Tag: cerpen

Tafakur

Sebenarnya kemana saja kamu selama ini? Aku tunggu kamu didepan rumah tapi kamu tak pernah datang. Aku bahkan berkeliling siapa tau kamu datang lewat pintu belakang. Namun tak juga aku jumpai batang hidungmu. Rumah kita sekarang makin sepi. Orang-orang jadi lebih suka tidur di rumah tetangga semenjak kamu pergi. Mereka juga tidak mau lagi membersihkan rumah kita.

O ya, anak-anak ayam yang masih kecil saat kita bersama memberinya makan sekarang sudah punya anak yang lucu-lucu. Dibelakang rumah kini dibuatkan khusus kandang ayam agar tidak masuk rumah seperti waktu itu. Kamu pasti akan tertwa geli jika melihat kelakuan anak-anak ayam itu.

Read more →

Az-Zahra: Writers4indonesia #6

SEKARANG aku tengah berdiri di padang rumput. Malam-malam sekali aku sengaja keluar untuk menghirup dinginnya udara kegelisahan. Suara jangkrik memberi aksen sebagai imbas dari bisunya malam. Sesekali juga terdengar gonggongan anjing. Mungkin seorang pencuri tengah beraksi atau hanya kelaparan karena sang majikan tak memberi makan sejak siang tadi.

Permukaan rumput yang kuinjak masih basah. Hujan sore menyisakan butiran-butiran kristal pada ujung daun dan rumput liar. Desember tahun ini hampir setiap sore diguyur hujan. Efek dari pemanasan global. Mestinya hujan mengguyur dari bulan Juli.
Read more →

Senandung di atas Gedung

Sore ini langit Jogja tidak menitihkan hujan seperti seminggu belakangan ini. Ada sedikit penat dan aku tahu apa yang harus kulakukan; jalan keluar mencari udara yang sebenarnya sudah tidak segar lagi. Tentu saja, jalanan ‘kota pelajar’ kini telah dipenuhi asap knalpot genit kendaraan bermotor.
Read more →

Pemuja Rahasia

Sudah hampir setahun aku mengenalnya. Tentu saja, dia mudah dikenali daripada teman-teman sekelasku lainnya. Ada daya tarik tersendiri yang menjadikannya mudah dikenal oleh orang lain.

Read more →

Diorama Kesembilanbelas

Episode 1

Di negeri Utopia semua makhluk berbahagia. Orang-orang makan makanan yang diolah secara sempurna dari kebun sayuran yang berada di atas bukit dan daging dari hewan ternak di lembah bukit. Mereka minum air dari sungai yang mengalir dari balik pegunungan yang membentang mengelilingi seluruh negeri.

Airnya jernih dan bersih. Tak ada penyakit di negeri itu. Saat musim panas tiba sungai itu tak pernah kering. Selalu mengalir. Udara disana sejuk namun memiliki cahaya cukup untuk membantu proses fotosintesis tumbuhan. Tak ada yang merasa kepanasan atau pun kedinginan disana. Jika matahari terlalu banyak memancarkan panas, maka awan-awan pun bergerombol  melindungi seluruh negeri. Sebaliknya, jika dingin menerpa matahari akan lebih banyak memancarkan panas dan awan pun memberinya jalan agar negeri itu bisa hangat kembali.

Anak-anak bermain di sebuah halaman hijau yang luas. Mereka berkejar-kejaran. Ada juga yang bermain layangan. Para ibu memetik buah-buahan yang mereka tanam di kebun. Para lelaki dewasa bekerja dengan giat dari pagi sampai sore.

Ia masih belum mengerti mengapa bisa sampai di negeri itu. Awalnya ia berbaring ditempat tidur setelah menyelesaikan tulisannya dan menghabiskan segelas kopi saat hening mulai mencekam sekeliling kamar yang berhamburan pakaian kotor yang belum dicuci. Dilihatnya setitik cahaya dari jendela kamar. Cahaya itu lama-kelamaan makin mendekat. Ia heran lalu membuka jendela. Seketika tak sadarkan diri ketika cahaya itu menghantam tepat di dada kirinya dan membuai hingga ia benar-benar terlena. Ketika sadar  sudah berada di tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya.

