SEKARANG aku tengah berdiri di padang rumput. Malam-malam sekali aku sengaja keluar untuk menghirup dinginnya udara kegelisahan. Suara jangkrik memberi aksen sebagai imbas dari bisunya malam. Sesekali juga terdengar gonggongan anjing. Mungkin seorang pencuri tengah beraksi atau hanya kelaparan karena sang majikan tak memberi makan sejak siang tadi.

Permukaan rumput yang kuinjak masih basah. Hujan sore menyisakan butiran-butiran kristal pada ujung daun dan rumput liar. Desember tahun ini hampir setiap sore diguyur hujan. Efek dari pemanasan global. Mestinya hujan mengguyur dari bulan Juli.

Ini bukan pertama kalinya aku datang dan bertemu dengnnya. Meski lupa kapan awal mula pertemuan ini, tapi masih jelas terekam dalam kepalaku suasana malam itu.

Ia melintas di langit pekat saat matahari telah lenyap. Ketika itu aku sedang membaringkan tubuhku di atas rumput di bukit yang berada tidak jauh dari tempat tinggalku. Sebuah tempat lapang, tapi tak seluas lapangan sepak bola. Disana ada sebatang pohon rambutan. Bila musim berbuah banyak anak-anak datang untuk memetiknya. Bila musim kemarau tiba, pohon itu lebih terlihat sebagai sebongkah kayu tua kering dengan ranting yang gemeretak ditiup angin.

Sewaktu masih duduk di sekolah dasar aku sering bermain disana bersama teman-teman. Anginnya cukup kencang untuk menerbangkan layangan hasil karya kami. Dibawahnya membentang rumput hijau dan sering ku geletakkan tubuhku disana sekedar menenangkan pikiran dari seribu pertanyaan yang belum kutemu jawabnya.

Pernah beberapa kali kami mendirikan tenda dan tidur disana. Membuat api unggun, membakar singkong dan memakannya bersama. Bagi kami keakraban itulah yang dinamakan pesta, bukan makanannya. Setelah itu bunyi kentut menjadi lebih meriah dari nyanyian jangkrik dan katak.

Mulanya kukira ia adalah benda langit sejenis meteor atau bintang jatuh. Memancarkan cahaya yang terang sekali diikuti ekornya yang juga tak kalah terang. Komet? Mungkin.

Makin lama kuperhatikan cahaya itu makin dekat. Makin terang. Aku beranjak dari tempatku. Cahaya itu melesat cepat sekali. Lebih cepat dari pesawat Sukhoi yang baru dibeli Indonesia dari Rusia. Kabarnya pesawat itu adalah pesawat tercanggih. Ah, pesawat-pesawat tempur itu hanya menyebabkan perang saja.

Tiba-tiba mulai nampak sosok perempuan dari cahaya yang menyilaukan itu. Seluruh tubuhku gemetar. Mungkin ketakutan. Atau penasaran. Rumput-rumput seolah jadi berperakat dan tak mengizinkan kakiku melangkah. Sebentar ia melayang di udara lalu meluncur persis di hadapanku kemudian kembali terbang ke langit. Mataku terbelalak dan pikiranku saat itu hanya tertuju pada satu pertanyaan, makhluk apa ini.
Kejadian itu terus berulang tiap kali aku datang ke padang rumput mengadukan kegelisahan kepada langit. Yang ada di langit. Bukan, tapi yang memiliki langit. Lama-lama aku terbiasa dengan kehadirannya yang tiba-tiba dan pergi semaunya. Kami hanya saling pandang dan tersenyum saat bertemu seperti karib yang sudah lama kenal. Ia dengan segera akan kembali meluncur ke langit.

