1Q84 adalah tulisan Haruki Murakami pertama yang saya baca. 3 jilid buku dengan masing-masing tak kurang dari 300 halaman. Ada beberapa versi cetakan buku ini. Tidak hanya sampul yang berbeda dari setiap versinya, isinya pun telah dialihbahasakan ke dalam sejumlah bahasa di dunia.

1Q84 Haruki Murakami

1Q84 Haruki Murakami

Saya termasuk agak terlambat membaca karyanya. Murakami ternyata adalah salah satu penulis yang populer. Memang, sebelum membaca 1Q84-nya saya telah tahu nama itu beberapa tahun sebelumnya. Tapi, baru kali ini punya kesempatan untuk mencicipi sedikit karya dari penulis Jepang ini.

Bagaimana kumendapatkannya.

Satu weekend di penghujung tahun 2014 saya membelinya di salah satu toko buku ternama di Jalan Sudirman, Jogja. Beberapa waktu sebelumnya sempat membaca sedikit buku itu tapi kuurungkan untuk membeli. Gila, tebel banget, pikirku. Saya khawatir tak bisa selesai membacanya. Sementara waktu itu saya hanya punya waktu luang di akhir pekan, itu juga kalau tidak ada acara keluar. Sedangkan membaca novel setengah jalan lalu vakum beberapa waktu setelahnya akan menjadi sedikit merepotkan untuk mengulas bagian sebelumnya. Apa menariknya sih ini buku sampai dibicarakan banyak orang. Rasa penasaran itulah yang akhirnya memaksa saya untuk membelinya. Yah, daripada keburu sold out.

Sugesti bahwa 1Q84 adalah karya penulis populer tidak lantas membuat saya menemukan “klik” pada bagian awal. Terlebih pada bagian dimana Tengo dan Aomame diceritakan tengah duduk di bangku kelas 5 SD. Entah konsentrasi saya yang kurang atau memang agak sulit diikuti.

Ide cerita 1Q84 bagi saya cukup menarik. Penggambaran dunia parallel dengan dua bulan oleh Murakami dilakukan dengan rinci. Hanya saja saya merasa saking rincinya menjadikan alur cerita terasa begitu lambat.

Saya justru mulai menemukan serunya pada bagian tengah cerita. Ketika Aomame berada di tempat persembunyian usai melakukan tugasnya; membunuh Pemimpin. Pemimpin adalah sebutan untuk orang yang memimpin kelompok Sakikage, sebuah kelompok agama yang percaya bahwa Orang Kecil membisikkan wahyu kepada Pemimpin.

Too long; didn’t read jika kuceritkan sejarah Sakigake. Garis besarnya adalah bahwa Fukada Eriko, putri Pemimpin, Aomame dan Tengo saling terhubung dalam cerita ini. Murakami memang piawai menuangkan imajinasinya kedalam buku. Orang Kecil, kepompong udara, Sakikage, dua rembulan diracik oleh Murakami sedemikian rupa.

Jika kamu ingin membaca 1Q84 kusarankan kamu punya waktu luang yang banyak. Alur cerita yang lambat bisa jadi membuatmu sebal lantaran berbanding terbalik dengan rasa penasaranmu yang cepat. Dan akhir cerita yang “loh, gitu doang” mungkin akan sedikit mengganjal.

Tapi tungu. Kemana perginya Fukada Eriko setelah Tengo dan Aomame berhasil kembali ke dunia nyata?