Sudah beberapa minggu wilayah Magelang tidak turun hujan. Kemarau. Bila siang hari udara panas menyengat dan bila malam hari udara terasa dingin menusuk tulang. Sisa-sisa debu muntahan Merapi kini mudah sekali beterbangan bila ada angin berembus. Di jalanan, di atas genting, pada daun dan ranting pohon masih ada saja debu sisa Merapi.

Sejak erupsi Merapi yang terakhir beberapa bulan lalu, hujan sempat turun dan menyapu abu Merapi meski tidak seluruhnya. Hujan yang tak kunjung turun lagi dan udara panas di siang hari membuat debu-debu itu mudah sekali beranjak dari tempat satu ke tempat lainnya.

Jalan Raya Jumoyo, Salam

Jalan Raya Jogja - Magelang, Jumoyo, Salam

Saya pun kini harus mengenakan masker tiap kali pergi mengendari sepeda motor. Padahal sebelumnya saya jarang memakai masker. Selain agar meminimalisir masuknya debu ke paru-paru, asap hitam dari knalpot kendaraan itu sungguh menyebalkan.

Pemukiman Warga Jumoyo yang Telah Tertimbun Material Merapi

Pemukiman Warga Jumoyo yang Telah Tertimbun Material Merapi

Jalan raya Jogja-Magelang di daerah Jumoyo Salam yang pernah tertimbun material dari Merapi menjadi lahan yang mudah sekali menyebarkan debu ketika kendaraan melintasinya.

sungai pabelan setelah terkena lahar dingin

sungai pabelan setelah terkena lahar dingin

Jembatan Pabelan yang putus karena terkikis derasnya aliran lahar dingin kini sudah dibangun lagi dan dapat dilalui. Wajah sungai Pabelan berubah sejak menjadi sirkuit lahar dingin Merapi. Dulu alirannya airnya cukup deras namun sekarang lebih banyak pasirnya.

Semoga hujan lekas turun dan memberi kesejukan.