Malam berikutnya aku menunggunya datang. Mempersiapkan seutas tali dari rumah untuk mengikatnya agar tidak buru-buru kabur. Menjerat makhluk halus? Sinting. Kupegang talinya dan kusembunyikan di balik punggungku. Lalu akan aku jeratkan saat ia berada persis di hadapanku. Tidak bisa. Gerakannya terlalu cepat. Belum sempat aku jerat ia sudah melesat lagi ke atas. Aku penasaran dengan makhluk satu ini. Mungkinkah ia malaikat? Tapi aku bukan nabi. Setahuku tak akan ada lagi nabi setelah orang Arab yang sangat terkenal ke segala punjuru dunia itu. Ataukah ia hantu seperti yang dikisahkan orang-orang; berpakaian putih, rambut panjang? Tapi wajahnya berseri dan ada sepasang sayap di punggungnya. Entahlah. Bukan wajah yang asing.

Lalu tiba-tiba ia kembali lagi di hadapanku. Wangi. Aku kira bukan parfum murahan yang ia pakai. Parfum import pun tak ada yang sewangi ini. Produk surga? Bisa jadi.

Kau tak perlu menjeratku dengan tali itu supaya aku menemanimu, katanya. Ahai, suaranya terdengar lembut dan merdu sekali. Mungkin aku tengah bermimpi, tapi aku merasakan sakit saat kucubit pipiku sendiri.

Namaku Az-zahra. Aku yang melintas di langit dan meluncur persis dihadapanmu saat kau gelisah. Akulah milikmu. Aku bidadarimu. Ungkapnya.

RABAAN matahari terasa hangat menyentuh permukaan kulitku yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Lalu-lintas kendaraan cukup ramai di pagi ini untuk kota sekecil Magelang. Di halte depan gedung kantor pemerintah kota ini hanya ada aku dan seorang perempuan berhidung mancung dengan kacamata bening di pangkal hidungnya. Pakaiannya cukup rapi. Sepatu putih bertuliskan All Star dan kemeja kotak-kotak lebih menonjolkan kesan tomboy daripada feminim. Usai Ujian Nasional kami memang diperbolehkan untuk tidak mengenakan seragam ke sekolah, asal berpakaian rapi.

Aku lihat jam tanganku sudah menunjukkan waktunya para siswa sekolah masuk kelas untuk menerima pelajaran pertama hari ini. Namun bus yang biasa mengantarku ke sekolah belum tiba. Bakal telat lagi sampai sekolah, gerutuku. Beberapa kali aku telat tiba di sekolah lantaran terlalu lama menunggu bus itu. Umurnya mungkin sama dengan Pak Sugeng, guru sejarah kami. Bus setua itu memang seharusnya sudah masuk museum.

Sementara mobil-mobil dinas para pegawai pemerintah mulai memasuki pelataran kantor. Tak ada tegur sapa diantara kami berdua. Entah sudah berapa kali Zahra tak menjawab saat kusapa. Mungkin ia masih marah kepadaku karena tanpa sengaja telah kuhilangkan essay tugas pelajaran Bahasa Indonesia miliknya. Atau mungkin karena tanpa sengaja juga aku telah menumpahkan cat minyak di rambutnya pada saat pelajaran Seni Rupa. Padahal aku telah minta maaf berulang kali. Entahlah, setiap kali aku bertanya apa salahku ia menjawab, pikir saja sendiri.
Bus datang. Kami segera beranjak naik. Kebetulan hanya ada dua kursi yang kosong didekat pintu. Kami duduk bersebelahan. Zahra di dekat jendela dan aku di sebelah kanannya. Sedikit basa-basi aku bertanya kepadanya, melanjutkan kuliah dimana. Mau tahu saja, jawabnya cuek. Ya sudah, ia memang masih marah.

Hari ini aku datang ke sekolah hanya untuk mengambil ijazah, lalu berangkat ke Yogyakarta untuk melengkapi syarat-syarat administrasi kuliahku. Pertanyaanku pada Zahra soal dimana dia akan melanjutkan kuliah itu hanya sekedar agar kami saling bicara, namun percuma. Sebenarnya, aku tahu ia telah diterima di salah satu universitas di Yogyakarta. Ia pernah bercerita ingin melanjutkan kuliah jurusan Antropologi. Mungkin ingin meneruskan perjuangan Pak Sugeng.

