Az-Zahra: Writers4indonesia #6

SEKARANG aku tengah berdiri di padang rumput. Malam-malam sekali aku sengaja keluar untuk menghirup dinginnya udara kegelisahan. Suara jangkrik memberi aksen sebagai imbas dari bisunya malam. Sesekali juga terdengar gonggongan anjing. Mungkin seorang pencuri tengah beraksi atau hanya kelaparan karena sang majikan tak memberi makan sejak siang tadi.

Permukaan rumput yang kuinjak masih basah. Hujan sore menyisakan butiran-butiran kristal pada ujung daun dan rumput liar. Desember tahun ini hampir setiap sore diguyur hujan. Efek dari pemanasan global. Mestinya hujan mengguyur dari bulan Juli.

Ini bukan pertama kalinya aku datang dan bertemu dengnnya. Meski lupa kapan awal mula pertemuan ini, tapi masih jelas terekam dalam kepalaku suasana malam itu.

Ia melintas di langit pekat saat matahari telah lenyap. Ketika itu aku sedang membaringkan tubuhku di atas rumput di bukit yang berada tidak jauh dari tempat tinggalku. Sebuah tempat lapang, tapi tak seluas lapangan sepak bola. Disana ada sebatang pohon rambutan. Bila musim berbuah banyak anak-anak datang untuk memetiknya. Bila musim kemarau tiba, pohon itu lebih terlihat sebagai sebongkah kayu tua kering dengan ranting yang gemeretak ditiup angin.

Sewaktu masih duduk di sekolah dasar aku sering bermain disana bersama teman-teman. Anginnya cukup kencang untuk menerbangkan layangan hasil karya kami. Dibawahnya membentang rumput hijau dan sering ku geletakkan tubuhku disana sekedar menenangkan pikiran dari seribu pertanyaan yang belum kutemu jawabnya.

Pernah beberapa kali kami mendirikan tenda dan tidur disana. Membuat api unggun, membakar singkong dan memakannya bersama. Bagi kami keakraban itulah yang dinamakan pesta, bukan makanannya. Setelah itu bunyi kentut menjadi lebih meriah dari nyanyian jangkrik dan katak.

Mulanya kukira ia adalah benda langit sejenis meteor atau bintang jatuh. Memancarkan cahaya yang terang sekali diikuti ekornya yang juga tak kalah terang. Komet? Mungkin.

Makin lama kuperhatikan cahaya itu makin dekat. Makin terang. Aku beranjak dari tempatku. Cahaya itu melesat cepat sekali. Lebih cepat dari pesawat Sukhoi yang baru dibeli Indonesia dari Rusia. Kabarnya pesawat itu adalah pesawat tercanggih. Ah, pesawat-pesawat tempur itu hanya menyebabkan perang saja.

Tiba-tiba mulai nampak sosok perempuan dari cahaya yang menyilaukan itu. Seluruh tubuhku gemetar. Mungkin ketakutan. Atau penasaran. Rumput-rumput seolah jadi berperakat dan tak mengizinkan kakiku melangkah. Sebentar ia melayang di udara lalu meluncur persis di hadapanku kemudian kembali terbang ke langit. Mataku terbelalak dan pikiranku saat itu hanya tertuju pada satu pertanyaan, makhluk apa ini.
Kejadian itu terus berulang tiap kali aku datang ke padang rumput mengadukan kegelisahan kepada langit. Yang ada di langit. Bukan, tapi yang memiliki langit. Lama-lama aku terbiasa dengan kehadirannya yang tiba-tiba dan pergi semaunya. Kami hanya saling pandang dan tersenyum saat bertemu seperti karib yang sudah lama kenal. Ia dengan segera akan kembali meluncur ke langit.

