Diorama Kesembilanbelas

Episode 1

Di negeri Utopia semua makhluk berbahagia. Orang-orang makan makanan yang diolah secara sempurna dari kebun sayuran yang berada di atas bukit dan daging dari hewan ternak di lembah bukit. Mereka minum air dari sungai yang mengalir dari balik pegunungan yang membentang mengelilingi seluruh negeri.

Airnya jernih dan bersih. Tak ada penyakit di negeri itu. Saat musim panas tiba sungai itu tak pernah kering. Selalu mengalir. Udara disana sejuk namun memiliki cahaya cukup untuk membantu proses fotosintesis tumbuhan. Tak ada yang merasa kepanasan atau pun kedinginan disana. Jika matahari terlalu banyak memancarkan panas, maka awan-awan pun bergerombol  melindungi seluruh negeri. Sebaliknya, jika dingin menerpa matahari akan lebih banyak memancarkan panas dan awan pun memberinya jalan agar negeri itu bisa hangat kembali.

Anak-anak bermain di sebuah halaman hijau yang luas. Mereka berkejar-kejaran. Ada juga yang bermain layangan. Para ibu memetik buah-buahan yang mereka tanam di kebun. Para lelaki dewasa bekerja dengan giat dari pagi sampai sore.

Ia masih belum mengerti mengapa bisa sampai di negeri itu. Awalnya ia berbaring ditempat tidur setelah menyelesaikan tulisannya dan menghabiskan segelas kopi saat hening mulai mencekam sekeliling kamar yang berhamburan pakaian kotor yang belum dicuci. Dilihatnya setitik cahaya dari jendela kamar. Cahaya itu lama-kelamaan makin mendekat. Ia heran lalu membuka jendela. Seketika tak sadarkan diri ketika cahaya itu menghantam tepat di dada kirinya dan membuai hingga ia benar-benar terlena. Ketika sadar  sudah berada di tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya.

Dari atas bukit itu ia bisa melihat seluruh negeri sejauh mata memandang. Pemandangan yang sangat indah tak seperti di kampung halamannya. Ia benar-benar takjub atas apa yang tengah diilihat. Perlahan mulai ia seret langkah menuju lembah. Namun rumput-rumput itu tak mengizinkannya untuk melangkah. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh jangkung itu. Ia  pun melayang di atas rerumputan. Lalu rumput-rumput itu mendorongnya hingga ia meluncur seperti mamakai sepatu roda sampai di lembah. Ia heran dengan apa yang dialaminya baru saja. Lalu semilir angin menggoyangkan rumput-rumput itu seperti melambai padanya.

Orang-orang di lembah yang ia jumpai selalu melempar senyum. Mereka ramah. Pakaian mereka rapi dan bersih. Aroma tubuh mereka seperti pernah ia kenal. Seorang tua berambut putih menyapanya. “Selamat datang anak muda”, Kata lelaki tua itu. Dilihatnya cara mereka senyum, menyapa, ia merasa kedatangannya memang sudah diketahui atau mungkin memang sudah ditunggu. Ia mulai mengingat sesuatu. Cahaya itu. Cahaya dari jendela kamar itu yang telah mengantarnya kesana.

***

Episode 2

Seperti  hanya merasakan separuh dari gravitasi bumi. Ia melangkah ringan sekali. Hampir melayang. Ya, ia memang melayang di lembah itu. Orang-orang disekitarnya pun begitu. Tempat apa ini sebenarnya, pikirnya.  Udaranya aneh mataharinya juga aneh.  Buah-buahan tiap jam masak dari pohonnya. Burung-burung melagu merdu sekali.

Angin berhembus membelai rambutnya yang kini sudah agak panjang karena sejak lulus SMA ia sudah jarang potong rambut. Pandangannya tertuju pada satu tempat diujung jalan sebelah kiri pohon jambu. Di sana ada kerumunan. Mungkin sedang ada tontonan.

Ada  seorang ibu yang  baru saja melahirkan rupanya. Bayi laki-laki. Matanya tajam. Tangisnya keras sekali. Seorang bocah berkulit agak gelap menggodai bayi yang baru saja lahir itu, memegang hidungnya dan memainkan pipinya yang kenyal seperti jelly.

