Sudah menjadi  ritual bertahun-tahun bagi umat Buddha merayakan Waisak di candi Mendut, candi Pawon dan Candi Borobudur.  Waisak tahun ini dipusatkan di candi Borobudur.

Saya  tidak membahas secara detail prosesi  perayaan Waisak di sini. Tapi saya akan sedikit menulis soal fenomena yang selalu  mengiringi  Waisak tiap tahunnya. Hari-hari biasa sebenarnya tempat tujuan wisata ini memang  ramai, apalagi pada hari-hari libur. Namun kali ini lebih ramai dari biasanya. Tiap tahun memang begitu. Bukan hanya ramai karena banyak biksu yang berdoa di pelataran candi, namun juga para pedagang yang ingin meraup untung dalam keramaian orang-orang yang ingin menyaksikan seperti apa sih perayaan Waisak itu.

Bagi saya pribadi hal ini bukan aneh lagi. Dari kecil saya sudah akrab dengan fenomena ini. Terlebih dengan penjual mainan yang memenuhi trotoar jalan. Atau penjual makanan dan minuman yang memang sengaja hanya berdagang di tempat itu dari tiga hari sebelum Waisak sampai acara perayaan Waisak selesai.

Jalanan disulap menajadi lahan bisnis oleh mereka. Sisa-sisa Asrama sekolah Katholik pun makin tak kelihatan karena banyaknya pedagang.  Tentu saja kesempatan ini adalah hal yang baik bagi mereka, para pedagang dadakan.

pelataran_waisak_candi

pedagang_waisak

pedagang_barongsai

jalanan_candi_mendut

jalanan_mendut

Inilah yang saya lihat, Mendutku.