuping kami. Malam perayaan tahun baru, malam yang sesak dan macet.

Seseorang datang kemudian berhenti tepat di depan lobi. Ia tiba sesuai estimasi yang tertera di aplikasi ojek online yang kini tengah naik daun, Go-Jek. Perusahaan penyedia layanan jasa rintisan Nadiem Makarim itu saya rasa amat bermanfaat dan menjadi solusi bagi kendaraan roda empat yang kian membuat ruas jalanan Jakarta terkesan sempit.

Saya berikan IDR 12K sesuai tarif kepadanya begitu tiba di Gambir.

Dua minggu lalu Ibu memberi kabar bahwa beliau mesti rawat inap di rumah sakit. Ada masalah pada ginjalnya sehingga harus mengikuti saran dokter untuk bermalam di dalam kamar yang entah sudah berapa banyak pasien mendiaminya.

Sejujurnya saya tidak suka dengan istilah “rumah sakit”, rumah untuk orang yang sakit. Tidak bisakah ia diganti saja dengan istilah “rumah sehat”, rumah untuk orang yang ingin sehat?

Selasa, 29 Desember lalu, Ibu mulai menginap di sana. Dua hari kemudian dokter memperbolehkannya untuk pulang. Sedangkan saya baru bisa pulang malam ini, malam tahun baru. Malam ini bisa saya saksisan letupan-letupan kembang api dari balik jendela kereta.

Kalau tidak salah ingat, kala itu saya baru berada di tingkat Taman Kanak-kanak ketika nenek membelikan kembang api pertamaku dan bilang “Kamu bakar ini saja (kembang api), jangan bakar petasan”.

Itu pun kembang api tidak saya pegang, tangkai yang terbuat dari kawat itu saya lengkungkan lalu saya gantung dengan apapun yang mampu menahannya agar tetap berada jauh dari tangan ketika terbakar nanti.

Kereta terus melaju sementara pikiran saya terus saja terseret kepada sosok Ibu. Bagaimana keadaannya?

Selama tiga hari lalu bahkan saya tidak ada di sampingnya ketika beliau membutuhkan. Hanya berkali-kali menanyakan progressnya selama ditangani oleh dokter via telepon. Dan perasaan lega sedikit muncul ketika mendengar jawabannya bermakna baik.

Yogyakarta masih beberapa jam lagi. Kaca jendela benar-benar gelap. Mungkin kereta tengah memasuki kawasan hutan.

*) Taksaka, menjelang dini hari di penghujung 2015

Akhirnya Sampai Di Monas!

Berkali-kali berkunjung ke Jakarta tapi baru sekarang kesampaian masuk Monas. Sebuah pencapaian yang amat berharga, bukan? #halah

Sebenarnya bukan karena ingin berkunjung ke Monas kali ini saya ke Jakarta. Sejujurnya keinginan naik kereta api lah yang membuat saya sampai di Jakarta. Dan kebetulan di Jakarta ada kawan yang bersedia mengajak berkeliling.

Monas

Monas

Jam 8 pagi saya berangkat dari Stasiun Tugu menuju Bandung. Saya akan bermalam dulu disana sebelum sore harinya berlanjut ke Jakarta bersama seorang kawan dari Bandung.

Tiba di Bandung sore dan kawan saya langsung mengajak berkeliling Bandung sebentar. Menelusuri jalanan Bandung yang ramai. Padahal bukan akhir pekan namun jalanan sudah seramai itu. Jogja yang saat ini tingkat kemacetannya masih dibawah Bandung saja kadang sudah membuat jengkel. Bagaimana dengan Jakarta? Kau taulah yang kumaksud.

Bandung itu sebuah tata kota yang bagus. Setidaknya itu kesan yang saya lihat saat bekeliling sekitar Jalan Asia Afika, Masjid Agung, Dago dan sekitarnya. Lalu lintas memang cukup padat. Dan lagi jalan satu arah yang diterapkan pada sejumlah jalan bisa membuat sedikit grogi untuk orang yang baru masuk Bandung, seperti saya.

Untuk cuacanya, tidak jauh-jauh beda lah dengan Borobudur. Bisa membuat tidurmu sedikit menggigil jika lupa tak kenakan selimut.

Esok paginya sembari menunggu kawan selesai kerja hari ini, saya berjalan-jalan dulu. Jalan-jalan dalam arti sebenarnya; jalan kaki. Jarak yang saya tempuh hanya dekat-dekat saja sekitar Gedung Sate, Museum Geologi, Museum Pos.

FYI, ternyata Museum Geologi tutup pada hari Jumat. Dan saya sempat sholat Jumat di masjid sebelah timur Museum Geologi. Masjid apa itu namanya saya lupa.

Sore harinya perjalanan berlanjut ke Jakarta. Kali ini tidak naik kereta. Karena perjalanan malam saya memilih naik travel. Setidaknya di luar jendela mobil masih ada pemandangan kelip lampu dibandingkan jendela kereta api yang gelap. Dan untunglah di dalam mobil bisa menyelonjorkan kaki yang sesiangan menuruti jalanan Bandung. 3 jam kemudian sampai di Jakarta. Kami turun di sekitar Binus syahdan. Dan menuju tempat kawan yang tinggal disana.

Hingga menjalang subuh kami ngobrol. Jelas hawa disini sangat panas. Kau tidur telanjang pun tak akan menggigil. Rasa kantuk yang tak tertahan lagi membius kami pelan-pelan hingga jam 9 atau 10 pagi.

Seharian itu kami lakukan apa yang harus kami lakukan. Hingga malam menjelang udara panas Jakarta tak bosan membuat ketiak basah kuyup.

KRL Commuter Line Jabodetabek

KRL Commuter Line Jabodetabek

Setelah urusan selesai, keesokan harinya barulah menjajaki rel-rel kereta commuter. Karena hari minggu jadi KRL tidak terlalu ramai. Entah apa daya tariknya, tapi saya selalu bahagia ketika berada di dalam “belut listrik” ini. Dan kemanapun tujuannya itu hanya pelengkap karena keretalah intinya. #halah

Menjalang malam saya menuju Stasiun Pasar Senen. Saya berniat camp disana karena kereta ke Jogja berangkat jam 6 pagi. Satu waktu kamu perlu menginap di stasiun. Setidaknya untuk cerita kepada anak cucumu kelak.