Dari atas bukit itu ia bisa melihat seluruh negeri sejauh mata memandang. Pemandangan yang sangat indah tak seperti di kampung halamannya. Ia benar-benar takjub atas apa yang tengah diilihat. Perlahan mulai ia seret langkah menuju lembah. Namun rumput-rumput itu tak mengizinkannya untuk melangkah. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh jangkung itu. Ia  pun melayang di atas rerumputan. Lalu rumput-rumput itu mendorongnya hingga ia meluncur seperti mamakai sepatu roda sampai di lembah. Ia heran dengan apa yang dialaminya baru saja. Lalu semilir angin menggoyangkan rumput-rumput itu seperti melambai padanya.

Orang-orang di lembah yang ia jumpai selalu melempar senyum. Mereka ramah. Pakaian mereka rapi dan bersih. Aroma tubuh mereka seperti pernah ia kenal. Seorang tua berambut putih menyapanya. “Selamat datang anak muda”, Kata lelaki tua itu. Dilihatnya cara mereka senyum, menyapa, ia merasa kedatangannya memang sudah diketahui atau mungkin memang sudah ditunggu. Ia mulai mengingat sesuatu. Cahaya itu. Cahaya dari jendela kamar itu yang telah mengantarnya kesana.

***

Episode 2

Seperti  hanya merasakan separuh dari gravitasi bumi. Ia melangkah ringan sekali. Hampir melayang. Ya, ia memang melayang di lembah itu. Orang-orang disekitarnya pun begitu. Tempat apa ini sebenarnya, pikirnya.  Udaranya aneh mataharinya juga aneh.  Buah-buahan tiap jam masak dari pohonnya. Burung-burung melagu merdu sekali.

Angin berhembus membelai rambutnya yang kini sudah agak panjang karena sejak lulus SMA ia sudah jarang potong rambut. Pandangannya tertuju pada satu tempat diujung jalan sebelah kiri pohon jambu. Di sana ada kerumunan. Mungkin sedang ada tontonan.

Ada  seorang ibu yang  baru saja melahirkan rupanya. Bayi laki-laki. Matanya tajam. Tangisnya keras sekali. Seorang bocah berkulit agak gelap menggodai bayi yang baru saja lahir itu, memegang hidungnya dan memainkan pipinya yang kenyal seperti jelly.

Orang-orang  makin banyak yang datang ingin melihat bayi kecil itu. Seorang nenek dan lelaki tua yang dijumpainya saat turun dari bukit pun datang. Mereka membawakan perlengkapan untuk si  bayi.

Ia masih belum sepenuhnya mengerti. Lalu beranjak menuju lapangan  tempat anak-anak main layangan. Ia duduk pada sebuah bangku didekat gawang. Ia seperti mengenal bocah yang berkaos putih yang  manarik-ulurkan tali layangannya  itu. Rambutnya cepak dan menantang langit. Tapi kapan dan dimana pernah menganalnya.

Nyaman sekali ia di sana, tenang dan damai tapi tidak membuatnya mengantuk. Sering ia ketiduran saat bersantai dibangku kayu di belakang rumah karena suasananya nyaman. Namun tidak untuk kali ini.

Hari sudah sore. Anak-anak pulang ke rumah. Bayi kecil tengah menetek ibunya. Burung-burung masih bernyanyi. Tampat apa ini, kalimat tanya yang masih mengambang di kepalanya.

***

Episode 3

Magelang, Mei akhir abad 20

angin menggoyangkan pucuk-pucuk bunga hingga serbuk sarinya berterbangan memenuhi angkasa yang kebiruan saat ia terbaring pada bangku kayu dekat lapangan.

Hening seketika menikam tiap gerak suara.

Memadukan dua lagu yang kontradiksi.

satu cinta,

satunya lagi benci.

AKU DIMANA???

teriaknya dalam kebisuan

***

Episode 4 (End)

Awal abad 21

Ia beranjak dari tempat duduk, dilihatnya langit makin membiru. Air bernyanyi, berkolaborasi dengan bebatuan kali. Rumput masih menari dan bayi kecil berhenti menagis.