Malam berikutnya aku menunggunya datang. Mempersiapkan seutas tali dari rumah untuk mengikatnya agar tidak buru-buru kabur. Menjerat makhluk halus? Sinting. Kupegang talinya dan kusembunyikan di balik punggungku. Lalu akan aku jeratkan saat ia berada persis di hadapanku. Tidak bisa. Gerakannya terlalu cepat. Belum sempat aku jerat ia sudah melesat lagi ke atas. Aku penasaran dengan makhluk satu ini. Mungkinkah ia malaikat? Tapi aku bukan nabi. Setahuku tak akan ada lagi nabi setelah orang Arab yang sangat terkenal ke segala punjuru dunia itu. Ataukah ia hantu seperti yang dikisahkan orang-orang; berpakaian putih, rambut panjang? Tapi wajahnya berseri dan ada sepasang sayap di punggungnya. Entahlah. Bukan wajah yang asing.

Lalu tiba-tiba ia kembali lagi di hadapanku. Wangi. Aku kira bukan parfum murahan yang ia pakai. Parfum import pun tak ada yang sewangi ini. Produk surga? Bisa jadi.

Kau tak perlu menjeratku dengan tali itu supaya aku menemanimu, katanya. Ahai, suaranya terdengar lembut dan merdu sekali. Mungkin aku tengah bermimpi, tapi aku merasakan sakit saat kucubit pipiku sendiri.

Namaku Az-zahra. Aku yang melintas di langit dan meluncur persis dihadapanmu saat kau gelisah. Akulah milikmu. Aku bidadarimu. Ungkapnya.

RABAAN matahari terasa hangat menyentuh permukaan kulitku yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Lalu-lintas kendaraan cukup ramai di pagi ini untuk kota sekecil Magelang. Di halte depan gedung kantor pemerintah kota ini hanya ada aku dan seorang perempuan berhidung mancung dengan kacamata bening di pangkal hidungnya. Pakaiannya cukup rapi. Sepatu putih bertuliskan All Star dan kemeja kotak-kotak lebih menonjolkan kesan tomboy daripada feminim. Usai Ujian Nasional kami memang diperbolehkan untuk tidak mengenakan seragam ke sekolah, asal berpakaian rapi.

Aku lihat jam tanganku sudah menunjukkan waktunya para siswa sekolah masuk kelas untuk menerima pelajaran pertama hari ini. Namun bus yang biasa mengantarku ke sekolah belum tiba. Bakal telat lagi sampai sekolah, gerutuku. Beberapa kali aku telat tiba di sekolah lantaran terlalu lama menunggu bus itu. Umurnya mungkin sama dengan Pak Sugeng, guru sejarah kami. Bus setua itu memang seharusnya sudah masuk museum.

Sementara mobil-mobil dinas para pegawai pemerintah mulai memasuki pelataran kantor. Tak ada tegur sapa diantara kami berdua. Entah sudah berapa kali Zahra tak menjawab saat kusapa. Mungkin ia masih marah kepadaku karena tanpa sengaja telah kuhilangkan essay tugas pelajaran Bahasa Indonesia miliknya. Atau mungkin karena tanpa sengaja juga aku telah menumpahkan cat minyak di rambutnya pada saat pelajaran Seni Rupa. Padahal aku telah minta maaf berulang kali. Entahlah, setiap kali aku bertanya apa salahku ia menjawab, pikir saja sendiri.
Bus datang. Kami segera beranjak naik. Kebetulan hanya ada dua kursi yang kosong didekat pintu. Kami duduk bersebelahan. Zahra di dekat jendela dan aku di sebelah kanannya. Sedikit basa-basi aku bertanya kepadanya, melanjutkan kuliah dimana. Mau tahu saja, jawabnya cuek. Ya sudah, ia memang masih marah.

