Candi Mendut

Rasanya saya patut berbangga karena terlahir di bumi seniman-seniman besar dengan mahakarya yang luar biasa. Moyangku memang orang-orang hebat. Mereka menciptakan mahakarya Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur dengan detail yang mengagumkan.

Candi Mendut adalah salah satu dari tiga serangkai candi yang ada di kabupaten Magelang. Letak candi ini berada paling timur dari ketiga candi tersebut, tepatnya di Desa Mendut, kelurahan Mendut, Kec. Mungkid, Kabupaten Magelang.

Candi yang dibangun pada masa dinasti Syailendra ini menjadi saksi betapa asyiknya masa-masa itu. Masa dimana bermain sepak bola bersama teman-teman saat saya masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (SD). Sekolah saya waktu itu belum mempunyai lapangan olahraga sendiri, jadi tiap kali ada pelajaran Penjaskes kami menuju taman Candi Mendut.

Candi Mendut

Di dalam candi yang di bangun tahun 824 M pada masa raja Indera ini terdapat 3 buah patung besar:

  • Cakyamuni: duduk bersila dengan posisi tangan memutar roda dharma.
  • Awalokiteswara sebagai Bodhi Satwa membantu umat manusia
    Awalokiteswara merupakan patung amitabha yang berada di atas mahkotanya, Vajrapani. Ia sedang memegang bunga teratai merah yang diletakkan di atas telapak tangan.
  • Maitreya sebagai penyelamat manusia di masa depan

Stupa di Candi Mendut

Relief tentang burung dan kura–kura ini yang menjadi cerita favorit teman-teman waktu kecil. Relief ini menceritakan tentang tiga sahabat, yaitu dua angsa dan satu kura-kura. Suatu saat tempat tinggal mereka dilanda kemarau, mereka bertiga (angsa dan kura-kura) memutuskan untuk pindah. Namun karena kura-kura tidak bisa terbang, maka kedua angsa itu membantunya dengan sebuah kayu agar kura-kura bisa menggigit kayu itu dan ikut terbang bersama-sama.

Versi lain menyebutkan:

Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini:

Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Danau itu sangat permai, banyak tunjungnya beranekawarna, ada putih, merah dan (tunjung) biru.
Ada angsa jantan betina, berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal airnya dari telaga Manasasara.Adapun nama angsa itu, si Cakrangga (nama) angsa jantan, si Cakranggi (nama) angsa betina. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati.
Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Si Durbudi (nama) si jantan, sedangkan si Kacapa (nama) si betina.
Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. [Kedua] angsa, si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura; si Durbudi dan si Kacapa. Katanya:
“Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Kami ingin pergi dari sini, sebab semakin mengeringlah air di danau. Apalagi menjelang musim kemarau.Tidak kuasalah kami jauh dari air. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini, mengungsi ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Amat murni airnya bening dan dalam. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Di sanalah tujuan kami kawan.” Begitulah kata si angsa.Maka si kura-kurapun menjawab, katanya:
“Aduhai sahabat, sangat besar cinta kami kepada anda, sekarang anda akan meninggalkan kami, berusaha untuk hidupmu sendiri.
Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda, tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut, dalam suka dan duka anda. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian.
Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada akal. Ini ada kayu, pagutlah olehmu tengah-tengahnya, kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu, [hanya] janganlah kendor anda memagut, dan lagi jangan berbicara. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti, janganlah hendaknya anda tegur juga. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. Itulah yang harus anda lakukan, jangan tidak mentaati kata-kata kami. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan, akan berakhir mati.”Maka demikianlah kata angsa.
Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura, ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa, di sana dan di sini, laki bini, kanan kiri.Segera terbang dibawa oleh angsa, akan mengembara ke telaga Manasasara, tempat tujuan yang diharapkannya. Telah jauh terbang mereka, sampailah di atas ladang Wilanggala.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Si Nohan nama si anjing jantan, si Babyan nama si betina. Maka mendongaklah si anjing betina, melihat si angsa terbang, keduanya sama menerbangkan kura-kura. Lalu katanya.“Wahai bapak anakku, lihatlah itu ada hal yang amat mustahil. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering, sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa, begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan.
Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura, marahlah batinnya. Bergetarlah mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering, sarang karu-karu.
Maka mengangalah mulut si kura-kura, lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina.Si angsa malu tidak dipatuhi nasehatnya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara.