Kali ini ia berada di tengah jalan. Disebelah kirinya adalah bangku kayu yang baru saja ia tinggalkan. Sebelah kanannya ada kolam kecil dengan air mancur ditengahnya. Ia merasa haus lalu minum dari air mancur itu. Airnya berasal dari pengunungan yang mengelilingi negeri.

Sewaktu minum, bayi kecil yang baru saja lahir itu mengahampirinya. Bagaimana mungkin bayi yang baru lahir sudah berjalan, pikirnya. Tapi negeri itu memang aneh. Bayi kecil lantas bicara padanya, “selamat datang di diorama kesembilanbelas”. Ia tetap kebingungan.

Lalu burung-burung turun padanya dan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun, diikuti oleh  rerumputan, batu, air, pohon, lumut, bunga, udara dan yang ada di negeri itu. Semua bernyanyi untuknya. Orang-orang yang tadi ia jumpai datang dan memeluknya. Mereka tersenyum bahagia. Seorang tua berkata padanya, “18 diorama telah kau buat, kali ini kau harus buat yang lebih bagus lagi pada diorama kesembilanbelas”.

Ia ikut tersenyum bahagia, meski ia merasakan anehnya negeri ini. Sebentar ia memejamkan mata berdoa kepada Allah agar diberikan yang terbaik.

Saat membuka mata ia sudah berada kembali di kamar. Terima kasih, ucapnya.

*) terimakasih untuk semua yang pernah kutemui sampai di akhir 18 tahunku, yang membuatku menjadi sekarang ini. Saatnya membuat cerita baru di 19 tahun.

Pada sebuah bukit

bukit

Pagi ini dia awali dengan senyuman. Dia langkahkan kaki dengan penuh kepastian menuju tempat yang sudah di janjikan. Kali ini rambutnya dibiarkan tergerai, bertopi. Kaos oblong warna putih, celana panjang dan sepatu putih bertuliskan “All Star”.

Dia datang 15 menit lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Ada sedikit keringat di sekitar dahi dan lehernya. Meskipun masih jam 8 tapi udara pagi ini memang agak panas.

“Hei, udah lama?” Katanya.

“Belum. Aku juga baru sampai”

Tasnya diletakkan lalu dia duduk disebelahku. Sebelah kiriku. Dia keluarkan sebuah buku gambar ukuran A4. Memang tak seperti biasanya, kali ini dia lebih banyak diam. Perlahan mulai goreskan pensilnya di atas kertas. Ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan padaku dari hasil goresan itu nantinya.

Sementara itu aku beranjak naik ke  pohon untuk memetik rambutan.

“Kenapa ga digambar di rumah aja sih?” Tanyaku.

“Ga dapat inspirasi di rumah.” Jawabnya.

Beberapa waktu berlalu dan gambarnya sudah bisa dilihat.

“Gimana?” Tanyanya.

“Ok, tadinya aku juga punya konsep seprti ini.” Jawabku.

“Yang bener?? Kamu sih sukanya ikut-ikutan.” Katanya sambil tertawa.

“Iya. Nih kalau ga percaya.” Jawabku sambil menunjukkannya.

Matahari sudah tinggi. Sisa-sisa embun pun sudah tak ada sama sekali. Dia geletakkan tubuhnya di atas rerumputan. Dia pandangi langit.

***

Usai menyantap habis semua rambutan yang aku petik tadi, kami bersihkan  tempat ‘tongkrongan’ yang sering aku datangi saat butuh ketenangan itu. Kubereskan barang-barangku lalu mengajaknya turun dari atas bukit. Matahari sudah menyengat namun udara masih lumayan dingin.

Kuberdirikan sepedaku yang sengaja tak aku sandarkan pada pohon lalu seperti biasanya dia langsung membonceng berdiri pada batang besi yang terpasang di kedua sisi as roda belakang. Mula-mula ku gowes pelan-pelan melewati rerumputan yang hijau membentang, lalu melewati jalan setapak yang berbatu. Memang jalan di sini dibuat berbatu-baru agar saat musim hujan datang tidak terlalu becek dan licin. Pegangan tangan di pundakku makin dia eratkan. Aku gowes sepedaku lebih hati-hati lagi karena  memang kondisi jalan tidak rata.