Hari ini aku datang ke sekolah hanya untuk mengambil ijazah, lalu berangkat ke Yogyakarta untuk melengkapi syarat-syarat administrasi kuliahku. Pertanyaanku pada Zahra soal dimana dia akan melanjutkan kuliah itu hanya sekedar agar kami saling bicara, namun percuma. Sebenarnya, aku tahu ia telah diterima di salah satu universitas di Yogyakarta. Ia pernah bercerita ingin melanjutkan kuliah jurusan Antropologi. Mungkin ingin meneruskan perjuangan Pak Sugeng.

Bus berhenti. Kami tiba di depan sekolah. Kami masuk melewati pintu gerbang. Lagi, tanpa tegur sapa.

KAMI memutuskan akan turun ke jalan besok pagi. Melakukan hal yang bagi sebagian orang hanyalah pekerjaan sia-sia saja. Bagi kami ini adalah cara untuk menggugah hati nurani orang-orang yang kurang mempunyai rasa kepedulian terhadap sesama, bahkan yang tidak sama sekali.

Sore ini angin berembus dari selatan ke utara. Menerbangkan debu-debu terlantar di jalanan, di trotoar, di atas genting . Mereka terpontang-panting tak punya pendirian. Miris.

Sebuah buku catatan berisi rencana besok pagi kumasukkan ke dalam ransel. Aku dan dua ratus mahasiswa lainnya akan berdemonstrasi di depan Monumen Satu Maret. Termasuk perempuan yang kini tengah bicara menutup rapat kami sore ini. Seorang mahasiswi yang penah kuhilangkan tugas essay-nya sehingga marah selama hampir satu tahun. Terang saja, itu tugas yang ditulisnya selama 3 hari.

Segela tetek bengek telah kami siapkan untuk besok pagi. Mulai dari atribut sampai air mineral. Air mineral? Tentu saja. Kami tak ingin mati sebelum perang. Ada model demonstrasi dengan cara mogok makan atau pun mogok yang lainnya. Demonstrasi besok bukanlah menuntut kenaikan gaji.

Aku masih terus memikirkan ucapannya kemarin. Ia akan ikut berangkat ke Gaza bersama relawan lainnya. Ada sedikit rasa takut dalam diriku, situasi di Gaza belum tenang. Ia seorang perempuan.

Selama aku mengenalnya ia memang tidak bisa untuk tak peduli terhadap ketidakadilan. Pernah sewaktu SMA ia mendatangi Kepala Sekolah karena nilai ulangan Fisikanya dipotong oleh gurunya. Ia terlalu sering protes kepada guru yang hampir selalu datang terlambat ke kelas. Sang guru marah. Nilai ulangannya dipotong.

Zahra tetaplah seorang gadis biasa. Kadang ia bahkan bisa menjadi sangat feminin. Bisa juga sebaliknya bila sedang marah.

PAGI jam 7 kami sudah siap di depan monumen. Zahra di belakangku. Ia adalah teman yang baik. Mungkin hanya perasaanku, tapi akhir-akhir ini ia terlihat lebih perhatian. Ah, apa-apaan aku ini.

Semua sudah siap. Megaphone dinyalakan. Aku mulai orasi. Kutujukan kepada semua yang peduli terhadap Palestina. Yang mengecem tindakan sewenang-wenang Israel. Hari ini kami berdiri disini untuk satu. Untuk keadilan. Untuk Palestina.

Pelancong di Malioboro berdatangan kemari. Zahra mengambil alih orasi. Ia terlihat sexy dengan teriakannya itu.
Menjelang tengah hari kami putuskan menyudahi demonstrasi hari ini. Matahari menyengat. Orang-orang membubarkan diri. Tapi kami masih di depan monumen. Panas. Terik.

Zahra mengambilkan air mineral buatku. Besok aku berangkat, katanya. Bawa saja kameraku, aku mencoba menjawab dengan jawaban seperti tak kehilangan apa-apa. Apa-apaan pula aku ini. Ia bukan kekasihku. Ia bahkan pernah marah padaku.

Esok harinya ia berangkat bersama 20 relawan dari Indonesia. Satu minggu kemudian ada kabar kapal mereka di bombardir tentara Israel.

