Buku Citra Rashmi – Konspirasi Putri Mahkota cukup manarik hati saya untuk membacanya lebih dalam setelah mengintip beberapa lembar prolog. Awalnya tidak ada ketertarikan untuk membaca cerita kerajaan Nusantara dalam bentuk novel. Tapi ternyata semakin dibaca, Citra Rashmi semakin membuat penasaran.

Buku setebal 621 halaman ini menceritakan Citra Rashmi, seorang putri mahkota kerajaan Sunda yang akan dipersunting oleh raja Majapahit, Hayam Wuruk. Tapi sebelum hari besar dengan Hayam Wuruk tiba, banyak kisah yang dialami Citra Rashmi sejak masih kecil hingga dewasa. Kisah-kisah itulah yang diceritakan dalam buku karya Tasaro ini.

Kekhawatiran terhadap makin besarnya kelompok pemberontak yang akan menggulingkan kekuasaan, membuat Raja Sunda mengutus putri kecilnya, Sannaha, nama samaran Citra Rashmi, untuk menjadi mata-mata di padepokan Candrabhaga. Candrabhaga adalah sosok yang dicurigai oleh Raja bahwa kelak akan memimpin pemberaontakan besar. Oleh karena itu putrinya dikirim ke padepokan untuk berlatih ilmu kanuragan dan juga sebagai mata-mata.

Sementara itu kelompok perompak Yaksapurusa berkali-kali membuat onar. Tapi ada hal lain yang terjadi dengan putra tunggal pemimpin perompak, Purandara, yang menaruh hati kepada Sannaha. Mungkin sejak terjadi penculikan Sannaha sewaktu masih kecil oleh perompak Yaksapurusa. Purandara kecil membebaskan Sannaha meskti harus mendapat hukuman dari ayahnya dan berkelahi dengan sejumlah anak buah pemimpin.

Meski harus bertentangan dengan ayahnya, bekali-kali Purandara menyelamatkan Sannaha. Bahkan ketika terjadi pertarungan besar antara dirinya dengan anak buah Yaksapurusa di padepokan Candrabhaga. Pertarungan yang mengakibatkan guru tercinta Sannaha, Candrabhaga, tewas di tangan para perompak.

Di dalam kerajaan pun tengah terjadi masalah besar. Ada ancaman yang dapat menggulingkan posisi Sannaha sebagai putri mahkota. Selir Sang Raja tengah menyiapkan putranya untuk menjadi pewaris tahta jika Sannaha tidak segera berindak.

Tasaro begitu piawai merangkai kata. Pemilihan diksi yang tepat untuk menggambarkan imajinasi penulis juga saya rasa pas. Bahkan penggambaran Tasaro ketika Citra Rashmi tengah bertarung dengan gerombolan perompak pun begitu detail. Saya bisa merasakan hembusan angin yang diakibatkan kibasan pedang Citra Rashmi ketika menghujam gerombolan perompak. Bising pedang yang beradu. Helai halus rambut dan pakaian Citra Rashmi juga digambar begitu elok oleh Tasaro.

Citra Rashmi – Konspirasi Putri Mahkota bukan buku yang jelek. Buku pertama dari dwilogi karya Tasaro ini layak untuk dibaca. Cerita yang menarik dan penggambaran cerita yang baik. Dan karea buku ini, sepertinya saya mulai tertarik untuk membaca kisah Nusantara dalam bentuk novel selanjutnya.