Sekitar 1 km sudah kami tempuh jalan berbatu itu kemudian kami dihadapi jalanan yang cukup menanjak. Ini pasti akan sangat berat sekali, pikirku. Tapi ini tetap harus aku lakukan.

“Turun dulu dong, nanjak nih.”

“Ah, baru segini aja. Masa ga kuat sih? Payah nih.”

“Kamu sih enak tinggal bonceng.”

“Udah, pasti kuat deh. ” Dia bilang sepertu tak ada beban sama sekali.

“Ayo ayo, pasti bisa. Ha ha ha” Tambahnya.

Aku ambil ancang-ancang, kugowes sepedaku lebih cepat. Dia makin erat pegang pundakku. Kuat. Ya aku kuat gowes sampai setengah tanjakan. Sudah separuh dan masih separuh lagi. Kugowes dengan sekuat tenaga. Dia terus bersorak memberi semangat. Sesekali tertawa, entah itu tertawa karena lucu atau senang melihatku kucapekan gowes sepeda. Dia makin keras tertawanya, terbahak. Aku pun ikut tertawa. Tenagaku yang tinggal sedikit malah aku habiskan untuk tertawa.

“Woi, jangan ikut ketawa ntar ga kuat sampai atas.” Katanya.

“Biarin deh, biar jatuh sekalian. Aku  capek-capek kamu malah ketawa ga karuan gitu.” Balasku agak kesal.

Jatuh. Sepedanya jatuh sedangkan dia dan aku tidak ikut jatuh karena masih bisa mengontrol keseimbangan. Kami masih tertawa terbahak. Sebenarnya aku tak tau apa yang sebenarnya dia tertawakan. Mungkin ada hal lucu atau mungkin juga karena dia senang melihatku ngos-ngosan.

Lumayan lama kami tertawa sampai terasa lemas sekali. Sejenak berhenti kemudian tertawa lagi. Tanjakan yang tinggal separuh tak kunjung kami selesaikan. Malah kami bergurau dan saling menertawakan. Dia memang cantik, tawanya lepas. Dia tak seperti gadis-gadis yang lain. Ya, dia memang beda.

***

Matahari tepat berada di atas kepala. Kali ini benar-benar terasa lelah sekali akibat saling menertawakan. Tak ada alasan yang dia berikan padaku ketika aku bertanya, ataupun ketika dia bertanya padaku. Ada hal yang tak harus  kami ungkapkan tapi itu sangat bisa kami pahami. Entah apa itu namanya, hal itu terasa sangat dekat. Bukan dengan ungkapan kalimat melalui mulut atau pun bahasa tangan, namun melaui sorot matanya aku dapat mengerti apa yang dia ungkapkan padaku.

Dia datang pagi ini dengan senyum seperti biasanya, namun ada sesuatu yang  lain. Tidak dapat aku ketahui, bahkan dari sorot matanya sekalipun. Mungkin perasaan gelisah, atau mungkin juga perasaan gembira. Sulit untuk menebaknya.

“Ah gila, ketawa mulu jadi haus banget.” Katanya.

“Makanya diam, ketawa mulu sih. Sampai pegel nih perut.”

“Lagian siapa suruh ikut-ikutan ketawa. Yah , abis lagi minumannya.” Sambil memegang botol air mineral yang diambil dari dalam tas.

“Lagian cuma bawa 1 botol sih, 1 galon dong.”

“Emangnya kamu mau bawa dispensernya? Tuh ada pohon kelapa, panjat dong.”

“Punya orang itu, ngawur aja. Jalan lagi yuk, masih nanjak nih.” Kataku.

Masih setengah tanjakan lagi baru kami bisa meluncur dengan sepeda. Gowesnya lebih berat karena tadi sempat berhenti. Jadi aku tuntun saja sepedaku. Sambil jalan dia masih saja ngoceh sambil sesekali tertawa. Ada satu pesona yang membuatku senang ketika aku melihatnya tertawa seperti itu.

Sudah sampai di puncak tanjakan. Segera aku naiki sepeda diikuti dia naik membonceng. Siap-siap meluncur dengan kecepatan tinggi.

“Udah siap belum?” Tanyaku.