Hari ini adalah Natal pertama tanpa Zahra.

112 Comments

Add yours →

  1. Wah, ceritanya penuh misteri. Belum terungkap siapakah sosok Az Zahra yang sebenarnya. Malaikat kah atau makhlik lainnya. Penasaran nih.

  2. baca berulang2 masih belum paham Az Zahra itu siapa ya??

  3. Perlu pemahaman extra…. hehehehehehe

  4. ternyata hanya mimpi saja πŸ˜€

  5. Ini mimpi ya?
    Mimpi yang kaya gitu saya juga mau bangeeeet! Jadi pengen juga ketem si Az Zahra.

  6. nah,,sebenernya siapa sih az-zahra itu??

  7. itu az zahra siapa?
    malaikat kecil?
    cewe lo?
    ibu peri?
    ato siapa?

  8. nama ponakanku yg TK tuh Azzahra hehehe..
    btw bagus loh, terusin ya jadi penasaran lanjutannya πŸ˜€

  9. menunggu episode selanjutnya πŸ™‚ saya selalu suka cerita bersambung hihi. yang di Kompas selalu setia saya baca loh πŸ˜€

  10. Aku juga punya tulisan indah tentang Zahra
    Salam kenal

  11. keren! cocok untuk dibukukan.

  12. agak-agak misterius …

  13. aku membayangkab pasti Az zahra itu cantik sekali πŸ˜€

  14. kurang ngerti nih …

  15. waduh bingung saya hahaha. salam kenal saja, tampilan awal blognya bagus ni hihi..

    mari berkunjung ke blogku ya !

  16. to be continued…..tak tunggu lanjutannya loh ya…

  17. ini kek pidio klip yang lagu azzahra itu ya rif?

  18. mencoba memahami lah..

  19. wahh merinding.. tunggu episode yang ke 2

  20. Salam Arif.
    Apa khabar? maaf kalau Indah baru sempat berkunjung. Banyak tugas yang harus Indah selesaikan sebelum raya.
    Indah berkunjung untuk mengucapkan Selamat Hari Raya.
    maaf zahir dan bathin. minal aidin wal faizin

    Semoga berbahagia di hari lebaran bersama keluarga.
    Salam indahnya Syawal dari Indahkasihku. πŸ˜€

  21. ngehilangin tugas essay? saya juga bakal marah sih πŸ˜€

  22. Assalamualaikum..

    Kamay dan keluarga mengucapkan met idul fitri 1431 H
    Minal Aidzin Wal Faidzin..
    Mohon maaf lahir batin..
    maaf jika ada salah baik tulisan, kata maupun perbuatan..
    makasih πŸ™‚

    salam slalu kamay πŸ™‚

  23. cuma mau ngucapin selamat idul fitri…..
    mohon maaf lahir batin…..

  24. taqabalallahhu minna wa minkum..

    semoga kita dipertemukam kembali dg ramadhan 1432 H
    amin ..

  25. sosok imajinasinya seru yah? hmmm saya jadi ikutan berimajinasi nih :p

  26. imajinasi yang rapih, saya mau berimajinasi yang begini mas πŸ™ saya hobi loh berimajinasi πŸ˜€

  27. mohon maaf lahir dan bathin dulu deh….. πŸ˜€

  28. apakah zahra sekarang masih marah?
    ayo donk maafan kan udah lebaran πŸ˜€

  29. wah “Zahara” kok gitu….
    memaafkan mungkin yang terbaik buat kita..
    moga aja dendam gag ada dihati kita seperti dendam Zahra

  30. Kalo yang terjadi seperti itu, kemarahan adalah hal yang wajar.
    Tapi, sebaiknya gak sampai berlarut2…
    Bener kata mas JoO, memaafkan adalah pilihan terbaik πŸ™‚

  31. haa.. harus baca zahra#1 dulu ni

  32. ariiiif
    mana azzahra part 3?