Bus berhenti. Kami tiba di depan sekolah. Kami masuk melewati pintu gerbang. Lagi, tanpa tegur sapa.

KAMI memutuskan akan turun ke jalan besok pagi. Melakukan hal yang bagi sebagian orang hanyalah pekerjaan sia-sia saja. Bagi kami ini adalah cara untuk menggugah hati nurani orang-orang yang kurang mempunyai rasa kepedulian terhadap sesama, bahkan yang tidak sama sekali.

Sore ini angin berembus dari selatan ke utara. Menerbangkan debu-debu terlantar di jalanan, di trotoar, di atas genting . Mereka terpontang-panting tak punya pendirian. Miris.

Sebuah buku catatan berisi rencana besok pagi kumasukkan ke dalam ransel. Aku dan dua ratus mahasiswa lainnya akan berdemonstrasi di depan Monumen Satu Maret. Termasuk perempuan yang kini tengah bicara menutup rapat kami sore ini. Seorang mahasiswi yang penah kuhilangkan tugas essay-nya sehingga marah selama hampir satu tahun. Terang saja, itu tugas yang ditulisnya selama 3 hari.

Segela tetek bengek telah kami siapkan untuk besok pagi. Mulai dari atribut sampai air mineral. Air mineral? Tentu saja. Kami tak ingin mati sebelum perang. Ada model demonstrasi dengan cara mogok makan atau pun mogok yang lainnya. Demonstrasi besok bukanlah menuntut kenaikan gaji.

Aku masih terus memikirkan ucapannya kemarin. Ia akan ikut berangkat ke Gaza bersama relawan lainnya. Ada sedikit rasa takut dalam diriku, situasi di Gaza belum tenang. Ia seorang perempuan.

Selama aku mengenalnya ia memang tidak bisa untuk tak peduli terhadap ketidakadilan. Pernah sewaktu SMA ia mendatangi Kepala Sekolah karena nilai ulangan Fisikanya dipotong oleh gurunya. Ia terlalu sering protes kepada guru yang hampir selalu datang terlambat ke kelas. Sang guru marah. Nilai ulangannya dipotong.

Zahra tetaplah seorang gadis biasa. Kadang ia bahkan bisa menjadi sangat feminin. Bisa juga sebaliknya bila sedang marah.

PAGI jam 7 kami sudah siap di depan monumen. Zahra di belakangku. Ia adalah teman yang baik. Mungkin hanya perasaanku, tapi akhir-akhir ini ia terlihat lebih perhatian. Ah, apa-apaan aku ini.

Semua sudah siap. Megaphone dinyalakan. Aku mulai orasi. Kutujukan kepada semua yang peduli terhadap Palestina. Yang mengecem tindakan sewenang-wenang Israel. Hari ini kami berdiri disini untuk satu. Untuk keadilan. Untuk Palestina.

Pelancong di Malioboro berdatangan kemari. Zahra mengambil alih orasi. Ia terlihat sexy dengan teriakannya itu.
Menjelang tengah hari kami putuskan menyudahi demonstrasi hari ini. Matahari menyengat. Orang-orang membubarkan diri. Tapi kami masih di depan monumen. Panas. Terik.

Zahra mengambilkan air mineral buatku. Besok aku berangkat, katanya. Bawa saja kameraku, aku mencoba menjawab dengan jawaban seperti tak kehilangan apa-apa. Apa-apaan pula aku ini. Ia bukan kekasihku. Ia bahkan pernah marah padaku.

Esok harinya ia berangkat bersama 20 relawan dari Indonesia. Satu minggu kemudian ada kabar kapal mereka di bombardir tentara Israel.

Hari ini adalah Natal pertama tanpa Zahra.