Relief burung dan kura-kura

Selain cerita tentang kura-kura dan burung angsa, masih ada lagi cerita tentang “Brahmana dan Kepiting” yang menceritakan tentang  seorang brahmana yang menyelamatkan seekor kepiting untuk kemudian kepiting ini membalas budi dengan cara menyelamatkan brahmana dari gangguan gagak dan ular. “Dua Burung Betet yang Berbeda” mengisahkan kelakukan dua burung betet yang sangat berbeda karena satunya dibesarkan oleh brahmana dan satunya lagi oleh seorang penyamun. Dan  “Dharmabuddhi dan Dustabuddhi” tentang dua orang sahabat yang berbeda kelakuannya dimana Dustabuddhi yang memiliki sifat tercela menuduh Dharmabuddhi melakukan perbuatan tercela, namun akhirnya kejahatannya terbongkar dan Dustabudhi-pun dijatuhi hukuman.

Karena itu, meskipun bukan saya yang membuatnya tapi ada satu rasa keharusan bagi saya untuk turut merawatnya sebagai warisan mahakarya dari moyangku.

  • Vira

    Sip, turut mempromosikan warisan budaya

    • http://kamarkecil.com arif

      iya, karena itu kita jangan malu mengaku sebagai bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah yang kaya akan budaya.

      • Vira

        Merdeka!! haha… Indonesia harus tetap merdeka..!!

        • http://kamarkecil.com arif

          Yups.. bener banget

  • http://kamarkecil.com dede

    nice article, mengangkat budaya kita

    • http://kamarkecil.com arif

      ya, terima kasih. sering2 datang ya…

  • http://kamarkecil.com anto

    kalau Waisak ramai ya?

    • http://kamarkecil.com arif

      iya, pasti ramai. Karena acara perayaan hari raya Waisak dari candi Mendut menuju candi Borobudur

  • http://kamarkecil.com Mr. White

    Jadi pengen ke Magelang lagi. Suasananya nyaman. nice post!

    • http://kamarkecil.com arif

      datang saja lagi mister.. hahaha

  • iphiimo

    owh gt…. ak pnh kesana tp sayang lum tau maksud semua itu…. jd gak mpelajari

    • http://kamarkecil.com arif

      mari kita belajar bersama-sama

  • http://kamarkecil.com Mr. White

    nice post bro!

    • http://kamarkecil.com arif

      thank, loh kok Mr. White ada 2??

      • http://kamarkecil.com Mr. White

        yang ini Mr.White dari Texas,,,

        • http://kamarkecil.com arif

          Ok deh, dari mana saja yang penting rajin berkunjung :)

  • http://phiy.web.id phiy

    wuah, aku belum pernah ke candi mendut nih, baru ke pernah ke borobudur aja. Katrok ya, wkwkwkwk :lol:

    • http://kamarkecil.com arif

      padahal dekat loh, huhuhu… :)

  • Lilik S.

    pgend k candi mendut. tp dr ngroto naik ap y????hahagz

    • http://kamarkecil.com arif

      naik bus. jalan kaki juga dekat kok :)

  • http://hanyanulis.wordpress.com/ Dika

    Senang bisa berkunjung ke sini, nggak usah jauh ke klaten atau jawa tengah untuk bisa melihat candi, karena di sini sudah terpampang dengan jelas gambar candi warisan leluhur kita yang begitu powerfull

  • http://aiimoet.net ai

    sayangnya saya belum pernah kesana…pengen deh bisa ke sana.. :(

  • chuchup

    wah…..
    krang legkap ni…..
    kurang dicantumkan di mana desanya, kec,kab ,prov
    dan peninggalan agama apa???

    ok….

  • http://onlinepreneurship.blogspot.com/ aris

    asyik dong, sambil olahraga sambil tamasya