  33. Sepertinya Zahra susah ditaklukkan, ya?

  34. seharusnya zahra sudah ngak marah lagi sekarang, kan udah lebaran πŸ˜€

  35. Bro…banyak amat salahnya? tuh mikir sendiri….:(

  36. wah, asyik nih, ada lanjutannya gak? hehe.

  37. sikap zahra slanjut na gmn bro? bkin pnasaran.. good, hhe

  38. mantep jg euy
    πŸ™‚

  39. narasinya mantap!
    salam buat si zahranya saja πŸ˜€

  40. kayanya musti baca za-zahra -1 dulu neh..

  41. semangat om. cinta memang penuh dengan perjuangan…hhahah

  42. Baru pernah mampir kemari, ternyat suguhan disini…
    wow..dasyattttttttt…. ariffffff… saya suka sekali ceritamu ini, keren bro!! ayo cepat LAANJUTKAN…!!! πŸ™‚ πŸ™‚

  43. Santai aja Rif… cewek emang gitu, pura-pura jual mahal, padahal ngarep, hehehe…

    Zahra, ayolah maapin si ganteng inih,, heleh..

    ditunggu part 3 nya rif, semangat bener nih ay bacanya,, πŸ™‚ πŸ™‚

  44. wah kisah Az-zahra berlanjut tho..sampai part berapa nih rencanya sob. Ane tunggu deh kelanjutannya. salam

  45. hey brader salam kenal yaaa πŸ˜€

  46. Dasar Cewek!
    Itu saja deh komentarnya . πŸ˜›

  47. cinta yang satu tetap dihati..

  48. Cerita yang berakhir sedih.
    Tetapi masih ada Zahra yang lainnya?

  49. Lia suka dengan nama zahra

  50. Endingnya… sedih… πŸ™
    akankah ada cerita lanjutannya?? ditunggu ya bro…
    mantabbbb…. *jempol dua*

  51. heumm.. bagus neh ceritanya.. tapi sad ending ya? bikin depresi.. πŸ™
    semoga zahra nya selamat, dateng lagi pake sayap putih setelah sekian lama g da kabar.. hehe.. *apaan sih* ^^

  52. Cerita yang menggambarkan keadaan di Palestina
    Kau pandai juga merangkai fiksi sobat πŸ™‚

  53. πŸ™
    aku sangat kehilangan zahra

  54. Save Palestina, hidupp Zahra

  55. ada fotonya Zahra ngak, dengar dari namanya bagus, cantik

  56. hmm.. sampe zhra 3 masih akan ada kelanjutanya gak nie..??

  57. salut sama Zahra..
    sayang kapalnya di bom, apa mungkin dia selamat…
    moga aja masih ada keajaiban, kasian kamu yang nunggu… heeee…
    kalo orasinya untuk sosial saya dukung deh

  58. salam kenal.. πŸ™‚

  59. Lanjutannya jangan kelamaan ya! Takutnya kaya tulisan suamiku yang saking lamanya sampe lupa alur ceritanya πŸ˜€

    keep on writing!

  60. ijin ngelink blognya yaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

  61. Hai Arif.
    Lama Indah tidak ke sini.
    Baru tenang dari kesibukan.
    Kisahnya bagus, sebuah perjuangan yang memberi inspirasi kepada az-zahra lainnya.

    nama az-zahra itu mengingatkan Indah kepada sahabat purdah Indah yang juga selalu bertekad dalam melakukan sesuatu berhubung syariat.
    Salam Indahkasihku. πŸ˜€

  62. Wah jadi sedih, kapalnya di bom,
    terus selanjutnya gmn si zahra?
    apa tetap selamat?
    Bali Villas Bali Villa Villas in Bali

  63. ditunggu kelanjutannya, masih penasaran.
    gmna nasibnya ya?

  64. Masih ada natal tahun depan. πŸ™‚

Leave a Reply