“Udah, pelan-pelan aja nanti jatuh aku jitak kamu.” Jawabnya.

Dalam hatiku aku tertawa membayangkan dia ketakutan saat kami meluncur dengan kecepatan tinggi. Pasti dia menjerit-jerit ketakutan dan minta tolong.

“Iya iya, pelan-pelan.”

“Beneran lo, awas kalau ngebut.”

“Ini kan turunan, wajarlah kalau ngebut. Pegangan.”

Mulai meluncur pelan-pelan lalu perlahan kecepatan bertambah. Makin cepat dia pun ngoceh tidak karuan.

“Pelan-pelan. Jatuh nanti kalau ngebut.” Dia sambil merengek.

“Makanya peganagan.”

Sepeda meluncur makin cepat. Karena ketakutan dia malah goyang-goyangkan pundakku. Aku kesulitan mengontrol keseimbangan. Jatuh.  Kali ini jatuh semua. Menabrak pohon kelapa dan tercebur di kali.

Satu Cerita pada Satu Subuh

Pagi-pagi benar mereka berangkat menuju tempat pertemuan. Usai sholat Subuh seorang bocah ingusan dan neneknya berjalan melintasi kabut yang membiaskan sorot lampu mobil yang menyalip mereka.

Gema dzikir dari masjid terdengar jelas mengantar keduanya sampai tujuan. Pintu pawon dikunci, lalu mereka melangkah keluar rumah meninggalkan Sang Kakek yang masih pulas mendengkur. Dengan sangat perkasa Sang Nenek menggendong tenggok yang berisi kerupuk, krepek, puyur dan legendar sedangkan si bocah ingusan itu berjalan disebelah kirinya. Suara jangkrik dan katak mengiringi perjalanan mereka.


cerita-satu-subuh

“Nek, kenapa katak dan jangkrik itu bersuara tiap malam? Tiap kita lewat sini?” Tanya bocah itu kepada neneknya.

“ Mereka sedang berdzikir” nenek itu menjawab.

“Mereka juga sholat seperti kita, Nek?” Tanya bocah itu dengan polosnya.

“Mereka sholat, tetapi tidak seperti kita”.

“Ooh, gitu ya” lanjut bocah itu sambil mengangguk-anggungkan kepalanya sesekali menengok ke belakang berharap menyaksikan katak dan jangkrik itu melakukan sholat.

Sampai di pertelon gendongannya ditaruh di bawah pohon beringin, menunggu angkutan yang akan membawa mereka ke tempat pertemuan itu. Sementara itu, lalu-lalang kendaraan memancing keduanya untuk bermain tebak-tebakan.

“Coba tebak, bus apa itu yang sedang berjalan ke sini?” Tanya Sang Nenek.

Dengan berusaha melihat sorot lampu dan suara bus itu lalu si bocah menjawab,

“Gading Indah, Nek”

Begitu seterusnya sampai angkutan yang ditunggu tiba dan membawa mereka sampai tujuan.

 

***

Begitu tiba di tempat pertemuan antara penjual dan pembeli,  sang nenek menaruh tenggok lalu menggelar kain sebagai alas untuk menaruh dagangannya. Hari itu masih gelap dan udara dingin pun seolah menjadi hangat karena semangat mereka untuk menjalani hidup ini. Sementara itu si bocah membantu mengeluarkan isi dalam tenggok .

Meski masih pagi benar namun suasana di tempat itu telah ramai oleh orang-orang yang mengais rejeki atau pun yang ingin mendapatkan sesuatu untuk sarapan anak-anak mereka. Tawar-menawar sudah dimulai. Ada yang memborong dagangan untuk dijual lagi ke warung-warung atau sekolah-sekolah. Ada yang mendorong gerobak bubur ayam, menyediakan untuk mereka yang belum sempat sarapan. Ini yang menyenangkan buat bocah itu, bubur ayam. Namun si bocah harus menahan keinginnya dulu sampai ada pembeli yang membeli dagangan sang nenek.

Orang-orang makin banyak yang datang ke tempat pertemuan itu. Satu pembeli pertama membeli puyursang nenek. Pembeli kedua, ketiga dan seterusnya berdatangan silih berganti seperti sudah ditulis dalam skenario. Legendar, puyur dan krepek yang dibawa sudah terjual separuh.

