Anak Ayam

Image080

Ada sebuah cerita pada anak-anak ayam yang tinggal di kandang belakang rumah. Kira-kira dua minggu yang lalu mereka menetas. Lucu. Tubuh mereka masih kecil dan lemah.

Bahkan ada satu telur yang butuh bantuan untuk menetas, lihat saja pada gambar di bawah ini. Saya yang tadinya berniat bantu anak ayam itu, malah merasa takut kalau ayamnya nanti mati. Ya sudah, saya pasrahkan saja kepada paman saya yang sudah ahli di bidang ini.

Image075

Hari-hari pertama anak ayam yang menetasnya dibantu  itu agak menyedihkan. Kondisinya sangat lemah. Apalagi hari itu selalu hujan tiap sore. Tapi sekarang dia sudah fit, sudah kuat menjalani hari-harinya.

Ini foto induknya yang sedang mengerami anak ayam yang bukan anaknya. Loh kok bisa? Ya bisa saja, anak-anak ayam itu dibeli dari Mbah Joyo, tetangga saya. Ternyata walaupun bukan anaknya, sang induk tetap bersedia menghangatkan tubuh-tubuh mungil itu. Ooohh, so sweet.

Image082

Nah, ini yang sebenarnya anak-anak dari induk yang di atas. Saya sendiri sampai lupa mana yang pernah saya bantu menetas waktu itu.

Image084

Mereka adalah tetasan kloter kedua (seperti rombongan haji saja, pakai istilah kloter). Tetasan yang pertama awalnya ada enam, tapi karena takdir yang mengharuskan umur mereka pendek jadi yang tinggal sekarang ada tiga. Masih teeneger dan sudah tidak lucu lagi. Anak ayam itu lucu sebelum bulu sejatinya tumbuh.

Image083

Yah, lagi-lagi tentang my childhood memory. Mengejar ayam dan mengikat  salah satu kakinya dengan tali lalu diadu balapan. Meskipun sering kena marah, tapi tak jera juga.

2 Comments

Add yours →

  1. mesti ayamu ndri to riip.??

Leave a Reply