Author: Arif (page 2 of 18)

Akar dan Cabang

Akan selalu menjadi hal menarik bagi saya untuk mengetahui posisi kita di antara hal-hal lainya.

Dan menjadi kegelian sendiri bagi saya ketika memikirkan bangsa-bangsa yang saling berperang dan membunuh. Katakan saja Indonesia dan Malaysia. Kau sendiri tahu bagaimana isu kedua negara yang kerap berselisih ini. Masalah batas negara dan budaya bisa menjadi penyulut api pertempuran.

Padahal, secara fisik dan budaya saja kita nyaris serupa. Di antara keduanya membentang selat yang kemudian kita sepakati sebagai batas negara. Hanya karena batas laut itu sehingga kita setuju bahwa kita bangsa yang berbeda? Kamu bahkan mungkin saja berpikir nenek-moyang keduanya berasal dari orang yang sama. Bagaimana mungkin bisa sebegitu kekeuhnya dengan ke-punya-an-ku itu.

Korea Utara dan Korea Selatan. Bahkan dari nama saja bisa kamu simpulkan mereka adalah sama-sama Korea. Saya tidak tahu secara persis permasalahan apa di antara mereka, yang terjadi adalah kedua negara itu juga sempat bersitegang.

Pernah kebayang ngga, kamu berebut sebuah mainan dengan adikmu sendiri. Kamu dan adikmu saling ingin memiliki sesuatu yang kalian perebutkan hingga kalian tega saling menyakiti; memukul, menjitak, menendang.

Begitulah bangsa-bangsa yang saling bertempur itu. Atau setidaknya bangsa yang menjajah bangsa lain. Itu seperti kamu ingin memiliki apa yang adikmu miliki dengan paksa. Kemungkinan yang terjadi adalah adikmu mempertahankan yang ia miliki atau lebih parahnya ia akan melawan.

Dan bisa saja ada sejuta alasan untuk membenarkan tindakan penjajahan mereka terhadap bangsa lain. Wilayah, kekuasan, kejayaan dan kepercayaan terhadap suatu agama bisa jadi menjadi iming-iming yang menggiurkan.

Israel dan Palestina misalnya. Dua negara yang tak kunjung usai berperang.

Memang menjadi suatu kemakluman ketika kita bica soal manusia dan ‘nafsu’nya. Sebagaimana yang kita sadari bahwa ‘nafsu’ ada sepaket dengan lahirnya manusia itu sendiri. Setiap orang memiliki ‘nafsu’? Benar.

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bisa tidaknya kita sebagai manusia mengendalikan ‘nafsu’ itu.

Dari cerita lampau, yang terjadi antara Habil dan Qubil juga karena adanya ‘nafsu’. Salah seorang di antara keduanya memaksakan kehendak terhadap yang lainnya. Imbasnya adalah sebagaimana yang kita tahu, peristiwa pembunuhan manusia pertama di bumi.

Kalau kita tarik garis ke atas

Ismail dan Ishaq, dua orang yang merupakan putra Ibrahim, kelak dari keduanya terbentuk bangsa-bangsa yang besar. Dari keduanya pula kemudian Islam, Yahudi, Kristen dan nama-nama lain, timbul sekat-sekat di antaranya. Ada misunderstanding atau pembelokan pemahaman di sini, saya kira.

Memang, tentang masalah ini saya belum memiliki cukup argumen bila ada di antara kalian yang ingn menyanggah. Setidaknya kita semua tahu bahwa Ibrahim adalah akar dari nabi-nabi yang ada setelahnya.

Well, tidakkah kamu amati bahwa sesungguhnya ketika kamu berebut mainan dengan adikmu hingga adu jotos, ketika suatu bangsa menggempur bangsa lain, ketika sebuah kelompok penganut kepercayaan tertentu menghina yang lain, dari satu akar kita berpangkal.

Lebih jauh lagi, kita sama-sama keturunan Adam!

Kuat tapi lemah

Saya masih kepikiran kejadian di depan Binus Syahdan kemarin petang. Bagaimana manusia dengan mudahnya tersulut emosi hanya karena hal yang sepele. Sejujurnya saya amat kesal dengan pengendara sepeda motor itu. Begitu sok jagoan.

Let me tell the story.

Sebuah taxi tak sengaja membuat sebuah sepeda motor tumbang di sampingnya. Saat itu macet agak parah. Taxi itu nyaris tak dapat bergerak bila sejumlah sepeda motor di sekitar tak menyingkir. Sialnya sepeda motor itu menyenggol bumper belakang taxi yang berimbas pada amarah. Bahkan saya yakin si sopir taxi benar-benar tak ada niat menjatuhkan. Kalau kamu ada di sana waktu itu, mungkin juga akan sangat sebal dengan macetnya. Tapi ia kelewat batas.