Matahari sudah bangun dari tidurnya, tempat pertemuan kini menjadi terang benderang. Si bocah merasa lapar begitu pun sang nenek. Keduanya beranjak dari tempat jualan untuk mencari sarapan setelah merapikan dagangannya. Memang setiap pagi mereka tidak sarapan di rumah. Bagaimana mungkin, pagi-pagi benar mereka sudah harus berada di tempat itu agar tidak kehilangan rejeki yang disebarkan oleh Sang Pencipta.

Meraka tiba pada tukang bubur ayam, tapi bukan yang tadi dilihat oleh si bocah. Sarapan selesai lalu meraka kembali ke tempat jualan. Pasar makin ramai. Di sebelah mereka ada pedagang sayur, bumbu dapur dan ikan asin. Semuanya saling melengkapi. Kekeluargaan.

Ketika matahari makin tinggi, bocah itu ngeyup di emperan toko sepeda. Lalu ketika pemilik toko membuka tokonya si bocah itu senang melihat banyak sekali sepeda bagus yang terpajang di sana. Ingin sekali ia bisa memiliki salah satu sepeda itu.

***

Orang-orang makin berjejal. Meluap dari dalam pasar seperti mangkok yang diisi penuh oleh bubur ayam. Tentu saja begitu, hari sudah semakin siang. Toko-toko sudah dibuka. Orang-orang sudah banyak keluar keringat. Waktunya berganti giliran.

Segera nenek membereskan dagangannya dibantu oleh cucu yang baru saja beranjak dari emperan toko sepeda, tempat ia berteduh. Kali ini dagangannya laku banyak, tinggal beberapa bungkus saja yang memang disisakan untuk penjual pakaian di dalam pasar. Penjual sayur, bumbu dapur dan ikan asin yang sejak pagi disitu pun harus berpindah tempat karena tempat dagang mereka disulap menjadi lahan parkir pasar ketika siang menjelang. Mereka belum memiliki tempat dagang permanen.

Sang nenek dan cucu mulai meninggalkan tempatnya. Selalu melepaskan senyum sampai jumpa buat teman-teman mereka yang baik hati itu. Berjalan melewati lorong pasar yang sempit. Berdesakan di dalam kerumunan orang-orang. Tak jarang tubuh kecil cucu pun  hampir jatuh tersenggol pantat-pantat genit para penjual dan pembeli yang mengoceh dengan gaya bahasa yang khas.

Sampai di ujung lorong yang banyak baju dan celana di kanan-kirinya. Ada juga beberapa pedagang tembakau di sebelah kanan agak kebelakang. Aroma keringat, baju baru dan tembakau bercampur aduk di sini. Menciptakan suasanya yang tak akan dijumpai pada rumah-rumah mewah perkotaan.

Pedagang pakaian langganan nenek pun langsung beranjak dari tempatnya begitu tahu nenek sudah datang.Legendar buatan nenek memang menjadi teman makan siang favoritnya. Si penjual tembakau juga kadang-kadang memborong dagangan nenek walaupun tidak setiap hari. Malahan juga kadang tidak membeli dagangan nenek sama sekali  ketika tak ada yang membeli tembakaunya.

Nenek dan pedagang lain di pasar ini memang berteman baik. Kita harus selalu menjalin selaturahmi dengan orang lain agar persaudaraan kita tak pernah putus, kata nenek kepada cucu.

Waktunya kembali ke rumah. Hari ini mereka diberi rizki yang banyak oleh Allah. Ketika sampai di depan penjual tempe, cucu minta kepada nenek untuk membelikannya buat kakek yang berada dirumah. Kakek sudah tidak bisa beraktivitas yang berat lagi sejak jatuh dari sepeda waktu akan memintakan izin anak bungsunya tidak masuk sekolah karena sakit beberapa tahun silam. Dua tahun lebih kakek tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Namun sekarang sudah bisa beraktivitas walaupun tidak berat-berat.

Menuju terminal, beranjak meninggalkan tempat pertemuan. Sampai jumpa kawan-kawan. Subuh yang damai. Subuh yang indah, kata cucu sambil melambaikan tangan.