Category: Celoteh (page 1 of 5)

Seberapa kuat kita mengatur kekuatan

Orang yang kuat adalah…. Tunggu. Biar kutebak.

Kamu mungkin berpikir bahwa orang yang kuat adalah mereka yang mengoptimalkan ototnya sehingga dapat mengangkat suatu benda atau mendorongnya. Atau mereka yang melumpuhkan lawan dengan sekali tinju.

Secara harfiah memang orang seperti itu dikatakan kuat. Kuat secara fisik.

Sore ini, seorang tua bicara denganku sembari menunggu hujan reda. Ia bertutur banyak soal kemanusiaan. Soal bagaimana manusia mempergunakan kekuatan dan kekuasaan, salah satunya.

Kekuatan fisik seringkali menjadi modal utama untuk mengalahkan lawan. Pembantaian saudara-saudara kita di belahan bumi lain tak akan terjadi jika saja kekuatan mereka tidak lebih besar satu sama lain.

Atau tentang kekuasaan yang diamanahkan, justru disalahgunakan untuk menguntungkan diri sendiri. Ya, kadang orang-orang yang kita pilih untuk jadi pemimpin justru menyeleweng.

Saya jadi ingat kakek mengajariku berpuasa bukan untuk mendapat hadiah dari Tuhan, ia mengajarku puasa untuk mengatur seberapa kuat dapat mengatur kekuatan.

Pahami Lawan Bicaramu

Perbedaan maksud suatu pesan saat disampaikan dan diterima sering terjadi. Entah itu dari cara kamu penyampaikan atau dari penerimanya sendiri.

Kamu harus lebih bisa memahami lawan bicaramu. Pahami bagaimana ia merespon. Redam ego jika perlu. Itu akan membuatmu lebih dewasa.

Seberapa Taat

Kalau kita cermati, aturan-aturan yang dibuat itu adalah hal-hal yang tidak kita sukai.

Orang-orang pada dasarnya tidak senang berpuasa juga sholat dan apapun itu yang diperintahkan Tuhan.

Buat apa Tuhan memperintahkan untuk melakukan yang hal kita sukai, jika dengan senang hati mau melakukannya. Karena Tuhan melihat esensinya: seberapa taat kita bersedia ikhlas menjalankan perintahnya.

Tentang Ke-Jogja-an Jogja

Akhir-akhir ini pembangunan gedung bertingkat di Jogja makin banyak. Gedung-gedung baru yang entah untuk apa bermunculan  memberi warna lansekap berbeda dari sebelumnya. Bisa jadi itu akan jadi pusat perbelanjaan, perkantoran, perhotelan atau semacamnya.

Keheterogenan sangat kental di kota ini mengingat ribuan pelajar dan pekerja dari berbagai penjuru ada disini. Mereka memberi pengaruh pada perkembangan kota ini dengan membawa budaya asal masing-masing. Budaya desa dan budaya kota.

Mereka yang membawa budaya desa dengan bergaya hidup sederhana, ramah menyapa akan memberi kekuatan lebih untuk menjaga ke-jogja-an Jogja.

Saya khawatir pada

Mereka yang datang dengan membawa budaya barat lebih dominan membuat pergeseran gaya hidup sederhana menjadi konsumtif. Jika gedung-gedung yang baru dan akan dibangun bertujuan untuk hal itu, saya khawatir Jogja menjadi kota metropolitan yang kehilangan ke-jogja-annya.

Sama Saja

Seseorang berkata, “Saya lain dari lainnya, saya lebih baik darinya”

Seorang lain berkata, “Aku yang terbaik, lainnya tidak lebih baik dariku”

Seorang lagi berkata, “Yang lain itu jelek, saya lebih baik dari mereka”

Sama halnya dengan mereka yang menawarkan suatu produk yang menyatakan produknya lebih baik. Hei, lalu apa bedanya jika semua menyatakan satu hal yang sama, “produk saya lebih baik”?

Kota Baru

Sejak saya mulai kuliah dan membiasakan diri dengan suasana kota Jogja, saya benar-benar jatuh cinta dengan kota ini. Kota budaya yang menyimpan nilai-nilai estetika yang menjadikannya istimewa. Kota pelajar dengan sejumlah pendatang dan pribumi yang menimba, mengembangkan dan merumuskan ilmu dengan bermacam topik studi pada sejumlah perguruan tinggi.

Disini saya ditempa menjadi pribadi yang memiliki tujuan yang akan menjadi patokan kemana langkah selanjutnya. Tidak hanya dari lingkungan kampus, berbagai komunitas, pengalaman berdiskusi  dengan berbagai macam manusia, juga lingkungan kerja menjadikan diri saya lebih memahami bahwa hidup tidak sekedar hidup.

Saya jatuh cinta dengan kota ini dan bermimpi memiliki rumah di salah satu sudutnya, Kota Baru. Agar satu waktu saya bisa tinggal lebih lama untuk sekedar menikmati manis senyummu. Tahun depan saya masih disini atau di kota lain.

Membayangkan Sekali Lagi

Membayangkan Ibu sedang masak di dapur. Ayah memperbaiki pagar rumah kami yang rusak. Adik perempuan atau laki-laki yang sedang saya ajari PR matematika. Atau mungkin juga kakak perempuan yang sedang menyiram tanaman bunga di taman dekat pohon rambutan. Hanya membayangkan saja.

Satu waktu saya membayangkan betapa serunya memiliki adik laki-laki atau perempuan. Saya akan siaga melindunginya. Atau dengan seksama mendengarkan adik perempuan saya bercerita tentang laki-laki yang menyukainya. Membelikannya eskrim atau bersama-sama naik ke puncak gunung.

Sekali lagi, hanya membayangkan.

Tentang Persepsi

Kamu bisa saja menemukan BAB 1 sebuah skripsi yang sudah ditulis berminggu-minggu sebelumnya dan itu telah disetujui  harus direvisi karena ketika dosen pembimbing kamu membaca BAB 3 atau 4 tidak sesuai dengan pemahamannya.

Atau,

Kamu bisa saja menemukan sebuah mockup yang telah disetujui harus diubah karena ketika diimplementasikan, sistem belum sepenuhnya menerima.

Samakan persepsi dari dua sudut pandang, karena cara pandang orang-orang bisa berbeda.

Lima Tahun Lagi?

Sabtu kemarin ada semacam acara “pencerahan otak” dari kantor. Seorang pembicara menanyakan mau jadi apa Anda 5 tahun lagi?

Lima tahun bisa jadi waktu yang sebentar atau bisa juga jadi waktu yang lama. Kalau kamu punya target dan terus bertekad menggapainya dan menikmati perjuanganmu, 5 tahun bisa jadi waktu yang singkat. Atau sebaliknya.

Kamu mesti lakukan mulai dari sekarang.

Ya, tentu saja sejumlah target yang mesti saya capai tahun ini sudah saya tulis di buku cacatan. Kamu harus punya daftar keinginan! Setidaknya lima tau enam tahun lagi kamu akan tersenyum ketika membacanya dan bilang,

Oh ya, ini yang aku mau beberapa tahun lalu dan kini sudah aku dapetin. Sekarang gilirinku membuat daftar keinginan yang baru“.

Sumpah Pemuda

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Djakarta, 28 Oktober 1928


 

Sejenak merenung betapa pemuda-pemuda terdahulu dengan semangat yang membara mempersatukan Indonesia. Sekarang, apa yang sudah kita lakukan untuk Indonesia agar semakin baik?