Amarah manusiawi pun keluar. Ia hantam kaca jendela mobil berkali-kali memaksa sopir segera keluar. Ia tarik bajunya dan mengepalkan tangan bersiap melayangkan tinju ke muka sopir. Lihatlah, betapa sopir itu amat ketakutan. Seseorang dengan usia pertengahan 40 barangkali. Sedikit beruban dan wajahnya teduh.

Saya jadi kepikir kalimat lama, orang yang kuat bukanlah orang yang mampu menjatuhkan lawan dengan pukulan. Orang yang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya.

Frau

Hal lain yang saya sukai tentang Lani selain suara dan notasi lagu adalah aksen bicaranya yang Jogja banget.

Kok gitu sih

Ketika menemui orang dengan tingkah laku yang menurut kita kok-gitu-sih lantas kita memikirkan tentang diri seseorang itu apa saja sesuka kita tanpa peduli alasan dibalik ke-kok-gitu-sih-annya itu.

Padahal, prasangka kita tentangnya belum tentu sesuai dengan apa yang ia niatkan. Seseorang bisa jadi memiliki alasan kenapa ia berlaku seperti yang kamu lihat secara kok-gitu-sih itu.

Quran Indonesia Project

Kemarin saya browsing Youtube video-video liputan Anggi, seorang kawan semasa SMP dulu, yang kini tengah bekerja di sebuah stasiun televisi swasta nasional sebagai reporter.

Ada hal menarik yang saya dapati dari salah satu video reportasenya.

Quran Indonesia Project, namanya. Sebuah inisiatif anak muda untuk berbagi nilai Qur’an melalui rekaman audio berisi bacaan ayat dengan bahasa Arab, Indonesia dan Inggris yang dapat diunduh gratis menyambut Ramadhan 2015 lalu.

Menariknya lagi, project ini melibatkan sejumlah artis sebagai pengisi audio. Raisa, misalnya.

Saya kira ini langkah yang bagus untuk menyebarkan Qur’an meski hanya satu ayat. Kapanpun dan di manapun ketika memungkinkan, kamu bisa memutar playlist via Soundcloud.

Waktu yang paling favorit menurut saya untuk mendengarkannya adalah menjelang tidur. Kamu mesti coba dan rasakan experience-nya.

Alih Zaman

Masih ingat dengan tulisan yang saya terbitkan beberapa waktu lalu tentang ke-jogja-an Jogja?

Seiring dengan kemajuan zaman selalu ada budaya yang berkembang atau mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi bisa berimbas positif bagi manusia itu sendiri. Pun sebaliknya.

Hartono Mall Kompas.com

Hartono Mall Kompas.com

Hari ini terbit berita di sebuah media online kenamaan nasional yang mengatakan Mall yang diklaim terbesar se-Jateng dan Jogja itu mulai beroperasi. Berdiri pada lahan yang dulunya persawahan, Hartono Mall dengan gagahnya menyambut kaum konsumtif untuk bertamu.

Kebetulan saya sempat tinggal di sekitar area itu. Saya ingat benar hijaunya tanaman padi kala itu.

Saya memang bukan warga Jogja yang telah tinggal berpuluh tahun yang dapat melihat perbedaan alih zaman lebih jelas.

Penghujung tahun 2009 saya mulai tinggal di Jogja dan hingga tulisan ini terbit telah banyak perubahan yang saya saksikan. Terlebih makin menjamurnya bangunan-bangunan bertingkat pusat perbelanjaan itu. Juga ragam hunian semacan kota-kota metropolitan yang kemudian kita menyebutnya sebagai apartemen.

Iya sih semua ada masanya. Kekaisaran Romawi saat ini hanya tinggal reruntuhan bangunan saja. Kerajaan Sulaiman pun entah dimana bekasnya. Piramida dan Spinx hanyalah sebagian kecil yang Firaun tinggal untuk kita pelajari.

Saya jadi kepikir apakah memang setiap peradaban jika telah mencapai budaya tertingginya maka ia tidak dapat meningkatkannya lagi? Lalu yang terjadi adalah kemunduran atau lebih parahnya kehancuran dari peradaban tersebut?

Namun yang tertulis dalam Buku Suci saya, peradaban yang dimusnahkan adalah mereka yang tidak patuh kepada petunjuk yang telah datang kepada mereka.

BTW, saya turut berduka atas meninggalnya Paku Alam IX pada 21 November 2015 lalu.

Ketika mall-mall semakin banyak, tembok-tembok Keraton kian tergerus zaman. Akankah Jogja yang kaya akan tradisi dan budaya hanya akan menjadi kisah pengantar tidur untuk anak-anak kita kelak?

