Jalur Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik

Menjelang maghrib kami tiba di basecamp Desa Butuh. Disambut oleh Ibu Kadus dengan senyum ramah yang menghangatkan ketika kabut petang menyelemuti lereng gunung Sumbing. Kami cek kembali perlengkapan dan bekal menuju puncak. Memastikan semua dalam kendali. Tak lama berselang Ibu Kadus datang dari dapur membawakan untuk kami minuman hangat.

Jam 19.30 usai Isya berjamaah kami mulai menapakkan kaki pada bidang miring berbatu itu. Selangkah demi selangkah merasakan tarikan gravitasi yang mulai memberat. 500 meter pertama adalah sambutan meriah untuk kami. Nafas mulai menderu dan tempo jantung kian cepat.

Istirahat sejenak, atur nafas karena jalan masih panjang. Kami harus pandai-pandai menyelaraskan irama tarikan nafas dan langkah kaki.

Kabar tak sedap mulai muncul di tanjakan awal. Seorang kawan kami, Iphi, mulai kelelahan dan menyatakan tak sanggup lagi. Lihatlah, kedua kakinya tremor seperti tengah menari Aserehe. Kami kembali berhenti dan berdiskusi sebentar. Jalan masih panjang. Sepertinya mustahil jika Iphi ikut melanjutkan. Lantas kami putuskan agar Izen menemani Iphi selagi kami terus melanjutkan pendakian. Sementara itu mereka berjalan pelan-pelan di belakang kami.

FYI, olahraga sebelum melakukan pendakian itu sangat penting. Penting.

Sekitar 1 jam berlalu pos pertama belum juga nampak. Entah sudah berapa kali kami istirahat. Kali ini kami istirahat agak lama sekitar 20 menit. Entah saking capeknya atau bagaimana saya merasakan gempa saat selonjoran di tanah. Hal senada juga diamini oleh kawan-kawan. Belakangan saya ketahui bahwa itu memang gempa yang malam itu terjadi di Gunungkidul.

Perlahan namun pasti kami lanjutkan mendaki. Pos pertama kami temui ketika lama perjalanan nyaris 2 jam. Setelah pos pertama terlewati, tanjakan yang makin yahud menghadang di depan mata. Oh man, barangkali kemiringannya nyaris 45 derajat. Dan itu panjang. Panjang.

Sepanjang tanjakan dari basecamp hingga pos 1 kamu akan disuguhi pemandangan perkebunan wortel, brokoli, tembakau dan sayur-mayur lainnya. Sedangkan pos 1 hingga pos 2 kamu akan memasuki hutan pinus.

Frekuensi istirahat makin rapat. Tenggakan air minum pun kian cepat. 1 jam kemudian kami tiba di pos 2. Lega rasanya setelah selama itu menggunakan gigi 1 pada transmisi kaki-kaki kami. Kini saatnya oper gigi transmisi lebih tinggi.

Jalur dari pos 2 hingga pos 3 adalah bonus. Track yang dilalui lebih banyak landai dan kamu bisa lebih menghemat air minummu. Ada sungai yang membelah jalur pendakian saat musim hujan. Sayangnya sungai itu kering ketika kami lewati kemarin. Sisa-sisa kebakaran awal September dapat kamu lihat sepanjang jalur bonus ini. Menurut Pak Kadus Butuh, kebakaran kali ini adalah kebakaran Sumbing terbesar yang pernah beliau ketahui.

Kami tiba di pos 3 nyaris tengah malam. Rasa lelah mulai mengacaukan konsentrasi kami dalam memijakkan kaki. Lepas pos 3 jalur pendakian mulai menanjak tajam. Melewati sisa-sisa hutan kemudian membentang sabana lengkap dengan embusan angin dinginnya. Sebelah kanan adalah jurang. Perlu kehati-hatian yang ekstra untuk melewati jalur ini. Terlebih pada malam hari. Pada tahap inilah keletihan saya sangat berasa. Hampir saya memutuskan untuk mendirikan tenda di sini. Pencarian Pohon Tunggal yang tak kunjung menuai hasil membuat letih kian letih.

Rombongan terpisah. Yazid, dan 2 kawan yang masih SMK berjalan jauh di depan. Saya di tengah dan Ican serta kawannya tertinggal di belakang. Kemudian saya teringat Iphi. Bagaimana keadaannya? Apakah melanjutkan pendakian atau turun ke basecamp?

Pos 4 akhirnya berhasil saya pijak tepat jam 2 pagi. Sudah ada 1 tenda berdiri di sana. Kami tak lantas mendirikan tenda karena frame-nya ada di carrier Ican. Sedang ia masih tertinggal di belakang. Ia pun sampai pos 4 satu jam kemudian.

Usai sholat Subuh dan sarapan, sekitar jam 7 saya, Yazid, Naja dan seorang kawan lagi mulai mendaki ke puncak. 2 kawan lainnya tinggal di tenda. Dari pos 4 hingga puncak Sejati kami tempuh selama 2 jam. Oh man, akhirnya kami benar-benar sampai di puncak Gunung Sumbing 3371 mdpl. Soal view beh keren. Keren. Tuhan Maha Mendesain.

Kami turun dan sampai di pos 4 jam 11. Tidur sebentar lalu jam 12 persiapan turun gunung. Jam 1 mulai turun menapaki jalur yang tadi malam kami lewati. Sampai basecamp sekitar jam 5 sore.

Well, kapan kamu akan naik ke puncak Sumbing?

6 Comments

Add yours →

  1. keren mas. insya Allooh tanggal 5 saya dengan beberapa teman akan ke sumbing, via kaliangkrik juga. doakan 🙂

  2. Penasaran gan ndaki lewat jalur Kaliangkrik…

    Ane pernahnya cuma lewat Garung..

  3. Irvan Prastya

    May 5, 2016 — 12:50 am

    mas mau tanya, itu biaya angkot dr alun2 magelang brp ya ke pasar kaliangkrik?, trus biaya ojek dr pasar kaliangkrik – basecamp jg berapa ya mas? terima kasih

    • Angkot dari alun-alun Magelang saya kurang tahu berapa tepatnya. Saya sarankan menggunakan sepeda motor sendiri agar lebih fleksibel.

  4. Mas mau tanya jalan ke basecamp bisa pake mobil ga ya?

Leave a Reply