Orang-orang  makin banyak yang datang ingin melihat bayi kecil itu. Seorang nenek dan lelaki tua yang dijumpainya saat turun dari bukit pun datang. Mereka membawakan perlengkapan untuk si  bayi.

Ia masih belum sepenuhnya mengerti. Lalu beranjak menuju lapangan  tempat anak-anak main layangan. Ia duduk pada sebuah bangku didekat gawang. Ia seperti mengenal bocah yang berkaos putih yang  manarik-ulurkan tali layangannya  itu. Rambutnya cepak dan menantang langit. Tapi kapan dan dimana pernah menganalnya.

Nyaman sekali ia di sana, tenang dan damai tapi tidak membuatnya mengantuk. Sering ia ketiduran saat bersantai dibangku kayu di belakang rumah karena suasananya nyaman. Namun tidak untuk kali ini.

Hari sudah sore. Anak-anak pulang ke rumah. Bayi kecil tengah menetek ibunya. Burung-burung masih bernyanyi. Tampat apa ini, kalimat tanya yang masih mengambang di kepalanya.

***

Episode 3

Magelang, Mei akhir abad 20

angin menggoyangkan pucuk-pucuk bunga hingga serbuk sarinya berterbangan memenuhi angkasa yang kebiruan saat ia terbaring pada bangku kayu dekat lapangan.

Hening seketika menikam tiap gerak suara.

Memadukan dua lagu yang kontradiksi.

satu cinta,

satunya lagi benci.

AKU DIMANA???

teriaknya dalam kebisuan

***

Episode 4 (End)

Awal abad 21

Ia beranjak dari tempat duduk, dilihatnya langit makin membiru. Air bernyanyi, berkolaborasi dengan bebatuan kali. Rumput masih menari dan bayi kecil berhenti menagis.

Kali ini ia berada di tengah jalan. Disebelah kirinya adalah bangku kayu yang baru saja ia tinggalkan. Sebelah kanannya ada kolam kecil dengan air mancur ditengahnya. Ia merasa haus lalu minum dari air mancur itu. Airnya berasal dari pengunungan yang mengelilingi negeri.

Sewaktu minum, bayi kecil yang baru saja lahir itu mengahampirinya. Bagaimana mungkin bayi yang baru lahir sudah berjalan, pikirnya. Tapi negeri itu memang aneh. Bayi kecil lantas bicara padanya, “selamat datang di diorama kesembilanbelas”. Ia tetap kebingungan.

Lalu burung-burung turun padanya dan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun, diikuti oleh  rerumputan, batu, air, pohon, lumut, bunga, udara dan yang ada di negeri itu. Semua bernyanyi untuknya. Orang-orang yang tadi ia jumpai datang dan memeluknya. Mereka tersenyum bahagia. Seorang tua berkata padanya, “18 diorama telah kau buat, kali ini kau harus buat yang lebih bagus lagi pada diorama kesembilanbelas”.

Ia ikut tersenyum bahagia, meski ia merasakan anehnya negeri ini. Sebentar ia memejamkan mata berdoa kepada Allah agar diberikan yang terbaik.

Saat membuka mata ia sudah berada kembali di kamar. Terima kasih, ucapnya.

*) terimakasih untuk semua yang pernah kutemui sampai di akhir 18 tahunku, yang membuatku menjadi sekarang ini. Saatnya membuat cerita baru di 19 tahun.

16 Comments

Add yours →

  1. Indahnya tatkala kita bisa berada pada lingkungan yang nyaman penuh kedamaian dan persaudaraan

    Di sana, di balik jendela itu selayaknya memang ada 🙂

  2. kirain grup musik utopia… 🙂
    salam kenal ya… 🙂
    kunjungan balik perdana.. 🙂
    hehehe

  3. Utopia tuh negeri Impian ya ???
    nice posting

    salam kenal
    kunjunagn perdana

  4. kaya negeri impian aja, pas enak banget hidup disana.

  5. seandainya ada pesawat ke negeri itu..
    lia boleh ikutan ya 🙂

  6. salam sahabat, gan
    orang magelang ya, aku orang temanggung…
    sering ikut kopdaran dengan komunitas blogger magelang tidak gan http://pendekartidar.org/

  7. Sai,,
    aku bingung mau k0mentar apa,
    yg jelaz i Like it. ,
    kata2nya indah banget, 🙂

  8. mantab jga bro, bole” banged

Leave a Reply