Seleksi Alam

Ketika keadaan memungkinkan, saya bisa dengan mudah mengajak orang yang belum saya kenal untuk ngobrol berbagai hal. Sopir angkot yang sore ini saya tumpangi, misalnya.

Keluh sopir yang saya dengar selain macetnya Jakarta adalah soal jasa ojek online seperti Go-Jek dan GrabBike yang kian banyak. Baginya, kemunculan ojek yang dapat dipesan via aplikasi ponsel pintar itu sedikit-banyak mengurangi jumlah penumpang angkutan kota. Imbasnya adalah penurunan pendapatan para sopir angkot.

Sejujurnya saya tidak tahu seperti apa keadaan sebelum kemunculan ojek online. Apakah memang penumpang angkot lebih ramai atau sama saja dengan hari ini.

Namun satu yang saya dapati adalah banyak pengendara sepeda motor dengan helm atau jaket bertuliskan Go-Jek dan GrabBike di jalanan.

Sementara di sisi lain, fasilitas angkutan umum yang ada bisa dibilang belum optimal. Beberapa kali saya terpaksa turun dari Mikrolet karena alasan yang menurut saya sama sekali tidak pantas diucapkan oleh penyedia jasa. Terlebih jasa transportasi. Ketika itu saya turun lantaran si sopir beralasan ingin mengisi bensin dengan arah yang berbeda dari jalur tujuan saya. Padahal semestinya itu angkutan melewati tempat tinggal saya.

Entah karena di depan tengah macet atau penumpangnya tinggal saya seorang lalu si sopir tidak mau mengantar. Pernah juga saat itu hanya ada dua orang penumpang, saya dan seorang wanita. Setelah saya sampai tujuan dan turun dari angkot, si sopir meminta penumpang wanita itu untuk turun dan berganti angkutan karena si sopir tidak mau mengantar penumpang yang hanya seorang. Loyalitas yang buruk.

In my humble opinion kemunculan ojek online itu sangat membantu bagi warga kota besar yang padat dan macet seperti Jakarta. Ketika moda transportasi yang lebih praktis muncul di sisi lain ada angkutan yang justru memperburuk pelayanan.

Jadi, saya kira keluh sopir sore tadi tidak tepat. Mestinya ia meningkatkan pelayanan agar penumpang tidak kabur dengan Go-Jek atau GrabBike, bukan malah menyalahkan keberadaan mereka.

Dan seleksi alam pun terjadi.

Ketika individu tidak dapat bertahan atau memenangkan kompetisi maka ia akan lenyap. Begitu juga dengan Mikrolet dan angkutan umum lainnya jika tidak meningkatkan fasiltas dan pelayanan. Karena yang berevolusi dan berinovasi yang akan bertahan.

Facebook bukanlah media sosial yang pertama muncul, iPhone bukan ponsel pintar pertama dengan layar sentuh, Google juga bukan mesin pencari yang pertama dibuat oleh manusia. Namun mereka terus berinovasi untuk menjadikan produk mereka lebih baik dan mereka bertahan hingga kini.

Kok kembaliannya permen?

Bukan hal baru sih, barang kali juga ini pernah kamu alami.

Ketika belanja di minimarket swalayan, seringkali uang kembalian tidak sepenuhnya kamu terima sesuai yang tertulis di nota. Misal nominal uang kembalian yang tertulis adalah IDR 1.550 namun uang yang kamu terima bisa saja IDR 1.500 dengan atau tanpa permen.

Bicara soal permen, ada hal menarik yang ingin kuceritakan. Beberapa hari lalu saya belanja di Indomaret. Dengan dalih tak ada persediaan uang receh, si kasir berniat mengganti uang kembalian dengan beberapa permen. Jelas saja saya tolak. Tapi si kasir bersikeras memang tak ada uang receh dan seorang kawannya tengah menukarkan uang di luar.

Baiklah, kupikir dia serius.  Esoknya saya kembali berbelanja di tempat yang sama dan hal yang sama pun terjadi. Tak ada uang receh, katanya. Bukankah semalam kawannya sudah menukarkan uang? Saya minta kembalian uang bukan permen.

Untuk kali kedua dengan terpaksa saya terima permen itu sambil saya berkata kepada si kasir, besok permen-permen ini saya kembalikan.

Saya tidak tahu apakah ini memang skenario ataukah memang mereka kehabisan stok uang receh.

You make a game, let’s play the game.

Pada sore di hari yang sama saya berbelanja kembali di sana. Karena kebetulan Indomaret itu yang paling dekat tempat saya. Sialnya, mereka tetap menawarkan uang kembalian berupa permen.  Mungkin nominalnya tidak terlalu besar yang mereka tidak kembalikan dari setiap pelanggan. Setiap IDR 500 mereka ganti dengan permen. Coba saja hitung berapa kali lipat jika IDR 500 itu dikalikan dengan jumlah orang yang berbelanja.

