Berkali-kali berkunjung ke Jakarta tapi baru sekarang kesampaian masuk Monas. Sebuah pencapaian yang amat berharga, bukan? #halah

Sebenarnya bukan karena ingin berkunjung ke Monas kali ini saya ke Jakarta. Sejujurnya keinginan naik kereta api lah yang membuat saya sampai di Jakarta. Dan kebetulan di Jakarta ada kawan yang bersedia mengajak berkeliling.

Monas

Monas

Jam 8 pagi saya berangkat dari Stasiun Tugu menuju Bandung. Saya akan bermalam dulu disana sebelum sore harinya berlanjut ke Jakarta bersama seorang kawan dari Bandung.

Tiba di Bandung sore dan kawan saya langsung mengajak berkeliling Bandung sebentar. Menelusuri jalanan Bandung yang ramai. Padahal bukan akhir pekan namun jalanan sudah seramai itu. Jogja yang saat ini tingkat kemacetannya masih dibawah Bandung saja kadang sudah membuat jengkel. Bagaimana dengan Jakarta? Kau taulah yang kumaksud.

Bandung itu sebuah tata kota yang bagus. Setidaknya itu kesan yang saya lihat saat bekeliling sekitar Jalan Asia Afika, Masjid Agung, Dago dan sekitarnya. Lalu lintas memang cukup padat. Dan lagi jalan satu arah yang diterapkan pada sejumlah jalan bisa membuat sedikit grogi untuk orang yang baru masuk Bandung, seperti saya.

Untuk cuacanya, tidak jauh-jauh beda lah dengan Borobudur. Bisa membuat tidurmu sedikit menggigil jika lupa tak kenakan selimut.

Esok paginya sembari menunggu kawan selesai kerja hari ini, saya berjalan-jalan dulu. Jalan-jalan dalam arti sebenarnya; jalan kaki. Jarak yang saya tempuh hanya dekat-dekat saja sekitar Gedung Sate, Museum Geologi, Museum Pos.

FYI, ternyata Museum Geologi tutup pada hari Jumat. Dan saya sempat sholat Jumat di masjid sebelah timur Museum Geologi. Masjid apa itu namanya saya lupa.

Sore harinya perjalanan berlanjut ke Jakarta. Kali ini tidak naik kereta. Karena perjalanan malam saya memilih naik travel. Setidaknya di luar jendela mobil masih ada pemandangan kelip lampu dibandingkan jendela kereta api yang gelap. Dan untunglah di dalam mobil bisa menyelonjorkan kaki yang sesiangan menuruti jalanan Bandung. 3 jam kemudian sampai di Jakarta. Kami turun di sekitar Binus syahdan. Dan menuju tempat kawan yang tinggal disana.

Hingga menjalang subuh kami ngobrol. Jelas hawa disini sangat panas. Kau tidur telanjang pun tak akan menggigil. Rasa kantuk yang tak tertahan lagi membius kami pelan-pelan hingga jam 9 atau 10 pagi.

Seharian itu kami lakukan apa yang harus kami lakukan. Hingga malam menjelang udara panas Jakarta tak bosan membuat ketiak basah kuyup.

KRL Commuter Line Jabodetabek

KRL Commuter Line Jabodetabek

Setelah urusan selesai, keesokan harinya barulah menjajaki rel-rel kereta commuter. Karena hari minggu jadi KRL tidak terlalu ramai. Entah apa daya tariknya, tapi saya selalu bahagia ketika berada di dalam “belut listrik” ini. Dan kemanapun tujuannya itu hanya pelengkap karena keretalah intinya. #halah

Menjalang malam saya menuju Stasiun Pasar Senen. Saya berniat camp disana karena kereta ke Jogja berangkat jam 6 pagi. Satu waktu kamu perlu menginap di stasiun. Setidaknya untuk cerita kepada anak cucumu kelak.