Masih ingat dengan tulisan yang saya terbitkan beberapa waktu lalu tentang ke-jogja-an Jogja?

Seiring dengan kemajuan zaman selalu ada budaya yang berkembang atau mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi bisa berimbas positif bagi manusia itu sendiri. Pun sebaliknya.

Hartono Mall Kompas.com

Hartono Mall Kompas.com

Hari ini terbit berita di sebuah media online kenamaan nasional yang mengatakan Mall yang diklaim terbesar se-Jateng dan Jogja itu mulai beroperasi. Berdiri pada lahan yang dulunya persawahan, Hartono Mall dengan gagahnya menyambut kaum konsumtif untuk bertamu.

Kebetulan saya sempat tinggal di sekitar area itu. Saya ingat benar hijaunya tanaman padi kala itu.

Saya memang bukan warga Jogja yang telah tinggal berpuluh tahun yang dapat melihat perbedaan alih zaman lebih jelas.

Penghujung tahun 2009 saya mulai tinggal di Jogja dan hingga tulisan ini terbit telah banyak perubahan yang saya saksikan. Terlebih makin menjamurnya bangunan-bangunan bertingkat pusat perbelanjaan itu. Juga ragam hunian semacan kota-kota metropolitan yang kemudian kita menyebutnya sebagai apartemen.

Iya sih semua ada masanya. Kekaisaran Romawi saat ini hanya tinggal reruntuhan bangunan saja. Kerajaan Sulaiman pun entah dimana bekasnya. Piramida dan Spinx hanyalah sebagian kecil yang Firaun tinggal untuk kita pelajari.

Saya jadi kepikir apakah memang setiap peradaban jika telah mencapai budaya tertingginya maka ia tidak dapat meningkatkannya lagi? Lalu yang terjadi adalah kemunduran atau lebih parahnya kehancuran dari peradaban tersebut?

Namun yang tertulis dalam Buku Suci saya, peradaban yang dimusnahkan adalah mereka yang tidak patuh kepada petunjuk yang telah datang kepada mereka.

BTW, saya turut berduka atas meninggalnya Paku Alam IX pada 21 November 2015 lalu.

Ketika mall-mall semakin banyak, tembok-tembok Keraton kian tergerus zaman. Akankah Jogja yang kaya akan tradisi dan budaya hanya akan menjadi kisah pengantar tidur untuk anak-anak kita kelak?