Cukup 2 kali diberi kembalian permen. Permen-permen yang si kasir berikan kemarin saya kembalikan padanya dan saya minta uang  kembalian saya utuh. Plus harga permen yang saya “jual” kembali kepadanya.

Tidak hanya itu masalah Indomaret jika kita jeli dengan nota belanja yang mereka berikan. Kadang si kasir “lupa” ada diskon pada item yang kita beli.

Seperti yang saya alami beberapa waktu lalu di Indomaret Stasiun Juanda. Tidak banyak sih, ada diskon IDR 500 tapi si kasir tidak memberikan uang kembalian sesuai nota. Setelah si kasir mengecek ulang akhirnya IDR 500 itu saya dapatkan.

Lesson learned. Kita mesti lebih jeli soal gitu-gituan jika tidak ingin dikibuli.

Transportasi Umum

Agak kaget memang dengan kondisi transportasi umum di Jakarta. Ketika di Jogja dan Magelang nyaris tak pernah menggunakan angkutan umum sejak memiliki SIM. Selain karena memang jarang angkutan umum, juga karena menggunakan sepeda motor lebih efisien.

Tapi entah kenapa ketika tiba di Jakarta beberapa minggu lalu, saya interest sekali untuk menggunakan angkutan umum. Ah, mungkin karena baru-baru saja. Bisa jadi. Sejauh ini baik-baik saja, yah memang sih agak sebal dengan macet yang mehhh banget itu.

Untuk jarak 500 meter saja bisa memakan waktu setengah jam saat macet. Ini kenapa waktu di sini menjadi sangat mahal atau menjadi sangat murah? Tapi ya bukan hal baru lagi, macetnya Jakarta sudah tersohor kemana-mana.

Sejauh ini Commuterline menjadi favorit saya setelah Go-Jek.

Saya jadi kepikiran bagaimana jika:
1. Kendaraan pribadi roda 4 dilarang di Jakarta. Mungkin engga sih?
2. Fasilitas angkutan umum dibagusin sebagus-bagusnya.

Duh, tapi itu wacana sudah dari tahun kapan.

Pindah ke Jakarta

Sejak resign dari CloselyCoded bulan Mei lalu, saya kembali mulai menerima project freelance dari beberapa kawan. Mulai dari project PSD to HTML, PSD to WordPress sampai project data input Badan Pusat Statistik (BPS).

Ada yang menarik dari project BPS. Ternyata saya baru sadar bahwa mengerjakan input data yang jumlahnya ribuan itu sangat menjemukan. Dulunya sempat kepikiran, enak ya kerjanya cuma masukin data doang. But percaya deh, setiap pekerjaan itu punya nilai kesulitannya masing-masing. Jadi kalau kamu pikir pekerjaan lain yang kamu kira lebih mudah dari kerjaan kamu, belum tentu juga kamu dapat kerjakan sebagus orang lain yang kerjakan.

Selama 5 bulan itu saya benar-benar full kerja dari rumah. Kecuali yang project dari BPS. Karena alasan keamanan, mereka mengharuskan proses input data dilakukan di kantor. Tidak masalah, kantornya hanya berjarak beberapa meter dari rumah.

Bekeja dari rumah memang banyak enaknya. Saya jadi punya waktu untuk mengantar ibu ke pasar. Mengajari adik sepupu saya mengerjakan PR. Mengikuti rapat Takmir Masjid. Membantu tetangga memasang tabung gas. Dan masih banyak lagi.

Waktu yang fleksibel adalah keuntungan besar jika kamu bekerja dari rumah.

Namun kamu mesti memikirkan dimana tempat pulangmu. Maksud saya, jika kamu bekerja seperti pada umumnya, di kantor atau dimana pun itu selain di rumah, kamu memiliki tempat pulang saat jam kerjamu usai, yaitu rumah. Bekerja secara remote memang asik, tapi pasti ada hal yang mesti dikorbankan.

Misalnya, berkomunikasi face-to-face bisa jadi hal yang amat mahal ketika kamu bekerja secara remote dari rumah. Memang semestinya kamu memiliki lebih banyak waktu untuk menemui orang lain yang kamu ingini, tapi yakin bisa seseru rekan sekantor? Kan ada Skype. Hey, Skype belum mengizinkan kita untuk berjabat tangan.

Well, selagi masih muda dan kuat menerima tantangan serta ada kesempatan.

November ini saya mulai stay di Jakarta untuk beberapa lama. Sebuah platform ecommerce marketplace terbesar di Indonesia memberi peluang kepada saya untuk turut membangun Indonesia lebih baik lewat internet. Semoga visi kita kedepan selalu sama.